Tradisi Maulid Nabi di Madura Apakah Masih Akan Tetap Kuat di Generasi Muda?

59 menit yang lalu 2

Suasana seremoni Maulid Nabi Muhammad SAW di Bangkalan. (KLIKMADURA)

Oleh: Arsilia Cahyani Hidayat, Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura.

****

SETIAP seremoni Maulid Nabi Muhammad SAW. Suasana di Madura biasanya bakal terasa berbeda. Banyak orang orang nan mulai menggelar aktivitas maulid nabi di rumahnya dengan mengundang para tetangga. Dan di setiap masjid punya langkah mereka tersendiri gimana mereka merayakannya.

Akan ada orang nan membawa jajanan, buah buahan, sampai bingkisan untuk diberikan kepada orang nan datang di perayaan. Bagi masyarakat Madura, Maulid Nabi ini bukan hanya sekedar seremoni keagamaan tetapi juga sudah menjadi bagian dari tradisi dan budaya nan sudah dilakukan secara turun-temurun.

Tapi, di era sekarang muncul pertanyaan : apakah tradisi Maulid Nabi tetap bakal tetap kuat di kalangan generasi muda?

menurut saya, jawabannya tetap iya. Tetapi untuk bentuknya mungkin bakal terus berubah seiring dengan perkembangan zaman. Generasi sekarang ini adalah generasi nan hidup di tengah perkembangan teknologi dan media sosial nan sangat cepat.

Kita lebih sering memandang tren terbaru di tiktok, Instagram, alias platform lainnya dibandingkan dengan mengikuti tradisi nan sudah ada sejak dahulu. Bahkan tidak sedikit anak anak muda nan lebih tertarik dengan hal-hal nan viral daripada aktivitas tradisional nan ada di sekitar lingkungan mereka.

Namun, bukan berfaedah anak muda sudah meninggalkan tradisi Maulid Nabi. Justru jika diperhatikan, tetap ada banyak anak muda nan sampai saat ini ikut merayakan seremoni Maulid Nabi. Mereka datang ke masjid, ikut membawa makanan, ada nan menjadi tim hadrah, apalagi ada juga nan mengabdikan momen tersebut lewat media sosial mereka.

Media sosial bisa menjadi salah satu jembatan alias langkah agar tradisi ini tetap bakal bisa dikenal oleh generasi muda. Misalnya, aktivitas Maulid Nabi bisa dikemas dengan langkah nan lebih menarik tanpa menghilangkan nilai nilai utamanya.

Anak muda bisa membikin konten tentang tradisi Maulid Nabi di daerahnya, menjelaskan maknanya, alias sekedar membagikan video suasana perayaannya. dengan begitu, tradisi nan awalnya hanya di ketahui oleh penduduk Madura saja, bisa dikenal oleh masyarakat nan lebih luas.

Yang perlu untuk diperhatikan adalah jangan sampai Maulid Nabi ini hanya dikenal sebagai aktivitas nan hanya duduk saja, dan pulang membawa bingkisan. Di kembali ramainya dan beragam acara, ada nilai kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW nan sebenarnya jauh lebih penting.

Menurutku, tradisi bakal tetap memperkuat jika generasi muda merasa bahwa tradisi tersebut tetap mempunyai makna bagi mereka. Tidak kudu dilakukan sama persis seperti generasi generasi sebelumnya. Selama nilai dan maknanya tetap dijaga, perubahan justru bisa membikin tradisi menjadi lebih dekat dengan anak muda era sekarang.

Jadi, kesimpulannya apakah tradisi Maulid Nabi tetap bakal tetap kuat di generasi muda? Saya rasa tetap bisa, apalagi sangat mungkin. Kuncinya adalah bukan memaksa anak muda untuk terus melakukan tradisi dengan langkah nan lama, tetapi dengan memberikan ruang bagi mereka untuk ikut melestarikannya dengan langkah mereka sendiri.

Karena jika generasi muda ikut merasa memiliki, tradisi bukan hanya bertahan, tetapi juga terus bisa hidup dan berkembang di masa depan. (*)

Selengkapnya