BADKO HMI Jatim Kritik Acara Sumpah Pemuda Polda Jatim, Soroti Goyang-Goyang dan Nilai Santri

1 jam yang lalu 3

BADKO HMI Jatim Kritik Acara Sumpah Pemuda Polda Jatim, Soroti Goyang-Goyang dan Nilai Santri

LIMADETIK.COM, SURABAYA – Peringatan Hari Sumpah Pemuda semestinya menjadi ruang untuk memperkuat semangat kebangsaan, daya kritis, dan integritas generasi muda. Namun, aktivitas nan digelar Polda Jawa Timur dengan melibatkan komponen mahasiswa, pemuda, dan santri justru menuai kritik dari Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Jawa Timur.

Kritik tersebut disampaikan M. Shohir, Ketua BADKO HMI Jatim Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP). Ia menilai, seremoni nan lebih menonjolkan intermezo berpotensi mengaburkan substansi peringatan Sumpah Pemuda sebagai tonggak sejarah perjuangan bangsa.

“Di saat pemuda di ibu kota Jakarta turun ke jalan menyuarakan aspirasi dan substansi kebangsaan, Polda Jatim justru menyuguhkan intermezo seremonial nan berpotensi mengikis nilai moral pemuda dan santri,” ujar Shohir.

Menurutnya, kritik tersebut bukan semata-mata penolakan terhadap intermezo dalam sebuah kegiatan, melainkan corak keprihatinan atas pergeseran makna peringatan Sumpah Pemuda.

Ia menilai, momentum berhistoris nan semestinya menjadi ruang konsolidasi gagasan, penyampaian aspirasi, dan penguatan kepedulian sosial justru berisiko kehilangan prinsip ketika lebih banyak diisi aktivitas intermezo tanpa akibat substantif bagi kemajuan generasi muda.

Shohir juga membandingkan aktivitas tersebut dengan aktivitas mahasiswa dan pemuda di Jakarta yang, menurutnya, konsisten menyampaikan kritik terhadap kebijakan serta mengangkat beragam persoalan kebangsaan.

“Ketika komponen aktivitas mahasiswa dan pemuda di Jakarta konsisten turun ke jalan menyampaikan gagasan, kritik kebijakan, serta isu-isu kebangsaan, Polda Jawa Timur justru terkesan meninabobokan pemuda dengan hura-hura dan goyang-goyang nan tidak memberikan akibat substantif bagi kemajuan daerah,” katanya, Kamis (29/10/2026).

Soroti Keterlibatan Santri

Selain persoalan substansi kebangsaan, Shohir menyoroti keterlibatan komponen santri dalam aktivitas tersebut. Ia menganggap sesi intermezo dengan lagu nan dinilai tidak bernuansa religi berpotensi bertentangan dengan nilai moral nan selama ini ditanamkan para ulama, kiai, dan tokoh kepercayaan di Jawa Timur.

Menurutnya, lembaga kepolisian semestinya turut mengambil peran strategis dalam membangun karakter generasi muda melalui aktivitas nan edukatif, memperkuat integritas, serta menumbuhkan kesadaran sosial.

“Sesi goyang-goyang dengan lagu nan tidak bernuansa religi sangat berpotensi merusak fondasi nilai moralitas nan sudah ditanamkan oleh ulama, kiai, dan tokoh kepercayaan di Jawa Timur,” tegasnya.

Shohir menekankan, peringatan Sumpah Pemuda tidak semestinya berakhir pada seremoni tahunan. Momentum tersebut perlu diarahkan untuk melahirkan gagasan, memperkuat kepemimpinan, serta mendorong keterlibatan nyata pemuda dalam menjawab persoalan masyarakat.

Ia berambisi peringatan Sumpah Pemuda ke depan lebih mengedepankan substansi kebangsaan dan pendidikan karakter dibandingkan sekadar kemeriahan acara.

“Peringatan Hari Sumpah Pemuda semestinya dikembalikan pada ruh aslinya: wadah konsolidasi ide, penguatan kepemimpinan, dan dorongan tindakan nyata untuk kemajuan bangsa, bukan sekadar aktivitas seremonial dan panggung intermezo nan mendegradasi moralitas santri dan kesadaran kritis pemuda,” pungkas Shohir.

Penulis : Joko

Editor : Wahyu

Follow WA Channel limadetik.com untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari Follow

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0