KABAR MADURA | Khoirul Anwar Syarifuddin mencatatkan capaian akademik di Program Studi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Islam Negeri (UIN) Madura. Dia menjadi mahasiswa pertama di program studi tersebut nan menyelesaikan pendidikan magister tanpa menyusun tesis, melainkan melalui publikasi tulisan ilmiah pada jurnal terakreditasi Sinta 2.
Jalur tulisan tersebut dipilih Khoirul bukan semata-mata untuk memenuhi persyaratan kelulusan. Dia mau penelitian nan dikerjakannya dapat dipublikasikan dan memberikan faedah lebih luas.
“Artikel itu wajib di S2 dan saya inisiatif sekalian saja, jangan nanggung-nanggung untuk Sinta 2. Saya membikin penelitian bukan hanya untuk mendapatkan ijazah, tetapi agar lebih berarti dan bermanfaat,” ujarnya.
Butuh waktu sekitar enam bulan bagi Khoirul untuk menyelesaikan tulisan berjudul Negotiating Destiny and Human Agency in Islamic Popular Culture: A Hermeneutic Reading of Negeri 5 Menara tersebut.
Proses penyusunannya menjadi tantangan tersendiri. Sebab, Khoirul kudu mempertemukan tiga komponen kajian dalam satu penelitian, ialah Al-Qur’an, teori hermeneutik, dan budaya terkenal melalui karya Negeri 5 Menara.
“Yang paling berkesan ketika penyusunan artikel, saya dituntut menggabungkan tiga komponen, ialah kajian Al-Qur’an, teori hermeneutik, dan budaya terkenal unik Negeri 5 Menara,” katanya.
Publikasi tersebut menambah daftar karya akademik Khoirul. Sebelumnya, dia juga telah menerbitkan tujuh kitab nan berangkaian dengan filsafat.
Di kembali produktivitas tersebut, membagi waktu menjadi salah satu tantangan nan dihadapinya. Khoirul kudu menjalani aktivitas akademik di kampus berbarengan dengan kesibukannya di pesantren.
“Banyak pelajaran nan saya dapat. Di sela-sela kesibukan, saya dituntut mengatur waktu untuk menyelesaikan tugas, khususnya di kampus dan pesantren. Itu nan paling berkesan,” ungkapnya.
Padatnya aktivitas apalagi membikin Khoirul merasa bukan dirinya nan mengatur waktu, melainkan tuntutan waktu nan mengatur aktivitasnya.
“Untuk masalah manajemen waktu, saya merasa menjalankan waktu bukan kemauan saya, seakan-akan waktu nan mengatur saya,” tuturnya.
Keberhasilannya menyelesaikan pendidikan magister juga mendapatkan respons dari keluarga. Menariknya, Khoirul mengaku tidak secara unik memberitahukan pencapaian tersebut. Keluarganya justru mengetahuinya melalui beragam unggahan di media sosial.
“Rata-rata berterima kasih keluarga. Mereka mengabadikan postingan-postingan di akun media sosial keluarga. Tanpa saya kasih tahu, mereka tahu,” katanya.
Lulus dari jenjang magister bukan akhir perjalanan akademiknya. Khoirul telah menyimpan kemauan melanjutkan pendidikan doktoral. Publikasi tulisan ilmiah tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapannya menuju jenjang S3.
“Kalau di bagian akademik kemauan untuk lanjut S3 ada. Artikel ini merupakan bagian dari upaya untuk lanjut S3,” ujarnya.
Sembari mempersiapkan rencana tersebut, Khoirul mau mulai mengembangkan pekerjaan di bumi pendidikan tinggi dengan mencoba mendaftar sebagai pengajar di sejumlah institusi.
“Untuk karir setelah lulus mau mengusulkan diri untuk daftar di beberapa institut sebagai dosen, salah satunya,” pungkasnya. (Arjul Wafiqoh/waw)

59 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·