KABAR MADURA | Sekitar 100 pengelola info dari beragam lembaga dan lembaga mengikuti Pelatihan Kehumasan dan Pengelolaan Media Sosial (Medsos) nan digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumenep, Rabu (23/9/2026).
Pelatihan nan berjalan di Aula Jege Tembe Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura itu diikuti para humas maupun admin pengelola media sosial lembaga. Peserta berasal dari sejumlah puskesmas, lembaga pendidikan di bawah Cabang Dinas Pendidikan (Candindik) Jawa Timur Wilayah Sumenep, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), lembaga pendidikan di bawah Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep, serta satuan pendidikan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) Sumenep.
Ketua PWI Sumenep, Faisal Warid, menyampaikan, training tersebut menjadi bagian dari upaya berbagi pengalaman jurnalistik kepada para pengelola info di lingkungan lembaga dan lembaga.
Menurutnya, wartawan sehari-hari berhadapan dengan beragam info sehingga pengalaman dalam mengolah dan menyampaikan info kepada publik dapat menjadi pengetahuan tambahan bagi pengelola komunikasi lembaga.
“PWI sebagai organisasi pekerjaan wartawan sehari-hari bergesekan dengan informasi. Pengalaman itu nan kemudian mau kami bagikan kepada para peserta, sehingga bisa menjadi tambahan pengetahuan dalam menjalankan tugas komunikasi di lembaganya masing-masing,” papar Warid.
Wartawan RII itu menambahkan, keahlian mengelola info menjadi semakin krusial bagi lembaga nan bergesekan langsung dengan masyarakat. Informasi mengenai layanan, prosedur maupun beragam aktivitas lembaga perlu disampaikan secara jelas agar mudah diketahui publik.
Warid juga mengingatkan agar media sosial resmi lembaga tidak sekadar dijadikan sebagai etalase pengarsipan kegiatan.
Menurut dia, konten nan dipublikasikan kudu mempunyai nilai informasi, memberikan faedah dan bisa menjawab kebutuhan masyarakat.
Dalam sesi berikutnya, Pemimpin Redaksi Beritajatim.com Dwi Eko Lokononto membahas posisi dan kegunaan kehumasan dalam sebuah lembaga.
Dia menjelaskan, pekerjaan humas tidak berakhir pada upaya membikin konten nan ramai alias viral. Lebih dari itu, humas mempunyai peran dalam membangun komunikasi antara lembaga dengan masyarakat.
Dwi Eko juga menyoroti perubahan pola pengedaran konten di tengah perkembangan media digital. Pengelola media sosial, kata dia, perlu mulai meninggalkan pola produksi konten nan hanya berorientasi pada perolehan klik.
“Kini tidak lagi semata-mata berpatokan pada clickbait. Algoritma justru semakin mengarah kepada konten nan original,” katanya.
Karena itu, dia mendorong pengelola info untuk mengutamakan kualitas dan orisinalitas materi nan diproduksi sehingga konten tidak hanya menarik perhatian sesaat, tetapi juga mempunyai nilai bagi audiens.
Materi lain disampaikan Andi Tausya dari Tim Media Sosial Beritajatim.com nan membahas pemanfaatan kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI) dalam produksi konten.
Dia mengungkapkan, perkembangan teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk membantu beragam tahapan produksi, mulai dari menemukan dan mengembangkan pendapat hingga menghasilkan materi visual maupun audio.
Sejumlah perangkat nan diperkenalkan antara lain ChatGPT, Canva, CapCut dan ElevenLabs. Setiap tools tersebut dapat digunakan sesuai kebutuhan dalam proses pembuatan konten.
Perempuan nan berkawan disapa Ocha itu juga menekankan pentingnya memperhatikan bagian awal sebuah konten. Menurutnya, tiga hingga lima detik pertama menjadi momentum krusial untuk mempertahankan perhatian audiens di media sosial.
“Kalau di tiga sampai lima detik pertama kita tidak bisa menarik perhatian audiens, kemungkinan mereka bakal melewati konten kita. Karena itu, bagian awal kudu dibuat semenarik mungkin,” jelasnya.
Sementara itu, founder sekaligus content creator PNS Jalan-jalan, Gunawan Sujana, mengingatkan pengelola akun media sosial lembaga agar memahami posisi akun resmi sebagai bagian dari representasi lembaga.
Menurut Gunawan, admin tidak semestinya memperlakukan akun lembaga layaknya akun pribadi. Setiap info nan dipublikasikan perlu mempertimbangkan kepentingan lembaga sekaligus kebutuhan masyarakat.
Dia menekankan pentingnya menempatkan perspektif masyarakat sebagai salah satu pertimbangan utama dalam menentukan materi nan bakal disampaikan melalui kanal resmi instansi.
“Pemegang akun media sosial lembaga tidak boleh merasa bahwa itu adalah akun miliknya. Jadi, konten nan disajikan kudu sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bukan disesuaikan dengan pemikiran pemilik akun,” tandasnya. (ong)

48 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·