Tempo Berjudi di Madura
Oleh: Fauzi As
________________________________
CATATAN – Ketika Nasib Petani Dijadikan Meja Taruhan Tempo adalah media besar. Namanya panjang, reputasinya dibangun selama puluhan tahun, dan salah satu kekuatan nan selalu dilekatkan kepadanya adalah keberanian melakukan investigasi.
Karena itu, ketika Tempo berbincang tentang Madura, saya tidak mau sekadar bertanya: siapa nan diberitakan?
Saya justru mau bertanya lebih jauh:
Siapa nan tidak diberitakan?
Hari ini 12 September 2026, Tempo kembali mempublikasikan materi nan disebut sebagai hasil investigasi mengenai rokok terlarangan dan perdagangan pita cukai. Sebuah rumor nan tentu penting. Saya pun tidak pernah membenarkan rokok ilegal. Saya tidak membenarkan pita cukai palsu. Negara berkuasa menegakkan norma dan industri nan bermain di luar patokan memang kudu ditindak.
Tetapi jurnalistik tidak berakhir pada pertanyaan siapa nan salah?
Jurnalistik juga kudu berani bertanya
Mengapa persoalan itu terjadi?
Siapa nan mendapatkan untung terbesar?
Siapa nan menanggung kerugiannya?
Dan siapa nan selama ini luput dari sorotan?
Di titik inilah saya merasa perlu membujuk Tempo bercermin.
Ketika gudang-gudang besar mengurangi pembelian tembakau, ketika petani mulai resah lantaran hasil panennya tidak terserap maksimal, ketika nilai tembakau berhadapan dengan sistem pasar nan tidak selalu berpihak kepada petani, kenapa kamera investigasi justru terasa lebih tertarik membidik pengusaha lokal?
H. Her dan H. Mukmin adalah dua nama nan kemudian ikut menjadi sorotan.
Sekali lagi, saya tidak sedang mengatakan bahwa seseorang kudu kebal terhadap pemeriksaan alias kritik hanya lantaran dia pengusaha lokal.
Tidak.
Kalau ada pelanggaran hukum, silakan diperiksa. Kalau ada bukti, silakan dibuka. Kalau ada tindak pidana, silakan diproses sesuai hukum.
Tetapi ada satu prinsip nan mestinya juga bertindak dalam kerja jurnalistik:
Jangan membikin satu sisi terlihat sebagai seluruh wajah persoalan.
Madura bukan hanya penyimpanan rokok.
Madura bukan hanya pengusaha tembakau.
Madura bukan hanya rokok polos.
Madura adalah jutaan manusia nan hidup dari tanah, laut, tembakau, garam, perdagangan, pesantren, UMKM dan beragam upaya mini nan tumbuh dengan susah payah.
Ketika industri lokal sedang berupaya bertahan, lampau pemberitaan investigasi datang dengan narasi nan berpotensi membikin publik memandang pengusaha lokal sebagai bagian utama dari problem, pertanyaan nan wajar kemudian muncul:
Apakah investigasi sudah memandang seluruh rantai persoalannya?
Atau jangan-jangan kamera hanya diarahkan kepada meja nan paling mudah difoto?
Mari kita bicara lebih serius tentang Madura.
Kalau kemiskinan Madura memang menjadi persoalan struktural, kenapa investigasi besar tidak diarahkan untuk membedah struktur ekonomi nan membikin wilayah penghasil beragam komoditas tetap tertinggal?
Kalau Madura mempunyai kekayaan migas, kenapa tidak dibongkar secara mendalam gimana faedah ekonominya mengalir?
Siapa nan paling besar menikmati nilai ekonominya?
Berapa besar nilai nan berputar di Madura?
Berapa nan keluar?
Berapa nan kembali kepada masyarakat?
Apa dampaknya terhadap kesejahteraan rakyat?
Bukankah itu juga investigasi?
Kalau petani tembakau Madura berulang kali berada dalam posisi lemah ketika berhadapan dengan pasar, kenapa kamera investigasi tidak lebih dalam membedah struktur industri tembakau dari hulu sampai hilir?
Siapa nan mempunyai kekuatan menentukan pembelian?
Siapa nan mempunyai kekuatan menentukan standar?
Siapa nan mempunyai jaringan distribusi?
Siapa nan mempunyai modal paling besar?
Dan pada akhirnya:
Siapa nan paling besar menikmati untung dari sebatang rokok nan dibuat dari tembakau?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jauh lebih besar daripada sekadar menemukan siapa nan menjual rokok tanpa pita cukai.
Sebab jika kita hanya memotret ujung persoalan, kita berisiko menjadikan pelaku mini sebagai wajah dari sebuah persoalan nan sesungguhnya jauh lebih kompleks.
Saya menggunakan bahasa nan sama dengan bahasa nan sering digunakan dalam pemberitaan investigasi:
Saya menduga.
Saya menduga jangan-jangan perspektif pemberitaan tentang rokok terlarangan di Madura berpotensi lebih menguntungkan narasi industri besar daripada menjelaskan secara utuh posisi industri mini dan petani.
Saya menduga jangan-jangan ada persoalan struktural nan jauh lebih besar tetapi kurang mendapatkan sorotan lantaran lebih rumit untuk dibongkar oleh Tempo.
