KABAR MADURA | Kesuksesan tidak selalu lahir dari keadaan nan serba mudah. Bagi Imroatun Jamilah nan berasal dari Kampung Madegan, Kelurahan Polagan, Sampang, beragam prestasi di bagian Al-Qur’an dan literasi merupakan hasil perjalanan panjang, ketekunan belajar, keberanian mencoba, serta sejumlah kegagalan nan pernah dilewatinya.
Salah satu pencapaian tertingginya adalah meraih Juara 1 kategori putri dalam perlombaan nan diselenggarakan The Quran Society National Textile University, Faisalabad, Pakistan, pada 13 Januari 2021.
Prestasi itu bermulai dari kesempatan nan datang tidak terduga saat pandemi Covid-19 berlangsung. Dosennya nan mendaftarkan dirinya ke kesempatan arena tersebut kemudian mengantarkannya menuju kemenangan.
Di tengah kesibukan kuliah, dia membiayai sendiri UKT-nya menggunakan duit bingkisan lomba dan danasiwa nan diperoleh dari aktif mewakili kampus di beragam ajang. Tak hanya berprestasi di panggung kompetisi, dedikasi akademiknya juga terbukti dengan keberhasilannya menjadi wisudawati terbaik di program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
Namun perjalanan kompetisinya tidak selalu mulus. Imroatun pernah menembus babak sepuluh besar semifinal lomba esai nasional di Universitas Andalas, Padang, namun langkah itu terhenti bukan lantaran kemampuan, melainkan lantaran situasi pandemi dan tidak adanya izin keberangkatan dari Ketua Program Studi demi keselamatan.
Kendati demikian, halangan itu tidak menyurutkan semangatnya. Setiap waktu senggang tetap diisi dengan aktivitas nan mendukung perkembangan diri seperti membaca buku, murojaah mahfuz di masjid, alias beristirahat untuk memulihkan tenaga.
Ada pula momen nan paling membekas sebagai pengalaman pertama ialah mewakili Kabupaten Sampang ke tingkat Provinsi Jawa Timur dalam arena LPTQ. Rasa gugup dan takut begitu kuat, apalagi setelah gurunya memuji penampilan peserta lain nan pujian itu justru terasa menjadi beban untuk tampil sempurna. Saat naik panggung, kegelisahannya berpengaruh, dia sempat terpejam saat mencapai nada tinggi, suhu dingin ruangan membuatnya makin tidak nyaman, dan penampilannya tidak melangkah sebagaimana diharapkan. Setelah turun, dia menangis merasa gagal.
Kegagalan itu justru menjadi pelajaran berharga. Ia menyadari bahwa keberhasilan tidak hanya soal keahlian teknis, melainkan juga ketenangan dan kesiapan mental.
“Pelajaran nan dapat saya petik dari itu adalah jangan berlebihan dalam ketakutan. Ketenangan itu sangat penting, dan memang butuh proses untuk mencapai fase itu,” ujarnya, Senin (28/9/2026).
Baginya, MTQ bukan sekadar membaca Al-Qur’an dengan bunyi indah, melainkan juga menjaga hati nan justru perihal ini lebih susah daripada upaya bentuk semata.
Di kembali kemenangan nan terlihat, ada perjuangan nan jarang diketahui orang lain. Imroatun pernah mengendarai sepeda ontel di tengah hujan saat waktu Magrib hanya demi mengikuti aktivitas belajar.
“Orang mungkin hanya bakal memandang ketika kita sudah ada di puncak nan tinggi, tetapi mereka tidak pernah memandang kerasnya kita dalam berupaya dan belajar selama bertahun-tahun,” katanya, Senin (28/9/2026).
Imroatun percaya pengetahuan dan kesuksesan tidak bisa didapat secara instan melainkan butuh waktu, ketekunan, dan kesediaan melewati beragam prosesnya.
Kecintaannya pada menulis tumbuh sejak sekolah dasar, bermulai dari membaca kitab harian kakaknya. Sejak saat itu, dia mulai menuliskan emosi dan imajinasinya dan berkembang lebih pesat saat duduk di bangku SMA dengan meraih juara 2 lomba cipta puisi FLS2N dan juara 2 lomba baca puisi tingkat kabupaten.
Melalui lomba menulis cerpen nan ditemukannya di Facebook, karyanya pertama kali dimuat dalam kitab antologi “Nostalgia Rasa” sebagai salah satu dari 30 kontributor.
Karya-karyanya juga dari aliran nan lain seperti antologi puisi “Sajak Sang Pejalan”, novel “Cahaya Mimpi” nan kemudian diterbitkan ulang dalam jenis revisi, dan kumpulan tulisan motivasi berjudul “Aku Ingin Pulang”.
Baginya, membaca dan menulis adalah dua perihal nan saling melengkapi. Kebiasaan membaca inilah nan menjadi sumber inspirasi dan menulis menjadi wadah menumpahkan gagasan, perasaan, dan pengalaman nan dimilikinya.
Meski telah berkarya dan berprestasi, perjalanannya belum usai. Ia mempunyai deretan cita-cita berupa menunaikan ibadah haji alias umrah, apalagi menghajikan kedua orang tuanya, mengkhatamkan mahfuz 30 juz Al-Qur’an, berjamu ke Mesir, serta meraih prestasi di MTQ tingkat Provinsi Jawa Timur dan nasional.
Di atas segalanya, dia berambisi senantiasa tetap rendah hati dan tak pernah merasa cukup dalam menuntut ilmu.
“Karena sejatinya Allah-lah nan memberikan segala perihal nan telah saya dapatkan selama ini,” ungkapnya, Senin (28/9)2026). (Muhaimin/waw)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·