“Ngabbhâr Ta’ Tèngghi, Ngũro’ Ta’ Dhâlâm”: Krisis Mediokritas dalam Perspektif Budaya, Pendidikan, dan Peradaban

2 jam yang lalu 4

Oleh: Achmad Muhlis

(Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam.)

Ngabbhâr Ta’ Tèngghi, Ngũro’ Ta’ Dhâlâm merupakan salah satu ungkapan bijak masyarakat Madura nan lahir dari pengamatan panjang terhadap karakter manusia dalam kehidupan sosial. Secara harfiah, ungkapan ini berfaedah “terbang tidak tinggi, menggali tidak dalam.” Di kembali kesederhanaan bahasanya, tersimpan refleksi filosofis nan sangat kaya tentang kualitas manusia nan hidup dalam wilayah “tanggung”; tidak cukup tinggi untuk menjadi teladan, tetapi juga tidak cukup rendah untuk menyadari kekurangannya. Dalam percakapan masyarakat Madura, kondisi demikian sering disebut “ghângghây”, ialah seseorang nan mempunyai keahlian seadanya, pengetahuan nan tidak mendalam, komitmen nan tidak utuh, dan kesungguhan nan tidak pernah mencapai puncaknya. Ia mengetahui banyak hal, tetapi tidak menguasai apa pun secara mendalam. Ia mau terlihat hebat, tetapi tidak cukup tekun untuk menjadi ahli. Ia mau memperoleh penghormatan, tetapi enggan menjalani proses panjang nan melahirkan kematangan. Oleh lantaran itu, ungkapan ini sesungguhnya bukan ditujukan untuk merendahkan seseorang, melainkan menjadi kritik budaya terhadap kecenderungan manusia nan merasa cukup sebelum betul-betul bertumbuh.

Ungkapan tersebut mempunyai relevansi nan sangat kuat dengan kejadian mediokritas, ialah kondisi ketika seseorang berakhir pada tingkat keahlian rata-rata dan kehilangan semangat untuk terus mengembangkan kualitas dirinya. Pendidikan modern sering kali menghadapi paradoks nan menarik. Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi kedalaman berpikir justru semakin langka. Kemajuan teknologi memungkinkan seseorang mengakses ribuan referensi hanya dalam hitungan detik, tetapi akses nan melimpah tidak selalu diikuti dengan keahlian memahami secara kritis. Akibatnya, lahirlah generasi nan mengenal banyak istilah, tetapi kurang memahami substansinya, bisa mengutip banyak teori, tetapi belum bisa menghubungkannya dengan realitas kehidupan. Ungkapan ngabbhâr ta’ tèngghi, ngũro’ ta’ dhâlâm menjadi sangat relevan dalam membaca indikasi tersebut. Terbang melambangkan cita-cita dan keluasan wawasan, sedangkan menggali melambangkan kedalaman kajian dan ketekunan intelektual. Ketika seseorang tidak bisa terbang tinggi sekaligus tidak bersedia menggali lebih dalam, dia berada dalam area nyaman mediokritas nan secara perlahan menghalang perkembangan pengetahuan pengetahuan.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui pemikiran Paulo Freire, nan mengkritik pendidikan nan hanya menghasilkan individu-individu pasif dan menerima pengetahuan secara mekanis. Menurut Freire, pendidikan semestinya membentuk manusia nan mempunyai kesadaran kritis (critical consciousness), ialah keahlian untuk memahami realitas secara mendalam dan mentransformasikannya menjadi tindakan nan bermakna. Namun, andaikan proses pendidikan hanya menghasilkan lulusan nan sekadar mengetahui tanpa memahami, menghafal tanpa menghayati, dan berbincang tanpa bisa berpikir reflektif, maka pendidikan kehilangan kegunaan emansipatorisnya. Dalam konteks inilah ungkapan Madura tersebut menjadi kritik terhadap manusia nan berakhir pada pengetahuan permukaan.

Madura FM

Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Edgar Morin tentang complex thinking. Morin menjelaskan bahwa tantangan terbesar abad modern bukanlah kekurangan informasi, melainkan ketidakmampuan manusia menghubungkan beragam pengetahuan secara utuh. Banyak orang mengetahui sebagian mini dari banyak bidang, tetapi sedikit nan betul-betul mendalami satu bagian secara serius. Kondisi ini melahirkan apa nan dapat disebut sebagai “kedangkalan intelektual”, ialah pengetahuan nan luas secara mendatar tetapi rentan secara vertikal. Ungkapan ngũro’ ta’ dhâlâm sesungguhnya merupakan metafora tentang kegagalan manusia membangun kedalaman berpikir. Menggali hanya di permukaan tidak bakal pernah menemukan mata air. Demikian pula pengetahuan pengetahuan, dia hanya bakal melahirkan hikmah andaikan dicari dengan kesungguhan, ketekunan, dan kerendahan hati.

Ungkapan ini juga mengandung kritik terhadap budaya instan nan semakin menguat dalam masyarakat modern. Aristoteles menjelaskan bahwa keistimewaan (virtue) tidak pernah lahir secara tiba-tiba, melainkan dibentuk melalui kebiasaan (habitus) nan dilakukan terus-menerus. Manusia menjadi bijak bukan lantaran sekali berpikir, tetapi lantaran terus melatih dirinya untuk berpikir dengan benar. Ia menjadi mahir bukan lantaran sekali belajar, melainkan lantaran bertahun-tahun mengasah kemampuan. Oleh karena itu, manusia nan hanya menginginkan hasil tanpa menghargai proses bakal selalu berada pada posisi “tanggung”. Ia tidak pernah mencapai puncak skill lantaran selalu berakhir ketika merasa cukup.

Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa kualitas seseorang dibentuk melalui proses akumulasi cultural capital alias modal budaya. Modal budaya tidak diwariskan secara instan, tetapi dibangun melalui tradisi membaca, berdiskusi, belajar, dan membiasakan diri hidup dalam lingkungan nan menghargai pengetahuan pengetahuan. Ketika masyarakat mulai kehilangan budaya belajar nan mendalam dan lebih mengutamakan ketenaran daripada kompetensi, maka mediokritas bakal menjadi budaya kolektif. Orang tidak lagi berkompetisi menjadi nan paling berkualitas, tetapi cukup menjadi nan paling terlihat. Akibatnya, masyarakat dipenuhi perseorangan nan pandai berbincang tetapi miskin argumentasi, sigap memberikan penilaian tetapi lambat melakukan refleksi.

Max Weber juga mengingatkan bahwa profesionalisme lahir dari etika kerja nan logis dan disiplin. Seseorang tidak bakal pernah menjadi ahli andaikan selalu berpindah-pindah minat tanpa pernah mendalami salah satunya. Dalam bumi kerja, manusia “ghângghây”sering kali tampak antusias pada awalnya, tetapi kehilangan konsistensi ketika menghadapi kesulitan. Ia memulai banyak pekerjaan, namun sedikit nan diselesaikan dengan sempurna. Terbang tidak tinggi lantaran cita-citanya mudah berubah, menggali tidak dalam lantaran kesabarannya sigap habis.

Fenomena ini berangkaian erat dengan konsep growth mindset nan diperkenalkan oleh Carol Dweck. Dweck menjelaskan bahwa manusia berkembang andaikan mempunyai kepercayaan bahwa keahlian dapat ditingkatkan melalui upaya nan berkelanjutan. Sebaliknya, perseorangan nan merasa cukup dengan keahlian nan dimilikinya bakal berakhir belajar. Mereka lebih senang terlihat pandai daripada betul-betul menjadi pintar. Mereka menghindari tantangan lantaran takut gagal, sehingga keahlian intelektualnya tidak pernah berkembang secara optimal. Kondisi inilah nan secara psikologis melahirkan mediokritas. Manusia ” ghângghây”, sesungguhnya bukan lantaran tidak mempunyai potensi, melainkan lantaran tidak mempunyai ketekunan untuk mengembangkan potensinya hingga mencapai tingkat terbaik.

Perspektif Abraham Maslow juga memberikan penjelasan nan menarik. Menurut Maslow, tujuan tertinggi perkembangan manusia adalah self-actualization, ialah keadaan ketika seseorang bisa mengembangkan seluruh potensi nan dimilikinya. Namun, banyak orang berakhir pada kebutuhan bakal kenyamanan dan pengakuan sosial sehingga tidak pernah mencapai aktualisasi diri. Mereka merasa puas ketika sudah memperoleh pekerjaan, jabatan, alias penghormatan tertentu, padahal kualitas dirinya belum berkembang secara maksimal. Ungkapan ngabbhâr ta’ tèngghi, ngũro’ ta’ dhâlâm sesungguhnya mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai posisi, tetapi juga mencapai kualitas.

Fenomena ini berangkaian dengan konsep ihsan, ialah melakukan segala sesuatu dengan kualitas terbaik. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai, andaikan salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka dia menyempurnakannya.” (HR. al-Baihaqi). Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan mediokritas. Seorang Muslim didorong untuk bekerja secara profesional, belajar secara mendalam, dan beragama dengan penuh kesungguhan. Al-Qur’an sendiri mengingatkan: “Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah bakal memandang pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 105).

Ayat tersebut menegaskan bahwa kualitas kebaikan menjadi ukuran utama, bukan sekadar banyaknya aktivitas. Demikian pula Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa pengetahuan nan tidak diperdalam bakal mudah hilang, sedangkan pengetahuan nan dipadukan dengan kebaikan dan keikhlasan bakal melahirkan hikmah. Bagi Al-Ghazali, kedalaman pengetahuan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya bacaan, tetapi oleh kesungguhan dalam memahami hakikatnya.

Sementara itu, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa suatu peradaban bakal mencapai kejayaan andaikan masyarakatnya menghargai spesialisasi, ketekunan, dan pembelajaran nan berkelanjutan. Sebaliknya, andaikan masyarakat lebih menyukai hasil instan daripada proses panjang, maka kualitas sumber daya manusianya bakal melemah dan daya saing peradabannya bakal menurun.

Ungkapan “ngabbhâr ta’ tèngghi, ngũro’ ta’ dhâlâm” bukanlah hinaan terhadap keterbatasan manusia, melainkan undangan untuk keluar dari area nyaman mediokritas. Falsafah Madura ini mengajarkan bahwa hidup tidak cukup dijalani dengan keahlian nan setengah-setengah. Terbanglah setinggi mungkin melalui keluasan wawasan, tetapi pada saat nan sama galilah sedalam mungkin melalui ketekunan, refleksi, dan kesungguhan belajar. Peradaban tidak dibangun oleh manusia nan sekadar mengetahui banyak hal, melainkan oleh mereka nan bersedia mendalami satu bagian dengan integritas, kerendahan hati, dan pengabdian nan tulus. Sebab, manusia nan besar bukanlah mereka nan tampak paling tinggi di permukaan, tetapi mereka nan mempunyai akar pengetahuan, karakter, dan spiritualitas nan tumbuh jauh ke dalam, sehingga bisa menopang dirinya sendiri sekaligus memberi faedah bagi kehidupan orang lain.

Selengkapnya