Kekeringan Larangan Tokol, Warga Rogoh Rp140 Ribu untuk Air Lima Hari

56 menit yang lalu 2

KABAR MADURA | Kekeringan nan melanda Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, membikin sebagian penduduk kudu mengeluarkan Rp140 ribu untuk membeli satu tangki air bersih. Air sebanyak itu hanya bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga selama sekitar lima hari.

Kondisi tersebut dialami Tihah, penduduk Dusun Tengah 1. Dia mengaku kekeringan sudah berjalan lebih dari dua bulan dan menyebabkan sumur nan selama ini menjadi sumber air keluarganya mengering.

“Untuk kebutuhan sehari-hari kadang saya beli satu tangki seharga 140 ribu, itu cukup untuk lima hari,” ujarnya saat ditemui, Senin (28/9/2026).

Apabila kebutuhan air terus berjuntai pada pembelian dengan pola tersebut, penduduk kudu berulang kali mengeluarkan biaya tambahan selama sumber air belum kembali normal.

Kekeringan di wilayah itu bukan kali pertama terjadi. Menurut warga, keterbatasan air menjadi persoalan nan berulang setiap memasuki musim tandus lantaran debit air sumur berkurang, apalagi sebagian mengering.

Namun, kondisi setiap rumah tangga berbeda. Sulaiman, penduduk Dusun Tengah 2, mengaku belum pernah membeli air selama musim tandus tahun ini lantaran sumur miliknya tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Alhamdulillah jika saya nggak sampai beli, lantaran sumur saya tetap kuat,” ujar Sulaiman.

Menurutnya, kondisi sumber air di wilayah tersebut biasanya mulai kembali normal sekitar November hingga Desember.

Di tengah kekeringan, penduduk juga mendapatkan support air bersih dari sejumlah pihak, di antaranya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, Pemerintah Desa Larangan Tokol, dan Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP).

Salah satu titik penyaluran berada di Masjid An-Nur, Dusun Tengah 2. Warga dapat mengambil air nan tersedia di letak tersebut untuk membantu memenuhi kebutuhan selama musim kemarau.

Sulaiman mengatakan pengambilan support air tidak menggunakan sistem pembagian jatah. Warga dapat mengambil sesuai kebutuhan selama persediaan tetap tersedia.

“Warga tidak dijatah untuk mengambil air, bisa mengambil sepuasnya dan Alhamdulillah semua penduduk kebagian support air,” ucapnya.

Meski support tersebut meringankan kebutuhan masyarakat, kekeringan nan berulang setiap tahun membikin sebagian penduduk tetap kudu mencari sumber air pengganti maupun mengeluarkan biaya sendiri ketika sumur mereka mengering. (Fadilatul Kamilah/waw)

Selengkapnya