Kisah Satrio, Bocah Kelas 6 SD di Pamekasan Nyambi Jualan Kacang Rebus Demi Meringankan Beban Orang Tua

2 jam yang lalu 2

Satrio Samudro (13), asal Kelurahan Bugih, saat berdagang di area Pendopo Ronggosukowati Pamekasan. (KLIKMADURA)

PAMEKASAN || KLIKMADURA – Di usia ketika sebagian besar anak seusianya menghabiskan waktu untuk bermain sepulang sekolah, Satrio Samudro justru memilih jalan nan berbeda.

Bocah 13 tahun asal Kelurahan Bugih, Kabupaten Pamekasan itu lebih berkawan dengan uap panas kacang rebus dan telur puyuh rebus daripada permainan nan lazim dinikmati anak-anak seusianya.

Setiap hari, dia menjalani dua peran sekaligus. Pagi hari, Satrio adalah siswa kelas VI SD Negeri Laden 3 nan tekun belajar di ruang kelas. Namun ketika pelajaran usai, dia menjelma menjadi pedagang mini nan menawarkan dagangannya kepada siapa saja nan bersedia membeli. Di kembali senyumnya nan polos, tersimpan tekad besar nan apalagi tidak dimiliki banyak orang dewasa.

Usaha mini itu telah dia jalani selama kurang dari satu tahun. Bukan lantaran diperintah, bukan pula lantaran dipaksa oleh kedua orang tuanya. Keputusan itu lahir dari hati seorang anak nan terlalu awal memahami kerasnya kehidupan.

Satrio memandang sendiri gimana ayahnya setiap hari berjuang mencari barang-barang rongsokan demi membawa pulang sedikit penghasilan. Ia juga menyaksikan ibunya nan hanya menjadi ibu rumah tangga berupaya mengatur setiap rupiah agar dapur tetap mengepul. Pemandangan itulah nan diam-diam mengetuk nuraninya.

Sebagai anak kedua dari dua bersaudara, dia tidak mau hanya menjadi penonton atas perjuangan orang tuanya. Ia mau ikut memikul beban itu, meski pundaknya tetap kecil.

Setiap lembar duit hasil berdagang bukan sekadar keuntungan. Di baliknya ada harapan, ada doa, dan ada cinta seorang anak kepada keluarganya. Dalam sehari, Satrio bisa memperoleh untung sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Uang itu tidak dia gunakan untuk memuaskan kemauan pribadinya.

“Saya mau membantu orang tua. Hasil jualan saya kasih ke orang tua, sebagian untuk kebutuhan sekolah,” kata Satrio.

Kalimat sederhana itu terdengar begitu singkat. Namun di dalamnya tersimpan makna nan begitu dalam. Di saat banyak anak seusianya meminta duit kepada orang tua, Satrio justru menyerahkan hasil jerih payahnya kepada mereka.

Meski kudu membagi waktu antara belajar dan berjualan, semangatnya untuk mengenyam pendidikan tidak pernah padam. Baginya, sekolah bukan sekadar rutinitas, melainkan jalan menuju angan nan lebih baik. Sementara berdagang adalah ikhtiar agar mimpi itu tetap bisa diraih tanpa menambah berat langkah kedua orang tuanya.

Ia tidak pernah merasa rendah lantaran berdagang. Sebaliknya, dia menemukan kebanggaan dalam setiap perjuangan nan dijalaninya.

“Saya jualan lantaran saya mau terus sekolah dan membantu mengurangi beban orang tua. Saya tidak malu jualan, justru saya bangga bisa membantu keluarga,” ucapnya.

Kisah Satrio mengingatkan bahwa kebesaran seseorang tidak selalu diukur dari usia alias kekayaan nan dimiliki. Terkadang, justru lahir dari hati seorang anak nan memahami makna pengorbanan lebih sigap daripada waktunya.

Di kembali keranjang berisi kacang rebus dan telur puyuh nan dia bawa setiap hari, tersimpan mimpi sederhana. Yakni, tetap bersekolah, membikin orang tua tersenyum, dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan argumen untuk berakhir berjuang. (ibl/nda)

Selengkapnya