Tong-tong

1 jam yang lalu 2

Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura

Anda pasti tahu bunyi kentongan. Dulu bunyi itu hanya terdengar saat bulan puasa. Untuk membangunkan orang sahur. Atau saat ronda malam menjaga keamanan kampung.

Sederhana sekali. Alatnya hanya sebatang bambu betung alias kayu nan dilubangi tengahnya sekitar lima sentimeter. Awalnya malah hanya disebut Tong. Hanya punya tiga nada: tinggi, sedang, dan tengah.

Di tangan orang Sumenep, urusan pukul-memukul kayu ini tidak berakhir di pos ronda alias kemeriahan saat membangunkan orang nan bakal makan sahur. Kentongan itu menjelma menjadi raksasa budaya. Namanya: Tong-tong.

Kesenian ini sekarang apalagi sudah resmi menyandang status Warisan Budaya Tak Benda sejak 2021. Konon, akarnya sudah ada sejak era masyarakat pra-Hindu di wilayah Batuputih dan Ambuten.

Beberapa pekan lalu, wajah paling megah dari tradisi itu kembali tumpah ruah di jalanan. Lewat Festival Musik Tong-Tong se-Madura 2026.

Jangan bayangkan ini sekadar barisan pemuda membawa kentongan bambu sembari melangkah kaki. Sama sekali bukan.

kentongan itu sudah berpadu dengan kendang, gambang, saron, kenong, hingga deretan tong drum besar nan ditabuh bertalu-talu. Suaranya menggelegar. Menggetarkan telinga dan dada penonton nan memadati letak di pinggir jalan. Sambil menabuh, para pemain menyanyi koor membawakan lagu-lagu Madura seperti Olle Olang dan Pajjar Lagghu, alias lagu lain.

Yang lebih gempar lagi adalah panggungnya. Seluruh perangkat musik dan penabuhnya naik ke atas kereta hias raksasa.

Kereta itu bukan kereta biasa. Dihias penuh ukiran rumit nan menyerupai makhluk legenda, mulai dari naga hingga kuda terbang. kereta-kereta itu menyala terang oleh ribuan lampu hias. Berjalan perlahan membelah kota. Persis konser orkestra melangkah nan dibalut pameran seni rupa.

Tak heran jika pemerintah pusat sampai kepincut. Bukan hanya sekali. Tahun 2026 ini adalah kali kedua Festival Musik Tong-Tong Sumenep sukses menembus almanak elit Karisma Event Nusantara (KEN) nan telah melangkah selama enam tahun.

Konsistensi Sumenep dalam merawat tradisi memang patut diacungi jempol. Panggung budaya semacam ini bukan lagi sekadar tontonan penduduk lokal. Ia sudah naik kelas menjadi ruang ekspresi seniman sekaligus daya tarik wisata dunia. Bahkan ikut memikul angan besar dalam mendukung sasaran 17,6 juta kunjungan visitor mancanegara ke Indonesia.

Bagi masyarakat Sumenep dan Madura, Tong-Tong memang bukan sekadar intermezo malam minggu. Itu adalah jati diri. Kebanggaan berbareng nan terus dijaga lintas generasi.

Lebih dari itu, budaya nan dahsyat memang kudu bisa menghidupi warganya. Ketika ribuan penonton memadati jalanan kota, roda ekonomi langsung berputar kencang. Lapak-lapak UMKM lokal laku manis. Pelaku ekonomi imajinatif ikut kecipratan berkah. Pariwisata nan berkepanjangan bukan lagi sekadar teori di atas kertas, tapi betul-betul terasa di kantong warga.

Target berikutnya pun sudah jelas: tahun 2027 nanti, pagelaran kebanggaan Madura ini kudu kembali masuk almanak Karisma Event Nusantara. Agar kemandang budayanya makin kuat dan makin luas menjangkau dunia.

Dari sepotong bambu pengingat sahur, sekarang menjadi magnet wisata kelas nasional. Sumenep telah membuktikan satu perihal penting: tradisi lama tidak bakal pernah mati, asal diberi panggung untuk terus berkreasi.

Tong, tong, tong! (*)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0