Dan saya menduga, sekadar sebagai pertanyaan publik-jangan-jangan ketika industri lokal Madura sedang tertekan, pemberitaan nan hanya menonjolkan sisi ilegalitas industri lokal justru dapat ikut mempersempit ruang hidup UMKM dan pengusaha mini di Madura.
Apakah Tempo menjadi perangkat oligarki?
Saya tidak mengatakan demikian.
Saya justru meminta Tempo membuktikan bahwa dugaan semacam itu keliru.
Caranya sederhana:
Buka data. Buka metodologi. Buka rantai kepentingan. Buka semua sisi.
Sebab media nan independen tidak semestinya takut terhadap pertanyaan kritis.
Kalau Tempo meneliti pengusaha lokal, silakan.
Tetapi telitilah pula perusahaan besar.
Kalau Tempo menginvestigasi pita cukai, telusuri pula rantai distribusinya.
Kalau Tempo menginvestigasi rokok ilegal, bongkar pula struktur ekonomi nan membikin rokok terlarangan mempunyai pasar.
Kalau Tempo berbincang tentang kerugian negara, hitung pula siapa nan memperoleh untung paling besar dari ekosistem industri tersebut.
Jangan sampai rakyat mini diperiksa dengan mikroskop, sementara struktur besar hanya dilihat dengan teropong.
Saya tidak sedang meminta Madura dibela secara membabi buta.
Saya juga tidak meminta pengusaha lokal ditempatkan di atas hukum.
Yang saya minta justru sederhana:
beritakan Madura secara utuh.
Kalau ada pelanggaran, bongkar.
Kalau ada pengusaha nan salah, ungkap.
Kalau ada cukai palsu, tindak.
Tetapi jangan berakhir di sana.
Bongkar juga struktur nan membikin petani berada dalam posisi tawar nan lemah.
Bongkar pula siapa nan paling besar menguasai pasar.
Bongkar gimana untung industri rokok terdistribusi.
Bongkar kenapa petani menghasilkan bahan baku tetapi sering kali tidak menjadi pihak nan paling kuat menentukan harga.
Dan jika ada perusahaan besar nan melakukan pelanggaran, jangan ragu menyebutnya dengan keberanian nan sama.
Sebab ukuran keberanian jurnalistik bukan seberapa keras media menekan nan lemah.
Ukuran keberanian jurnalistik adalah:
seberapa berani dia menyentuh mereka nan kuat.
Madura tidak memerlukan belas iba media.
Madura memerlukan keadilan dalam memandang persoalan.
Kami tidak meminta pengusaha lokal diberi kekebalan.
Kami hanya tidak mau mereka dijadikan kambing hitam dari persoalan industri nan jauh lebih besar.
Dan kami tidak mau petani Madura hanya muncul di layar ketika panennya menjadi bahan berita, tetapi menghilang ketika mereka memerlukan pembelaan terhadap struktur pasar nan tidak seimbang.
Kalau investigasi adalah pisau untuk membedah kebenaran, gunakanlah pisau itu sampai ke tulang.
Jangan hanya memotong bagian nan mudah.
Kalau Tempo betul-betul mau menyelamatkan negara dari rokok ilegal, selamatkan pula petani dari ketidakadilan pasar.
Kalau mau menyelamatkan penerimaan negara, telusuri seluruh rantai ekonominya.
Kalau mau menyelamatkan masyarakat, jangan sampai pemberitaan justru membikin industri lokal nan sedang memperkuat semakin terpojok tanpa memberikan gambaran komplit mengenai akar masalahnya.
Karena di kembali setiap penyimpanan tembakau ada petani.
Di kembali setiap kilogram tembakau ada keluarga.
Di kembali setiap pemberitaan tentang rokok ada jutaan orang nan kehidupannya ikut bersenggolan dengan industri tersebut.
Maka jangan jadikan nasib mereka sebagai meja taruhan jurnalistik.
Tempo boleh bertaruh dengan narasi.
Tetapi jangan biarkan petani Madura bertaruh dengan masa depannya.
Dan jika Tempo merasa tulisan ini tidak adil, silakan jawab dengan data.
Bukan dengan marah.
Bukan dengan label.
Jawab dengan investigasi nan lebih dalam.
Sebab pada akhirnya, pertarungan sebenarnya bukan antara Tempo melawan H. Her.
Bukan pula Tempo melawan H. Mukmin.
Ini bukan tentang siapa nan paling keras suaranya.
Ini tentang satu pertanyaan nan jauh lebih penting:
Ketika duit berputar begitu besar dalam industri tembakau, kenapa petani nan menanamnya justru sering menjadi pihak nan paling lemah?
Itulah pertanyaan nan semestinya tidak boleh kalah keras daripada bunyi sebatang rokok nan sedang dibakar.
Madura tidak anti-investigasi.
Madura hanya meminta:
investigasilah dengan adil.
Karena independensi media bukan sekadar keberanian mengungkap kesalahan orang lain.
Independensi adalah keberanian untuk tidak menjadi milik siapa pun-termasuk kepentingan nan tidak terlihat di kembali sebuah berita.
Penulis : Fauzi As
Editor : Wahyu
Follow WA Channel limadetik.com untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari Follow

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·