Hari Jadi ke-757 Sumenep: ASN Wajib Mengenakan Baju Adat Keraton, Pelajar Pakai Batik

4 jam yang lalu 2

SUMENEP, koranmadura.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur, mewajibkan aparatur sipil negara (ASN), pegawai non-ASN, dan pegawai badan upaya milik wilayah (BUMD) mengenakan baju budaya Keraton Sumenep pada 29-31 Oktober 2026.

Kebijakan tersebut diterapkan untuk memperingati Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep sekaligus melestarikan budaya dan memperkuat identitas daerah.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, penggunaan baju budaya di lingkungan pemerintahan diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap sejarah dan tradisi lokal.

“Kami mau menumbuhkan kecintaan terhadap budaya wilayah sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap lestari dan dikenal oleh generasi mendatang,” kata Bupati Fauzi, Kamis, 29 Oktober 2026.

Menurutnya, baju budaya Keraton Sumenep tidak hanya berfaedah sebagai busana tradisional, tapi juga merepresentasikan sejarah dan kebesaran budaya nan menjadi bagian dari identitas masyarakat Sumenep.

“Baju Adat Keraton tidak hanya menjadi simbol kebanggaan terhadap warisan leluhur, tetapi juga corak nyata kepedulian dalam menjaga tradisi agar tetap hidup di era apa pun,” ujarnya.

Pelajar dan mahasiswa pakai batik

Ketentuan penggunaan busana budaya tersebut diatur dalam Surat Edaran Bupati Sumenep Nomor 6 Tahun 2026 tentang Pemakaian Baju Adat Keraton.

Selain ASN dan pegawai di lingkungan Pemkab Sumenep, surat info itu juga mengimbau pegawai lembaga vertikal, pegawai badan upaya milik negara (BUMN), serta pengajar dan pembimbing di lembaga pendidikan swasta untuk mengenakan baju budaya Keraton Sumenep lengkap.

Sementara itu, pelajar dan mahasiswa di Kabupaten Sumenep diminta mengenakan Batik Sumenep pada 30-31 Oktober 2026.

Meski demikian, ketentuan tersebut tidak bertindak bagi ASN dan pegawai non-ASN nan dalam menjalankan tugasnya kudu mengenakan seragam khusus.

Pengecualian itu mencakup paramedis nan sedang melakukan operasi pasien serta petugas keamanan, seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan petugas pemadam kebakaran nan bekerja di lapangan.

Bupati Fauzi menegaskan, pelestarian budaya tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Partisipasi beragam pihak, termasuk aparatur dan lembaga pendidikan, diperlukan agar tradisi wilayah tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Selebihnya, dia berambisi peringatan Hari Jadi Sumenep tidak berakhir pada aktivitas seremonial, tapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat identitas budaya masyarakat.

“Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumenep tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum untuk memperkuat identitas budaya, menumbuhkan kebanggaan daerah, dan meneruskan nilai-nilai luhur Keraton Sumenep kepada generasi mendatang,” tambahnya. (FATHOL ALIF/DIK)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0