KABAR MADURA | Di tengah keterbatasan modal dan sarana usaha, semangat untuk berdikari secara ekonomi terus tumbuh di kalangan personil Great Widow Community (GWC) di Sumenep. Komunitas nan menghimpun sekitar 200 wanita dari beragam kecamatan ini mempunyai potensi besar untuk berkembang menjadi kekuatan ekonomi berbasis komunitas, khususnya melalui upaya kuliner olahan lokal dan minuman sederhana.
Sebagian personil GWC telah menjalankan upaya mikro dari rumah untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Sekitar 70% personil diketahui menjalankan upaya kuliner olahan lokal dan minuman sederhana dengan kapabilitas produksi rata-rata 10-30 porsi per hari. Namun, potensi tersebut tetap menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan sarana produksi, kualitas produk nan belum seragam, pemasaran nan tetap terbatas, hingga belum kuatnya identitas produk.
Kondisi tersebut menjadi dasar penyelenggaraan Program Pengabdian kepada Masyarakat oleh tim Universitas KH. Bahaudin Mudhary Madura. Program ini diarahkan untuk memperkuat kapabilitas upaya personil Great Widow Community melalui pendekatan nan terintegrasi, mulai dari produksi, pengembangan produk, branding, hingga pemasaran.
Memperkuat Produksi dari Hulu
Salah satu tantangan utama nan dihadapi personil adalah keterbatasan sarana produksi. Sekitar 85% personil tetap mengandalkan peralatan rumah tangga sederhana tanpa support sarana upaya standar, seperti rombong maupun peralatan produksi khusus. Kondisi tersebut membikin peningkatan skala produksi dan konsistensi kualitas produk tetap menghadapi beragam keterbatasan.
Melalui program ini, penguatan dilakukan dengan menghadirkan sarana upaya berbareng berupa rombong dan peralatan produksi kuliner. Rombong tidak hanya dirancang sebagai tempat berjualan, tetapi juga sebagai sarana untuk mendukung aktivitas produksi, display produk, pelayanan konsumen, sekaligus media promosi komunitas.
Pendampingan juga diberikan untuk meningkatkan pemahaman personil mengenai kebersihan, keamanan pangan, mutu produk, pengelolaan bahan baku, serta manajemen produksi sederhana. Dengan demikian, peningkatan kapabilitas upaya tidak hanya bertumpu pada tersedianya peralatan, tetapi juga pada keahlian personil dalam menggunakan dan mengelola sarana tersebut secara tepat.
Lebih jauh, personil didorong untuk mulai mengembangkan produksi kolektif berbasis komunitas. Berbagai produk nan selama ini dibuat secara perseorangan diarahkan untuk dipetakan dan dikembangkan menjadi produk unggulan dengan kualitas dan karakter nan lebih konsisten. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan efisiensi dalam penggunaan bahan baku sekaligus memperkuat posisi GWC sebagai golongan upaya berbasis komunitas.
Saat Produk Lokal Mulai “Naik Kelas”
Penguatan upaya tidak berakhir pada proses produksi. Tantangan berikutnya adalah gimana produk nan dihasilkan bisa menarik perhatian konsumen dan mempunyai daya saing di pasar.
Sebelumnya, sekitar 85% personil tetap memasarkan produk di lingkungan sekitar, sementara sekitar 70% produk belum mempunyai identitas merek. Kemasan dan label juga belum sepenuhnya mendukung tampilan produk sebagai peralatan nan siap bersaing di pasar nan lebih luas.
Karena itu, program pengabdian memberikan perhatian unik pada aspek branding dan kemasan. Great Widow Community didorong untuk mempunyai identitas dan merek kolektif nan dapat merepresentasikan produk komunitas.
Penggunaan merek berbareng diharapkan tidak hanya memberikan identitas visual, tetapi juga membangun gambaran bahwa produk tersebut merupakan bagian dari upaya organisasi nan mempunyai nilai sosial sekaligus ekonomi.
Perbaikan bungkusan dan pelabelan juga menjadi bagian krusial dalam proses tersebut. Produk diarahkan agar tampil lebih menarik, informatif, higienis, dan layak jual. Dengan bungkusan nan lebih baik, produk lokal tidak hanya mempunyai nilai guna, tetapi juga memperoleh nilai tambah dari sisi penampilan dan daya tarik konsumen.
