KABAR MADURA | Pernah beriktikad hanya melihat-lihat peralatan di marketplace, tetapi beberapa menit kemudian justru sudah berada di laman pembayaran? Barang nan dibeli sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, tetapi ada rasa puas ketika memandang tulisan “pesanan sukses dibuat”.
Kebiasaan seperti ini semakin mudah dilakukan di tengah maraknya shopping online. Hanya dengan beberapa sentuhan pada layar, peralatan nan diinginkan bisa langsung dipesan tanpa perlu keluar rumah.
Persoalan muncul ketika shopping tidak lagi dilakukan lantaran kebutuhan, melainkan menjadi langkah untuk mengalihkan stres, kebosanan, kekecewaan, alias rasa cemas. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah doom spending.
Fenomena doom spending menggambarkan kebiasaan menghabiskan duit sebagai corak pelarian dari stres, kecemasan, alias ketidakpastian terhadap masa depan. Fenomena ini juga kerap dikaitkan dengan generasi muda nan hidup di tengah kemudahan transaksi digital dan derasnya pengaruh media sosial.
Kebiasaan shopping impulsif tentu tidak muncul begitu saja. Ada beragam aspek nan membikin seseorang semakin mudah tergoda untuk melakukan pembelian. Jika tidak disadari, kebiasaan nan awalnya terasa sepele bisa perlahan memengaruhi kondisi keuangan.
1. Belanja Bisa Menjadi Pelarian dari Stres
Ada kalanya seseorang membeli sesuatu bukan lantaran betul-betul membutuhkannya, melainkan lantaran sedang mau merasa lebih baik.
Setelah menjalani hari nan melelahkan, misalnya, membeli pakaian, makanan, kosmetik, alias peralatan lainnya dapat memberikan kesenangan sesaat. Perasaan tersebut kemudian bisa mendorong seseorang mengulangi kebiasaan nan sama ketika kembali menghadapi tekanan.
Belanja akhirnya bukan lagi sekadar aktivitas untuk memenuhi kebutuhan, tetapi berubah menjadi langkah untuk menghibur diri.
2. Media Sosial Membuat Keinginan Terus Bertambah
Media sosial juga membikin seseorang semakin sering berhadapan dengan beragam produk. Konten haul, rekomendasi barang, ulasan, hingga unggahan orang lain ketika membeli sesuatu dapat memunculkan kemauan untuk mempunyai peralatan serupa.
Situasi tersebut semakin kuat ketika muncul rasa takut tertinggal dari tren alias fear of missing out (FOMO). Sesuatu nan awalnya tidak dibutuhkan perlahan dapat terlihat seperti peralatan nan kudu dimiliki.
Tanpa disadari, kemauan untuk mengikuti tren membikin aktivitas melihat-lihat produk berubah menjadi keputusan untuk membeli.
3. Promo Membuat Keinginan Terlihat Seperti Kesempatan
Diskon, flash sale, cuma-cuma ongkir, dan voucher memang menguntungkan jika digunakan untuk membeli peralatan nan betul-betul diperlukan.
Namun, beragam promo tersebut juga dapat membikin seseorang membeli sesuatu hanya lantaran takut kehilangan kesempatan. Kalimat seperti “mumpung murah” terkadang menjadi argumen untuk melakukan transaksi nan sebelumnya tidak pernah direncanakan.
Padahal, nilai nan turun tidak selalu berfaedah seseorang sedang menghemat. Jika peralatan tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan, duit tetap saja keluar dan akhirnya lenyap untuk membeli sesuatu nan tidak terlalu berguna.
4. Self-Reward Bisa Berubah Menjadi Kebiasaan
Memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja keras sebenarnya merupakan perihal nan wajar.
Persoalan muncul ketika setiap rasa lelah, kecewa, alias jenuh selalu dijawab dengan berbelanja. Jika terus dilakukan, self-reward dapat berubah menjadi kebiasaan nan susah dikendalikan.
Sebab itu, krusial membedakan antara membeli sesuatu sebagai corak penghargaan dan membeli sesuatu hanya untuk menghilangkan emosi tidak nyaman.
Tidak semua pembelian setelah menjalani hari nan berat merupakan masalah. nan perlu diperhatikan adalah ketika shopping mulai menjadi satu-satunya langkah untuk membikin diri merasa lebih baik.
5. Tabungan Bisa Mandek Tanpa Disadari
Dampak nan paling mudah terlihat dari kebiasaan shopping impulsif adalah kondisi keuangan. Transaksi mini nan dilakukan berulang kali mungkin terasa tidak terlalu besar. Namun, jika dikumpulkan selama satu bulan, jumlahnya bisa cukup menguras penghasilan.
Uang nan semestinya masuk ke tabungan akhirnya lenyap untuk beragam pembelian nan sebagian apalagi tidak masuk dalam daftar perencanaan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang boleh alias tidaknya berbelanja. nan lebih krusial adalah memahami argumen di kembali setiap transaksi.
Sebelum menekan tombol checkout, tidak ada salahnya memberikan jarak dan bertanya kepada diri sendiri: “Apakah peralatan ini memang dibutuhkan? Atau hanya sedang digunakan untuk membikin emosi menjadi lebih baik?”
Sebab, rasa senang ketika paket datang mungkin hanya berjalan sebentar. Sementara tabungan nan terlanjur lenyap memerlukan waktu lebih lama untuk dikumpulkan kembali. (ina)

56 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·