Sampah Menumpuk di Sungai Banyuajuh Bangkalan, Warga Soroti Penyempitan Aliran

1 jam yang lalu 3

KABAR MADURA | Hujan nan mengguyur Kabupaten Bangkalan, Selasa (27/10/2026) sore, menyeret tumpukan sampah hingga menggunung di aliran sungai Desa Banyuajuh, Kecamatan Kamal. Persoalan nan berulang setiap tahun itu kembali menjadi perhatian warga, terutama lantaran sampah berpotensi menghalang aliran air.

Salah seorang penduduk Desa Banyuajuh, Syamsul Arifin, mengatakan sampah nan menumpuk di sungai itu diduga tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar. Sebagian sampah juga terbawa arus air dari sejumlah kawasan, mulai dari bagian utara hingga selatan.

Menurutnya, sampah dari area pasar dan sekitar jembatan, termasuk di dekat pondok pesantren, turut terbawa arus hingga bermuara ke laut melalui sungai tersebut.

“Yang banyak sampai ke sini, dari pasar sampai jembatan dekat pondok itu, larinya ke sini semua, sampai ke laut,” ujarnya, Rabu (28/10/2026).

Syamsul menjelaskan, penumpukan sampah menjadi persoalan nan kerap terjadi setiap tahun, terutama saat hujan turun dan meningkatkan debit air sungai. Dalam kondisi tertentu, permukaan air apalagi disebut dapat naik hingga ke bagian atas.

Meski hujan pada Selasa sore tidak terlalu deras, sampah tetap terbawa arus dan menumpuk di sejumlah titik sungai. Kondisi tersebut membikin penduduk kudu turun tangan agar tumpukan sampah tidak semakin menghalang aliran air.

Selama ini, penduduk berupaya mengatasi persoalan tersebut secara gotong royong dengan mendorong sampah agar kembali terbawa arus. Namun, upaya itu belum bisa menyelesaikan masalah secara menyeluruh lantaran sampah terus berdatangan dari area lain.

“Kalau tidak didorong, sampahnya tidak jalan,” tuturnya.

Selain menyoroti persoalan sampah, Syamsul juga mengungkapkan adanya perubahan jalur aliran sungai. Menurutnya, aliran nan sebelumnya relatif lurus ke arah selatan sekarang berbelok menyerupai huruf L.

Perubahan tersebut diduga berangkaian dengan keberadaan gedung di sekitar sungai nan turut memengaruhi jalur aliran. Kondisi aliran nan semakin menyempit juga menjadi perhatian lantaran berpotensi memperparah halangan air, terutama ketika hujan membawa sampah dalam jumlah besar.

“Dulu lurus ke selatan, langsung ke laut. Sekarang belok seperti huruf L dan menyempit juga,” ungkapnya.

Syamsul menilai, sampah nan menumpuk di sungai Banyuajuh tidak seluruhnya berasal dari aktivitas penduduk setempat. Sebagian sampah diduga terbawa dari luar area sehingga masyarakat Banyuajuh turut menanggung dampaknya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan, M. Zainul Qomar, menyebut hujan nan terjadi saat ini tetap termasuk pergeseran cuaca nan berkarakter lokal dan hanya terjadi di wilayah tertentu.

“Hujan ini masuk ke lokal konventiv, mengenai aliran sungai penduduk juga kudu menjaga lingkungannya agar air tidak naik ke pemukiman,” ujarnya. (fik/zul)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0