Warga Pamekasan Mengeluh Masuk Desil Tinggi, BPS Ungkap Penentu DTSEN Tak Hanya Pendapatan

52 menit yang lalu 1

Pengendara melintas di depan Kantor BPS Pamekasan. (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA)

PAMEKASAN || KLIKMADURA – Sejumlah penduduk Pamekasan mengeluhkan info tingkat kesejahteraan mereka dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Pasalnya, desil nan tercantum dinilai tidak sesuai dengan kondisi ekonomi dan pendapatan nan sebenarnya.

Salah satunya dialami Lail, penduduk Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan. Dia mengaku terkejut setelah mengetahui dirinya tercatat berada di desil 10.

Menurutnya, posisi tersebut tidak sesuai dengan kondisi ekonomi nan dialaminya saat ini. Perubahan tampilan sistem juga membikin info nan dapat dilihat sekarang hanya menunjukkan kategori desil 1 hingga 10.

“Tentu saya sangat kecewa lantaran moro-moro sudah di desil 10. Ini tidak sesuai dengan kebenaran nan sebenarnya,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan David, penduduk Kelurahan Bugih, Kecamatan Pamekasan. Sebelumnya, dia sempat melakukan pengecekan dan mendapati dirinya berada pada desil 9.

Namun, saat kembali melakukan pengecekan, info tersebut berubah menjadi rentang desil 6–9. Kondisi itu membikin dia mempertanyakan tingkat kecermatan info nan digunakan dalam menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat.

“Saya tidak mengerti gimana kecermatan datanya, kok bisa saya ada di desil 9, dengan pendapatan nan hanya UMK,” ungkapnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Pamekasan Parsad Barkah Pamungkas menjelaskan, perubahan info desil nan belakangan ramai diperbincangkan masyarakat tidak berangkaian dengan penyelenggaraan Sensus Ekonomi.

Sebab, pemutakhiran info desil dilakukan secara berkala, sementara proses Sensus Ekonomi hingga saat ini tetap berlangsung.

Menurut Parsad, desil merupakan ukuran relatif nan membagi family ke dalam 10 golongan berasas tingkat kesejahteraan. Penentuannya tidak semata-mata merujuk pada besaran pendapatan nan diterima.

Terdapat 39 parameter nan digunakan untuk menentukan posisi sebuah family dalam golongan desil. Di antaranya kondisi rumah, kepemilikan aset, hingga pengeluaran listrik.

Pemutakhiran desil dilakukan setiap tiga bulan dengan memanfaatkan beragam sumber data. Karena sifatnya relatif, posisi suatu family dapat berubah meskipun kondisi ekonominya tidak mengalami perubahan secara signifikan.

“Misalnya, posisinya tetap, tetapi orang di sekelilingnya bertambah miskin. Jadi dia seolah-olah naik,” terangnya.

Parsad menyebut, info nan digunakan saat ini berasal dari Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), serta P3KE. Namun, sebagian besar pedoman info tersebut tetap berasal dari pendataan tahun 2022 dan pembaruannya dinilai tetap minim.

Karena itu, perubahan posisi desil bisa dipengaruhi oleh proses pembaruan maupun keterhubungan info dari beragam sumber.

“Karena itu, perubahan posisi desil bisa dipengaruhi oleh pembaruan maupun keterhubungan info dari beragam sumber,” tegasnya.

Dia kembali menegaskan, Sensus Ekonomi nan saat ini sedang berjalan tidak mempunyai kaitan dengan perubahan desil masyarakat. Kesamaan waktu penyelenggaraan membikin sebagian masyarakat mengira keduanya saling berhubungan.

“Kalau untuk sensus ini belum, tidak ada kaitannya, lantaran sensus tetap berjalan,” pungkasnya. (enk/nda)

Selengkapnya