portalmadura.com – Bencana kekeringan di Kabupaten Sumenep kian meluas seiring berjalannya puncak musim tandus tahun 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep mencatat setidaknya 11 desa dari empat kecamatan sekarang berada dalam status kering kritis, sementara tiga desa lainnya di Kecamatan Gayam mulai melaporkan krisis air serupa.
Adapun 11 desa nan mengalami kondisi kering kritis tersebut tersebar di Kecamatan Pasongsongan (Desa Montorna, Prancak, Lebeng Barat, dan Campaka), Kecamatan Talango (Desa Kombang dan Poteran), Kecamatan Rubaru (Desa Basoka dan Mandala), serta Kecamatan Batuputih (Desa Batuputih Daya, Batuputih Laok, dan Larangan Barma).
Kepala BPBD Sumenep, Kamiluddin, mengonfirmasi bahwa armada penyuplai air telah dikerahkan ke lokasi-lokasi terdampak. Setiap tangki membawa 5.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, seperti memasak, minum, dan mandi.
“Pengiriman air memang tidak dilakukan setiap hari lantaran pasokan satu tangki biasanya cukup untuk kebutuhan beberapa hari. Namun, potensi ekspansi kekeringan tetap ada hingga puncak tandus berakhir,” ujar Kamiluddin pada Rabu (9/9/2026).
Kamiluddin menambahkan, laporan krisis air terbaru juga datang dari Kecamatan Gayam, tepatnya di Desa Pancor, Gendang Barat, dan Prambanan. Di wilayah tersebut, penduduk sementara mengangkut air dari sumber terdekat menggunakan mobil pikap nan dimodifikasi dengan tandon berkapasitas 1.200 liter. BPBD Sumenep saat ini tengah mengupayakan support alokasi biaya Belanja Tak Terduga (BTT) dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memperluas jangkauan pengedaran air.
Upaya penanganan jangka panjang melalui pembuatan sumur bor di beberapa titik sering kali menghadapi hambatan geografis. Di beberapa letak seperti Desa Montorna, debit air tanah sangat terbatas, alias air nan keluar mempunyai kandungan mineral nan tidak layak konsumsi.
Merespons situasi ini, Anggota Komisi IV DPRD Sumenep, Sami’oeddin, mendesak Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk mengalokasikan anggaran unik serta menambah armada pengedaran air bersih ke wilayah-wilayah terdampak.
“Wilayah nan mengalami status kering kritis kudu menjadi prioritas. Selain penanganan darurat, Pemkab Sumenep perlu merealisasikan pembangunan penampungan air hujan alias embung sebagai solusi jangka panjang, seperti nan telah diterapkan secara berdikari oleh penduduk Desa Pinggirpapas,” tegas politisi PKB tersebut.
Sementara itu, Moh Ali Rizqon, seorang penduduk Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, berambisi agar pasokan support air dari pemerintah dapat melangkah secara rutin tanpa ada keterlambatan.
“Di desa kami sangat susah menemukan sumber air meski sudah dibor. Oleh lantaran itu, kami sangat berjuntai pada pasokan tangki bersih. Kami berambisi distribusinya tidak terlambat selama puncak tandus ini,” ungkap Ali.

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·