
Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo *)
Agustus. Merah putih berkibar di mana-mana. Usia republik kita sudah 81 tahun. Sudah tua. Harusnya sudah sangat matang dan dewasa.
Orang-orang sibuk upacara pada tanggal 17. Di ibu kota kemeriahannya mungkin jauh lebih megah lagi. Bahkan sampai war ticket upacara di Istana Negara.
Bicara soal mental merdeka, orang Madura sebenarnya tidak perlu ditatar lagi. Mereka itu pejuang kehidupan sejati. Warung Madura sekarang mengepung kota-kota besar. Buka 24 jam. Tujuh hari seminggu. Kiamat pun katanya mereka tetap buka separuh hari..
Itu bukti kemandirian tingkat tinggi. Etos kerja menyala. Tidak suka menengadahkan tangan. Pantang menyerah.
Itu cerita orangnya. Bagaimana dengan pulaunya? Bagaimana nasib kampung halamannya setelah 81 tahun Indonesia merdeka?
Kenyataannya tetap asin. Seasin produksi garam dari Sumenep. Pembangunan di Madura belum secepat lari orang Madura di perantauan.
Kita sudah punya Jembatan Suramadu. Megah luar biasa. Dulu, saat diresmikan, pidatonya berbusa-busa. Jembatan ini digadang jadi urat nadi baru. Industri bakal berebut masuk Madura. Pabrik-pabrik raksasa bakal berdiri. Lapangan kerja bakal terbuka sangat lebar.
Kenyataannya hari ini? Suramadu malah terasa seperti jalan satu arah. Lebih sering dipakai orang Madura untuk keluar. Merantau. Mengadu nasib ke Surabaya, Jakarta, alias melompat ke pulau lain. Sebaliknya, jembatan itu tetap terlalu sunyi dari tronton penanammodal nan mau menanamkan modal di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, alias Sumenep.
Beberapa hari ini ramai di media. Katanya bakal ada industri besar dibangun di Bangkalan. Tapi sekali lagi tetap katanya. Dan ini bukan kali pertama janji industrialisasi di Madura.
Mengapa bisa begitu? Karena membangun wilayah rupanya butuh lebih dari sekadar beton panjang di atas laut.
Investor butuh kepastian. Jalan arteri di Madura tetap sempit. Waktu tempuh dari ujung jembatan di Bangkalan sampai ke ujung Sumenep bisa bikin pinggang encok. Paling enggak 4-5 jam. Belum lagi kudu sabar menghadapi macet lantaran pasar tumpah setiap pagi. Air bersih untuk industri? Masih jadi peralatan mewah.
Beberapa tahun lalu, saat itu tetap berjulukan PTPN X, berencana buka pabrik gula di Pamekasan. Tapi ya gagal. Rencana hanya rencana tanpa feasibility study nan mendalam.
Tidak dipikirkan gimana bahan bakunya? Bagaimana operasional pabriknya?
Kalau saja Madura itu layak untuk dibangun pabrik gula, tentu dulu Belanda sudah membangun pabrik gula di Madura. Karena Belanda tahu, tebu nan jadi bahan baku gula sangat susah bisa tumbuh di Madura.
Maka, jangan heran jika belakangan ini muncul lagi wacana lama. Wacana “Madura Merdeka”. Wacana mau menjadi provinsi sendiri lepas dari Jawa Timur kembali mengemuka dengan kencang.
Itu sangat wajar. Itu adalah letupan kekecewaan nan sudah berkerak. Ada gairah untuk memerdekakan diri dari ketertinggalan. Warga Madura capek lantaran merasa hanya dijadikan laman belakang. Mereka mau jadi tuan rumah nan utuh. Mengatur APBD sendiri. Menentukan prioritas pembangunan sendiri.
Status provinsi itu seumpama tukar baju. Kalau badannya tetap kurang gizi, dipakaikan baju baru nan seronok pun tetap bakal terasa kumuh. Ben sromben.
Yang mendesak dibutuhkan Madura hari ini adalah prasarana dasar. Jalan tol lintas pulau alias minimal jalan arteri nan sangat lebar dan mulus. Pasokan air melimpah untuk pabrik. Kepastian lahan industri nan bersih dari sengketa.
Alam Madura itu kaya raya. Garamnya legendaris. Tembakaunya selalu diburu pabrik rokok besar. Gili Iyang punya kadar oksigen terbaik di dunia. Potensinya raksasa.
Tugas negara di momen hari kemerdekaan ini sebenarnya hanya satu: pastikan semua sumbatan pembangunan itu dijebol. Pemerintah pusat tidak boleh lepas tangan. Jadikan Madura area ekonomi unik nan betul-betul khusus. Jangan hanya di atas kertas. Berikan insentif nan gila-gilaan agar penanammodal tidak ragu menyeberang.
Gagasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau sudah digagas untuk kemajuan Madura. Tokoh Madura Achsanul Qosasi sudah mewakafkan dirinya untuk di depan dalam pendapat KEK Tembakau itu.
Orang Madura pada dasarnya tidak suka dikasihani. Beri mereka jalan aspal nan mulus dan lebar, izin nan tidak ruwet, dan air bersih nan mengalir lancar. Selebihnya? Biarkan mereka berlari. Mereka tahu persis langkah untuk merdeka dan berhasil di tanahnya sendiri.
Madura Mandiri Indonesia Sejahtera. Merdeka! (*)
*) Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·