Tumpukan garam di salah satu penyimpanan penyimpanan milik penduduk di Kabupaten Sampang. (KLIKMADURA)
SAMPANG || KLIKMADURA – Penghujung musim panen garam di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, tetap membuka kesempatan bagi pembeli baru untuk masuk ke pasar garam rakyat.
Di tengah pasokan nan mulai terserap penyimpanan besar, sebagian petani memilih menyimpan hasil panen di rumah sebagai persediaan finansial untuk memenuhi kebutuhan mendesak.
Kondisi tersebut membuka kesempatan bagi tengkulak maupun pembeli baru untuk menjalin transaksi langsung dengan petani. Namun, nilai garam nan disimpan di rumah condong lebih tinggi dibandingkan garam nan tetap berada di tambak lantaran petani tidak kudu segera menjual hasil panennya.
Saat ini, nilai garam kualitas satu (K1) di tingkat tambak berkisar Rp90 ribu hingga Rp120 ribu per sak. Sementara itu, garam nan sudah diangkut dan disimpan di rumah petani bisa mencapai Rp150 ribu hingga Rp170 ribu per sak.
Petani garam Sampang, Iyus, menjelaskan bahwa penyimpanan garam di rumah biasanya dilakukan ketika petani tetap mempunyai duit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, garam tersebut baru dijual ketika ada keperluan mendesak alias kebutuhan tambahan menjelang Ramadan dan Lebaran.
“Kalau garam sudah diangkut ke rumah berfaedah pemilik sudah punya duit simpanan. Jadi, garam nan disimpan itu hanya dijual dalam keadaan mendesak, seperti ada keperluan mendadak alias di bulan Ramadan menjelang Lebaran,” kata Iyus, Selasa (20/10/2026).
Meski disimpan sebagai cadangan, petani tetap membuka kemungkinan menjual garam tersebut jika nilai nan ditawarkan pembeli sesuai harapan. Selisih nilai dibandingkan garam di tambak menjadi salah satu pertimbangan petani sebelum melepas stoknya.
“Bisa saja petani melepas garam nan disimpan di rumah, tapi jika harganya cocok. Selisih harganya biasanya lumayan,” imbuhnya.
Kondisi tersebut membikin pembeli baru perlu mempertimbangkan waktu transaksi dan kesiapan petani dalam menjual stok. Garam nan tetap berada di tambak mempunyai pola transaksi berbeda dengan garam nan sengaja disimpan sebagai persediaan finansial keluarga.
Penghujung musim panen juga dinilai menjadi momentum untuk membangun jaringan pemasok bagi musim berikutnya. Ketika pasokan dari petani nan telah bekerja sama dengan penyimpanan disebut sudah terpenuhi, pembeli lain tetap berkesempatan menjalin komunikasi dengan petani nan belum mempunyai ikatan pemasaran.
Petani garam lainnya, Hari, menilai pembelian pada akhir musim dapat menjadi langkah awal membangun hubungan jual beli jangka panjang. Menurutnya, komunikasi nan terjalin sejak sekarang berpotensi mempermudah transaksi ketika musim panen kembali berjalan tahun depan.
“Kalau ada pembeli alias tengkulak nan membeli sekarang, peluangnya bagus lantaran pasokan petani nan bekerja sama dengan penyimpanan sudah terpenuhi. Kalau tengkulak membeli garam di ujung musim seperti sekarang, untuk tahun depan secara komunikasi bakal lebih gampang, sehingga petani bersedia menjual garam di musim selanjutnya,” jelas Hari.
Peluang pasar baru pada penghujung musim tidak hanya berangkaian dengan kesiapan stok, tetapi juga kesempatan membangun kepercayaan antara pembeli dan petani. Transaksi nan dimulai saat ini berpotensi berkembang menjadi kerja sama pemasaran ketika produksi garam kembali berlangsung.
Bagi petani, keberadaan pembeli pengganti dapat menambah pilihan dalam menentukan waktu dan nilai penjualan. Sementara bagi pembeli, pendekatan sejak akhir musim menjadi kesempatan membangun jaringan pemasok untuk menghadapi musim panen berikutnya. (ali/nda)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·