Tidak Semua Orang Takut “Hantu”

1 jam yang lalu 3

Tidak Semua Orang Takut “Hantu”

Oleh: Sulaisi Abdurrazaq
_______________________________________

OPINI – RAJA HANTU itu senior, rekan sejawat, sekaligus mentor. Saya tidak pernah takut, lantaran dia sebenarnya manusia, meski mau terkesan hantu.

Dalam menjalankan tugas profesi, termasuk di ruang digital, saya tidak pernah menggunakan akun hantu. Karena saya berani mempertanggungjawabkan pendapat saya, tanpa muter-muter.

Kali ini, Raja Hantu tampak emosional, pukulannya tidak fokus, padahal biasanya tangguh. Saya memandang dia lemah. Olahan bahasanya campur-aduk, antara hukum, emosi, iri dan kesal.

Dalam kasus penggelapan kapal milik almarhum Sulaiman, Raja Hantu tampak maksa agar saya, sebagai Penasehat Hukum Sayyidah, mengikuti reasioning hukumnya.

Hantu menilai pendapat saya keliru dalam merumuskan rumor hukum. Saya tidak mau, lantaran menurut saya Raja Hantu menyusun logika “sesat”, berupaya “menghalalkan” mahir waris lainnya menjual kekayaan warisan tanpa persetujuan seluruh mahir waris.

Saya tetap yakin, perbuatan nan demikian itu penggelapan. Seharusnya Hantu menerima perbedaan. Jangan emosi dan ngawur. Sellow bro!.

Seperti nan kerabat lihat. Hantu memaksakan diri, apalagi dengan teknik propaganda. Cara itu tidak mempan bagi saya, lantaran itu pengetahuan nan saya serap dari dirinya sejak lama. Saya amalkan.

Dalam siaran persnya, Raja Hantu menyikapi kerja investigasi nan telah profesional, tanggap dan cepat, seolah langkah ahli Polresta Sumenep itu kesalahan.

Hantu apalagi menganalisa kecepatan interogator itu lantaran saya pengaruhi melalui ancaman opini dan unjuk rasa serta adanya pengaruh tokoh FMM. Ha ha…

Jujur saja saya ngakak. Kok jadi cemen banget Raja Hantu. Kayak anak kecil. Apa lantaran aspek usia? Saya itu baru terima kuasa ketika perkara sudah naik sidik.

Siaran pers hantu jadi ambyar. Seharusnya edukatif, malah lebih terlihat emosional dan penuh ancaman.

Raja Hantu kudu sadar bahwa tidak semua orang takut “hantu”, banyak dari audiens justru menilai “hantu” itu intermezo di layar digital.

Untuk apa hantu menarik banyak orang dalam kasus penggelapan kapal. Dia menarik Mario dan FMM. Apa korelasinya? Ngawur lagi ini.

Saya apalagi heran, ada dua akun TikTok hantu nan berupaya menguatkan pendapat-pendapat hantu dan men-down-grade saya selaku penasehat norma Sayyidah.

Akhirnya timbul tanya. Apakah ada peran personil DPRD Sumenep berjulukan Badrul Aini dalam ternak akun hantu nan menyudutkan interogator itu? Apa kaitannya dengan FMM dan kasus penggelapan kapal? Entahlah!

Untuk kepentingan pembelaan, melalui momen ini, saya mau sampaikan penjelasan pengguna saya sebagai berikut:

“Assalamualaikum pak lawyer”

Sedikit info sekalian minta tolong untuk dibantu penjelasan ke media agar publik mengerti dan mengetahui aslinya seperti apa.

1. Laporan penggelapan ke Polresta terhadap H. Abd. Kadir murni dari hati saya (Sayyidah), bukan disuruh suami saya. Dari awal peristiwa itu saya mau melaporkan tapi suami saya tidak mengizinkan dan suami saya bilang agar mencari solusi kekeluargaan alias musyawarah.

2. Saya bukan meninggalkan rumah alias meninggalkan hutang, tetapi saya betul-betul diusir dari rumah dan dikunci pintu berbareng anak saya (tidak bisa masuk rumah) sehingga akhirnya saya mendobrak rumah pintu belakang untuk mengambil baju ganti.

3. Saya tidak diizinkan kembali ke Kangean oleh ipar saya nan berjulukan H. Saina (istri H. Abd Kadir) dengan argumen lantaran takut bentrok dengan M*km*ng.

4. H. Saina datang ke rumah saya berbareng ponaannya berjulukan Arik Cahyadi untuk mengantarkan baju-baju saya (Sayyidah) nan ada di Kangean, itupun hanya separuh dari seluruh busana saya.

5. Begitu saya pulang berbareng anak saya, Kevin Sulaiman, mobil Mobilio tahun 2020 saya parkir/titipkan dekat pelabuhan Batuguluk, di rumah Daeng, namun tiba-tiba sorenya saya mendengar kabar, mobil saya dirampas oleh M*km*ang di rumah Daeng, lampau diover kredit/dijual ke orang Kalianget.

KESIMPULAN:

Apa nan mereka beritakan mengenai pribadi saya dan Suami saya (Mario) itu murni tidak betul dan itu tuduhan besar, lantaran selama ini kami selalu tak bersuara dan tidak ada solusi/jalan keluar dari awal almarhum meninggal.

Demikian pak lawyer minta tolong untuk di penjelasan di media. Terima Kasih Pak.

Wassalamu’alaikum.

Sayyidah.

Rekan-rekan sekalian. Bukankah tidak mudah menjadi Sayyidah? Masih banyak wanita dan anak lain nan mengalami “penderitaan” serupa.

Meski begitu, namanya juga hantu, tetap saja tidak ada empati!

Penulis adalah Penasehat Hukum Sayyidah.

Penulis : Sulaisi Abdurrazaq

Editor : Wahyu

Follow WA Channel limadetik.com untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari Follow

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0