KABAR MADURA | Percobaan mengolah kedelai menjadi produk berbeda menjadi titik awal lahirnya Kerupuk Tempe Dua Anak Kembar. Dari produksi sederhana nan dipotong menggunakan pisau, upaya tersebut sekarang bisa menghasilkan sekitar 6 hingga 7 ton kerupuk tempe setiap bulan.
Dalam sehari, upaya milik Ahmad Riyadi itu rata-rata produksi Kerupuk Tempe Dua Anak Kembar mencapai 2,5 hingga 3 kuintal.
Diprodukai di Dusun Panenggin, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, kerupuk tersebut kemudian dipasarkan melalui toko-toko grosir di sejumlah wilayah Madura, mulai Pamekasan, Sampang, hingga Sumenep.
Riyadi menuturkan, mulanya dirinya mencoba membikin tempe. Namun, memandang persaingan upaya nan cukup ketat, muncul pendapat untuk mengolah bahan baku kedelai menjadi kerupuk.
“Awalnya mencoba tempe. Cuma lantaran persaingan di bagian kerupuk tempe itu ketat, jadi saya berpikir untuk berubah kerupuk,” ujarnya.
Percobaan tidak langsung menghasilkan produk seperti nan dipasarkan saat ini. Kedelai terlebih dulu dipecah untuk memisahkan kulitnya, kemudian dicampur dengan tepung, dimasukkan ke dalam plastik, dan dimasak.
Proses tersebut dilakukan berulang kali hingga menghasilkan kerupuk nan dinilai mempunyai rasa dan tekstur nan layak dipasarkan. Setelah diperkenalkan kepada konsumen, respons nan diperoleh cukup baik sehingga produksi terus dikembangkan.
Perkembangan permintaan kemudian mendorong perubahan pada proses produksi. Pada masa awal, adukan kerupuk nan telah dimasak tetap dipotong satu per satu menggunakan pisau. Cara tersebut memerlukan waktu cukup lama untuk menghasilkan satu kilogram kerupuk.
Pemilik upaya kemudian beranjak menggunakan perangkat pemotong manual. Seiring bertambahnya produksi, sekitar akhir 2020 hingga awal 2021, proses pemotongan mulai menggunakan mesin berbahan bakar bensin.
Kini, aktivitas produksi melibatkan sekitar delapan pekerja. Tiga orang bekerja di dapur, satu orang menangani proses pemotongan sekaligus menjaga mesin, sedangkan pekerja lainnya menjalankan sejumlah pekerjaan pendukung.
Di tengah banyaknya produk sejenis, pemilik Kerupuk Tempe Dua Anak Kembar memilih mempertahankan komposisi kedelai sebagai pembeda. Menurutnya, produknya menggunakan kedelai dalam jumlah lebih banyak dibandingkan sejumlah kerupuk tempe produksi pabrikan dari luar Madura.
“Kalau kerupuk tempe lainnya, terutama dari pabrikan dari Jawa, tempenya kedelainya sedikit. Kalau karakter unik kerupuk ini, kedelainya banyak,” kata Riyadi.
Meski kapabilitas produksi telah mencapai sekitar 6 hingga 7 ton per bulan, pengembangan upaya tetap menghadapi keterbatasan modal. Ketersediaan modal dibutuhkan untuk menjaga stok bahan baku sekaligus memastikan produksi dapat melangkah secara berkelanjutan.
Di tengah upaya memperbesar usaha, pemilik tidak mau peningkatan produksi mengorbankan mutu. Dia berambisi upaya tersebut kelak dapat dilanjutkan oleh anaknya dengan tetap mempertahankan rasa nan selama ini diterima pelanggan.
“Yang paling krusial kualitas kudu dijaga nomor satu,” pungkas Riyadi. (Imamatul Hasanah/waw)

52 menit yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·