Memperluas Pasar melalui Digital
Perubahan pola pemasaran menjadi bagian krusial dalam proses “naik kelas”. Selama ini, pemasaran personil tetap banyak dilakukan secara konvensional melalui sistem pre-order di lingkungan sekitar dan penjualan secara insidental pada aktivitas tertentu.
Melalui aktivitas pendampingan, personil diperkenalkan pada pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran digital. Media sosial diarahkan untuk memperkenalkan produk, membangun komunikasi dengan konsumen, serta memperluas jangkauan pemasaran di luar lingkungan tempat tinggal anggota.
Selain itu, personil juga memperoleh penguatan mengenai penetapan nilai jual berasas biaya produksi dan keuntungan. Dengan pemahaman tersebut, penentuan nilai diharapkan tidak lagi semata-mata berasas perkiraan, tetapi mempertimbangkan biaya nan dikeluarkan dan untung nan mau diperoleh.
Strategi pemasaran kemudian dikembangkan melalui kombinasi pemasaran langsung, pemanfaatan rombong, keikutsertaan dalam aktivitas alias event daerah, serta pemasaran digital. Pendekatan ini diharapkan bisa menciptakan saluran pemasaran nan lebih beragam sehingga upaya tidak berjuntai pada satu pola penjualan saja.
Bukan Sekadar Pelatihan
Salah satu kekuatan program ini terletak pada pendekatannya nan menempatkan personil GWC sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima bantuan. Mitra dilibatkan sejak proses identifikasi kebutuhan, pemilihan produk unggulan, penggunaan sarana usaha, penerapan standar produksi, pengelolaan merek dan kemasan, hingga pemasaran dan evaluasi.
Dengan pendekatan tersebut, tujuan program bukan sekadar menghasilkan rombong, bungkusan baru, alias akun media sosial. Lebih dari itu, program diarahkan untuk membangun keahlian personil dalam mengelola upaya secara lebih terorganisasi, mandiri, dan berkelanjutan.
Program ini menargetkan sejumlah perubahan nan terukur, antara lain pemanfaatan sarana upaya berbareng minimal 80%, peningkatan jumlah dan kontinuitas produksi minimal 75%, penerapan standar mutu dan kebersihan minimal 75%, penggunaan merek kolektif minimal 80%, penggunaan bungkusan layak jual minimal 75%, serta peningkatan jangkauan dan volume penjualan minimal 70%.
Dari Individu Menuju Kekuatan Komunitas
Pada akhirnya, “naik kelas” nan mau dibangun bukan semata-mata tentang produk nan terlihat lebih menarik alias pemasaran nan semakin luas. Lebih dari itu, program ini diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi melalui kekuatan komunitas.
Solidaritas antaranggota dan tingginya partisipasi dalam aktivitas berbareng menjadi modal sosial nan penting. Sekitar 80% personil tercatat aktif dalam aktivitas komunitas, menunjukkan adanya fondasi sosial nan cukup kuat untuk mengembangkan upaya secara bersama.
Melalui penguatan produksi, branding, dan pemasaran, Great Widow Community diharapkan tidak lagi hanya dipandang sebagai organisasi sosial, tetapi juga berkembang menjadi organisasi nan mempunyai kekuatan ekonomi produktif.
Naik kelas berbareng berfaedah membangun upaya bersama, memperkuat produk lokal, memperluas pasar, dan pada akhirnya membuka jalan menuju kemandirian ekonomi nan lebih berkelanjutan.
—
Program Pengabdian kepada Masyarakat nan berjudul:
Pendampingan Kemandirian Ekonomi Janda melalui Penguatan Literasi Keuangan dan Kapasitas Usaha Produktif Berbasis Potensi Lokal di Kabupaten Sumenep
Merupakan program Hibah BIMA, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tim Pelaksana:
Ketua: Dr. Ach. Zuhri, M.E.
Anggota 1: Nurul Hidayat, M.M.
Anggota 2: Yuni Putri Utami, M.Pd.
Institusi: Universitas KH. Bahaudin Mudhary Madura
Tahun Pelaksanaan: 2026
Mitra: Great Widow Community
(*)

23 jam yang lalu
11








English (US) ·
Indonesian (ID) ·