Bukan Sekadar Gerakan Tangan, Bahasa Isyarat Penting untuk Ruang yang Inklusif

1 jam yang lalu 3

KABAR MADURA | Bahasa isyarat bukan sekadar rangkaian aktivitas tangan untuk menyampaikan pesan. Bagi masyarakat tuli, bahasa isyarat merupakan bagian krusial dalam berkomunikasi, memperoleh informasi, mengikuti pembelajaran, hingga berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, keberadaan bahasa isyarat tidak hanya berangkaian dengan langkah seseorang berkomunikasi, tetapi juga menjadi bagian krusial dalam menciptakan ruang nan lebih inklusif bagi semua orang.

Setiap 23 September diperingati sebagai Hari Bahasa Isyarat Internasional. Pada 2026, peringatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian International Week of Deaf People nan berjalan pada 21-27 September dengan tema “Declaring Deaf People’s Human Rights” alias menyuarakan kewenangan asasi masyarakat Tuli.

Tema tersebut menegaskan bahwa bahasa isyarat tidak semata-mata berfaedah sebagai perangkat komunikasi. Lebih dari itu, bahasa isyarat berangkaian dengan pemenuhan kewenangan masyarakat Tuli untuk dapat berkomunikasi, mendapatkan informasi, memperoleh pendidikan, dan berperan-serta secara setara dalam kehidupan bermasyarakat.

Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa membangun lingkungan nan inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas. Cara berkomunikasi dan sikap masyarakat juga mempunyai peran krusial agar setiap orang dapat berinteraksi tanpa hambatan.

Upaya menciptakan komunikasi nan lebih inklusif pun tidak kudu dimulai dari perihal nan rumit. Masyarakat dapat terlebih dulu mengenali sejumlah ungkapan dasar dalam bahasa isyarat, seperti sapaan, perkenalan, ucapan terima kasih, hingga ungkapan untuk meminta bantuan.

Kemampuan sederhana tersebut dapat menjadi bekal ketika seseorang kudu berinteraksi dengan kawan tuli dalam kehidupan sehari-hari. Hal terpenting bukan hanya keahlian menguasai bahasa isyarat, tetapi juga kemauan untuk memahami dan menyesuaikan langkah berkomunikasi.

Sekolah dan kampus juga mempunyai peran krusial dalam membangun kebiasaan komunikasi nan inklusif. Pengenalan bahasa isyarat dapat menjadi bagian dari aktivitas edukasi agar siswa dan mahasiswa memahami bahwa setiap orang mempunyai langkah berkomunikasi nan bisa berbeda.

Pembelajaran tersebut sekaligus dapat menumbuhkan kepekaan terhadap kebutuhan kawan alias orang lain di lingkungan sekitar. Dengan begitu, perbedaan langkah berkomunikasi tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian dari keberagaman.

Di tengah perkembangan teknologi, aksesibilitas juga perlu diperhatikan dalam penyampaian info digital. Konten nan dilengkapi bahasa isyarat maupun teks dapat membantu memperluas akses info bagi masyarakat tuli.

Karena itu, kreator konten juga mempunyai ruang untuk berkontribusi dalam menciptakan ekosistem digital nan lebih ramah bagi semua. Menambahkan teks, menyediakan translator bahasa isyarat, alias mempertimbangkan kebutuhan audiens dengan halangan komunikasi merupakan langkah nan dapat dilakukan sesuai dengan jenis konten.

Pada akhirnya, lingkungan nan inklusif dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Tidak mengejek langkah seseorang berkomunikasi, memberikan kesempatan untuk menyampaikan pesan, menggunakan tulisan ketika diperlukan, serta bersedia belajar bahasa isyarat merupakan beberapa corak sikap nan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ruang nan inklusif bukan sesuatu nan dibangun oleh satu pihak saja. Kesediaan masyarakat untuk belajar, memahami, dan menyesuaikan langkah berkomunikasi menjadi langkah mini nan dapat membikin hubungan sehari-hari terasa lebih terbuka, setara, dan nyaman bagi semua orang. (ina)

Selengkapnya