KABAR MADURA | Gelaran konvensi internasional International Conference on Islamic Studies (ICONIS) ke-10 kembali diselenggarakan sebagai ruang akademik strategis untuk mempertemukan para akademisi, peneliti, dan praktisi kebudayaan.
Dalam forum ilmiah nan dilangsungkan di UIN Madura kali ini, konsentrasi obrolan diarahkan pada eksplorasi dan penggalian mendalam mengenai jejak sejarah serta pemikiran ustadz besar Nusantara, Syekh Yusuf Al-Makassari.
“Khususnya dalam relevansinya terhadap upaya merawat dan memelihara tradisi keagamaan masyarakat di Pulau Madura,” ujar Rektor UIN Madura Saiful Hadi, Rabu (9/9/2026).
Dijelaskan, penyelenggaraan ICONIS ke-10 ini menegaskan kembali sungguh krusialnya mengkaji warisan intelektual dan spiritual para ustadz terdahulu. Sosok Syekh Yusuf Al-Makassari dinilai mempunyai keterkaitan spiritual, keilmuan, dan kebudayaan nan banget kuat dengan jaring-jaring tradisi Islam nan hingga sekarang tetap dihidupi oleh masyarakat Madura.
Pendekatan tasawuf nan dikembangkan beliau—yang memadukan kedalaman nilai spiritual dengan keteguhan moral—menjadi injakan krusial dalam membentuk karakter keagamaan di area Nusantara, tak terkecuali Pulau Garam.
Melalui forum ICONIS ke-10, para pemakalah dan peserta mengurai gimana rekam jejak keilmuan, doktrin tasawuf, serta semangat perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari dapat ditransformasikan menjadi pedoman dalam merespons dinamika zaman.
Forum ini juga menjadi wadah refleksi kritis untuk memandang sejauh mana tradisi lokal Madura, seperti ibadah zikir, puji-pujian, tahlilan, hingga tradisi keagamaan berbasis pesantren, terus berakar dari jejaring sanad keilmuan ulama-ulama klasik Nusantara.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial nan pesat, keberadaan tradisi keagamaan lokal kerap berhadapan dengan tantangan degradasi nilai.
Oleh lantaran itu, obrolan dalam ICONIS ke-10 ini tidak sekadar bermaksud membedah catatan sejarah, melainkan juga merumuskan strategi kebudayaan agar identitas keagamaan masyarakat Madura tetap kokoh.
Nilai-nilai Islam nan ramah, moderat, toleran, serta sarat bakal kearifan lokal (local wisdom) nan diwariskan oleh para pendahulu diharapkan terus menjadi tembok moral bagi generasi mendatang.
Melalui elaborasi pemikiran nan bergerak sepanjang gelaran ICONIS ke-10, diharapkan muncul beragam rekomendasi akademik serta karya literatur baru nan bisa memperkaya khazanah studi Islam Nusantara.
Lebih dari itu, hasil pemikiran dari forum ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pemangku kebijakan, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan di Madura dalam menjaga serta melestarikan kebudayaan Islam berbasis tradisi lokal nan berkemajuan. (fit/rul)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·