portalmadura.com — Dunia astronomi dan keantariksaan dihebohkan dengan kejadian fragmentasi nan dialami oleh USA 32, satelit mata-mata milik Amerika Serikat dari era Perang Dingin. Satelit tersebut secara misterius pecah di orbit Bumi rendah pada 13 September lampau dan menyebarkan serpihan puing di sekitar ketinggian 775 kilometer.
Peristiwa ini pertama kali diumumkan oleh Space Track, bagian pengamatan satelit Angkatan Luar Angkasa AS, pada 17 September. Kendati demikian, pihak berkuasa belum merilis rincian pasti mengenai jumlah serpihan maupun penjelasan teknis rinci mengenai penyebab hancurnya wahana antariksa tersebut.
Fragmentasi di orbit rendah dikhawatirkan dapat menambah kepadatan ruang angkasa nan sekarang sudah dipenuhi oleh banyak satelit aktif serta sampah antariksa. Pecahan dari satu wahana dapat berjumlah hingga ribuan dengan ukuran nan bervariasi, di mana seluruhnya tetap bergerak dengan kecepatan orbit tinggi dan berpotensi melintasi jalur satelit operasional lainnya.
Hasil Pelacakan dan Faktor Usia Satelit
Perusahaan pencari satelit swasta, s2a systems, turut mengonfirmasi kejadian ini dan apalagi sukses memotret serpihan terbesar nan tersisa di orbit. Berdasarkan simulasi nan dilakukan, pecahan USA 32 diperkirakan menyebar membentuk cincin besar nan mengelilingi Bumi dalam kurun waktu 24 jam pasca-kejadian.
Faktor usia menjadi salah satu dugaan kuat nan tengah dikaji oleh para peneliti. Diluncurkan oleh National Reconnaissance Office pada tahun 1988, satelit nan dirancang untuk menyadap sinyal radar dan radio Uni Soviet ini sudah tidak beraksi selama puluhan tahun.
Situs pengamat antariksa Spaceweather menyoroti bahwa wahana tua umumnya tetap menyimpan sisa baterai dan bahan bakar pendorong. Setelah mengalami proses pemanasan dan pendinginan ekstrem selama nyaris empat dasawarsa di luar angkasa, tangki bertekanan alias sel baterai pada USA 32 sangat mungkin mengalami keretakan dan meledak.
Kemungkinan Lain dan Penyelidikan Lanjutan
Selain kerusakan internal akibat usia, kemungkinan tabrakan dengan objek alias puing antariksa lain turut dipertimbangkan, meski peluangnya dinilai lebih mini lantaran jalur puing biasanya dapat terdeteksi sebelumnya. Spekulasi mengenai keterlibatan senjata anti-satelit juga belum sepenuhnya disingkirkan, mengingat militer AS baru-baru ini mengonfirmasi peluncuran senjata ke orbit, di tengah dugaan teknologi serupa nan dimiliki oleh China dan Rusia. Kendati demikian, hingga sekarang belum ada bukti otentik nan mengarah ke sana.
Para peneliti memperkirakan proses penelusuran penyebab pasti kejadian ini melalui rekayasa kembali terhadap pecahan dan lintasan orbitnya bakal memerlukan waktu nan cukup panjang, mulai dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

3 jam yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·