KABAR MADURA | Sekilas, bonsai nan dipajang dalam aktivitas Pameran Bonsai Nasional di Pamekasan hanya terlihat sebagai tanaman dengan corak unik dan artistik. Namun, di kembali batang nan dibentuk dan dirawat bertahun-tahun, terdapat nilai ekonomi nan tidak sedikit.
Bagi Gilang, salah satu peserta dari Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPI) asal Pemalang, Jawa Tengah, bonsai bukan lagi sekadar hobi. Tanaman nan awalnya dirawat untuk kesenangan tersebut sekarang telah menjadi sumber penghasilan utama setelah dia menekuninya selama sekitar 13 tahun.
“Kalau saya semenjak 2013, berfaedah sekitar 13 tahun sudah menekuni ini,” ujar Gilang saat ditemui dalam Pameran Bonsai Nasional di Pamekasan, Senin (28/9/2026).
Dalam pameran nan digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Pamekasan ke-496 tersebut, Gilang membawa sejumlah jenis bonsai. Di antaranya sancang, serut dan waru. Sementara peserta lainnya juga memamerkan jenis santigi, beringin dan beragam tanaman lain nan dibentuk menjadi bonsai.
Menurut Gilang, waktu nan dibutuhkan untuk membentuk bonsai tidak bisa disamaratakan. Bonsai berukuran mini mulai terlihat bentuknya setelah dirawat sekitar dua hingga tiga tahun. Sementara bomsai berukuran besar memerlukan waktu lebih panjang, apalagi bisa lebih dari delapan tahun.
“Kalau nan ukurannya mini itu dua sampai tiga tahun sudah terlihat bentuknya. Kalau nan besar-besar mungkin di atas delapan tahun,” jelasnya.
Lamanya proses perawatan tersebut membikin bonsai mempunyai nilai nan berbeda-beda. Gilang mengatakan, nilai bonsai tidak mempunyai patokan tunggal, lantaran tanaman tersebut masuk dalam ranah seni.
Menurutnya, corak menjadi pertimbangan utama dalam menentukan harga, kemudian disusul ukuran dan jenis tanaman. Bonsai nan mempunyai prestasi alias nilai artistik tertentu juga dapat mempunyai nilai lebih tinggi.
“Pertama itu ditentukan corak dulu, kemudian kedua ukuran, nan ketiga adalah jenis. Itu jadi urutan untuk menentukan sebuah harga,” katanya.
Untuk menghasilkan bonsai nan berkualitas, perawatannya pun tidak sederhana. Setiap jenis tanaman mempunyai kebutuhan media tanam dan perawatan nan berbeda. Perawatan harian dilakukan dengan penyiraman, sedangkan pemupukan dan penanganan (benih)penyakit dilakukan secara berkala.
Selain itu, perawatan unik oleh trainer dilakukan setiap dua hingga tiga bulan sekali untuk menjaga kondisi dan corak tanaman.
Besarnya perhatian nan dibutuhkan terhadap tanaman tersebut juga membikin biaya perawatan tidak sedikit. Gilang menyebut kebutuhan tenaga kerja dan air untuk perawatan bonsai miliknya dapat mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta setiap bulan.
Meski demikian, biaya tersebut sebanding dengan kesempatan ekonomi nan diperoleh. Dari upaya bonsai nan dijalankannya, Gilang mengaku dapat meraup omset kotor sekitar Rp30 juta hingga Rp60 juta setiap bulan.
“Omset dalam sebulan mungkin bisa sampai rata-rata Rp30 sampai Rp60 juta dalam satu bulan. Itu omset kotor,” ungkapnya.
Gilang mengatakan, ketertarikannya terhadap bonsai pada awalnya memang berangkat dari hobi. Seiring waktu, aktivitas tersebut berkembang menjadi bagian dari ekonomi imajinatif nan sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya.
“Awalnya memang kegemaran kami. Selain untuk menghidupi keluarga, juga sudah menjadi ekonomi kreatif,” tuturnya.
Dia menilai penyelenggaraan pameran bonsai di Pamekasan dapat memberikan akibat lebih panjang daripada sekadar meramaikan aktivitas Hari Jadi Pamekasan. Menurutnya, pameran dapat menjadi pintu masuk bagi munculnya fans baru sekaligus menggerakkan ekonomi imajinatif daerah.
“Dampaknya besar sekali. Bukan sekarang, tapi kelak setelah beberapa bulan alias apalagi beberapa tahun setelah pameran selesai, bakal tumbuh penggemar-penggemar baru, sehingga bisa menggerakkan ekonomi imajinatif di suatu daerah,” katanya.
Pameran tersebut juga menjadi kesempatan bagi para peserta untuk memperkenalkan sekaligus menjual tanaman nan mereka bawa. Gilang menyebut sebagian bonsai milik peserta sudah terjual.
Bagi Gilang, perkembangan bonsai juga tidak bisa dilepaskan dari kekompakan komunitas. Ia berambisi para fans bonsai, mulai dari petani hingga kolektor, dapat menjaga kebersamaan agar organisasi semakin berkembang dan mempunyai hubungan nan baik dengan pemerintah.
Dia berambisi support pemerintah terhadap aktivitas serupa dapat terus ditingkatkan sehingga bonsai tidak hanya dipandang sebagai tanaman hias, tetapi juga sebagai bagian dari potensi ekonomi imajinatif nan dapat dikembangkan. (ina/waw)

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·