Satu Dekade Bertahan Tanpa Bantuan Pemerintah, Zhiren Jaya Pamekasan Hadapi Ketatnya Persaingan Camilan

1 jam yang lalu 3

KABAR MADURA | Ketatnya persaingan upaya makanan ringan tidak menyurutkan semangat Achmad Munif untuk mempertahankan Zhiren Jaya, upaya camilan rumahan nan dirintisnya sejak 2016 di Desa Sumberanyar, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan.

Selama satu dekade, upaya nan memproduksi keripik petampe dan kerupuk puli tersebut terus melangkah secara mandiri, tanpa support unik dari pemerintah maupun organisasi tertentu.

Di tengah bermunculannya beragam produk camilan modern, Munif berupaya mempertahankan usahanya dengan menjaga cita rasa, menawarkan nilai terjangkau, serta memperluas pemasaran.

“Selama ini kami melangkah sendiri, belum ada support unik dari pemerintah alias komunitas,” jelas Munif, Selasa (27/10/2026).

Menurutnya, mempertahankan upaya selama sepuluh tahun bukan perkara mudah. Persaingan dengan produsen makanan ringan lainnya menjadi salah satu tantangan terbesar nan kudu dihadapi.

Kondisi tersebut menuntut pelaku upaya untuk terus menyesuaikan strategi agar produknya tetap diminati konsumen.

“Tantangan terbesar tentu saja banyaknya saingan di luar sana nan membikin kita kudu terus berinovasi,” lanjutnya.

Munif mengatakan, salah satu upaya nan dilakukan untuk menjaga keberlangsungan upaya adalah mempertahankan kualitas rasa dan tekstur produknya.

Zhiren Jaya mengandalkan dua jenis camilan, ialah keripik petampe dan kerupuk puli, nan menawarkan cita rasa gurih dengan tekstur renyah.

“Kuncinya ada di rasa nan konsisten dan kerenyahan nan pas di lidah konsumen,” ujarnya.

Dalam proses produksi, Munif menggunakan bahan baku berupa tepung, minyak goreng, dan ramuan untuk menghasilkan makanan ringan nan dipasarkan kepada konsumen.

Adonan terlebih dulu digiling hingga mencapai ketebalan nan diinginkan sebelum melalui proses penggorengan dan pengemasan.

Menurutnya, aktivitas produksi di rumah usahanya dapat menghabiskan sekitar tiga karung tepung setiap hari.

“Setiap hari kami menghabiskan sekitar 3 karung tepung untuk adukan nan kemudian digiling dan diolah,” tambahnya.

Selain mempertahankan cita rasa, Munif juga berupaya menjaga keterjangkauan nilai agar produknya dapat dibeli oleh beragam kalangan.

Camilan Zhiren Jaya dipasarkan dengan nilai mulai Rp1.000 hingga Rp2.500 per kemasan.

Harga tersebut menjadi salah satu strategi untuk menjangkau konsumen, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum.

Sementara itu, untuk menghadapi perkembangan pola shopping masyarakat, Munif tidak hanya mengandalkan penjualan secara langsung.

Dia juga mulai memanfaatkan pemasaran daring untuk memperluas jangkauan produk hingga ke beragam wilayah di Madura.

“Untuk penjualan, kami jalani dua-duanya secara offline dan online, sehingga jangkauan pasar bisa semakin luas,” tambahnya.

Menurut Munif, kombinasi pemasaran langsung dan digital menjadi salah satu langkah untuk mempertahankan pengguna sekaligus memperkenalkan produknya kepada konsumen baru.

Selain itu, penemuan bungkusan dan pelayanan kepada pengguna terus diupayakan agar Zhiren Jaya bisa bersaing dengan produk makanan ringan lainnya.

Meski telah menjalankan upaya selama satu dekade, Munif mengakui tetap menghadapi beragam tantangan dalam mengembangkan bisnisnya.

Terlebih, selama ini pengembangan upaya dilakukan dengan mengandalkan keahlian sendiri, tanpa support dukungan unik dari pemerintah maupun komunitas.

Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berakhir menjalankan upaya nan telah dibangun sejak 2016.

Dia berambisi Zhiren Jaya dapat terus berkembang, mempertahankan pelanggan, serta memperluas jangkauan pemasaran pada tahun-tahun mendatang.

“Harapan saya kedepan sederhana saja, semoga upaya ini terus melangkah dan mau sukses,” pungkasnya. (fit/waw)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0