KABAR MADURA | Berawal dari modal Rp1 juta dan hanya belasan pangkas busana membawa Fahrul Amirullah menekuni upaya thrift. Usaha busana jejak nan awalnya dipasarkan secara daring itu sekarang terus berkembang hingga mempunyai toko di Jalan Raya Burneh, Bangkalan. Bagi Fahrul, upaya thrift bukan sekadar soal menjual pakaian, tetapi tentang kejelian membaca selera pasar dan “seni” memilih barang.
AINOR ROFIK, KOTA
Bagi sebagian orang, busana jejak mungkin hanya peralatan nan sudah tidak terpakai. Namun, di tangan Fahrul, busana jejak justru menjadi kesempatan upaya nan terus berkembang.
Enam tahun lalu, Fahrul mengambil keputusan nan tidak mudah. Dia memilih meninggalkan pekerjaannya dan mencoba membuka upaya sendiri. Modal nan dibawanya pun tidak besar, hanya sekitar Rp1 juta.
Ide tersebut bermulai dari saran sepupunya untuk mencoba berdagang busana bekas. Fahrul kemudian memberanikan diri membeli belasan pangkas busana dan memasarkannya secara daring.
“Saya nekat untuk keluar dari kerjaan demi buka upaya ini dengan modal hanya Rp1 juta,” ujarnya, Selasa (29/9/2026).
Dengan modal tersebut, dia hanya mendapatkan sekitar 14 hingga 17 pangkas pakaian. Jumlahnya apalagi tidak sampai 20 potong.
Saat itu, Fahrul tetap bertanya-tanya apakah busana jejak betul-betul mempunyai pasar. Namun, keraguan itu perlahan terjawab ketika dagangannya mulai menemukan pembeli.
Barang nan awalnya hanya dipasarkan secara online rupanya tidak memerlukan waktu lama untuk terjual. Sekitar satu minggu setelah mulai berjualan, sudah ada busana nan laku.
“Eh, rupanya satu minggu itu sudah laku. Akhirnya jadi keterusan sampai sekarang,” ceritanya.
Dari belasan pangkas pakaian, upaya itu kemudian terus berjalan. Empat tahun terakhir, Fahrul apalagi mulai membuka ruko di Jalan Raya Burneh, Bangkalan.
Perjalanan itu membikin Fahrul memahami bahwa upaya thrift bukan sekadar urusan membeli peralatan jejak kemudian menjualnya kembali. Ada keahlian membaca pasar, memilih barang, menentukan harga, hingga memahami karakter pembeli nan kudu terus diasah.
Bagi Fahrul, setiap wilayah mempunyai selera pasar nan berbeda. Di Bangkalan, misalnya, kemeja menjadi salah satu jenis busana nan cukup sigap terjual di tokonya.
Pakaian tersebut dinilai mempunyai kegunaan nan beragam. Bisa digunakan untuk nongkrong, kuliah maupun aktivitas nan lebih formal. Kondisi itu pula nan membikin busana tertentu mempunyai pasar tersendiri, termasuk di kalangan santri.
“Kalau di Bangkalan, khususnya di toko saya, paling sigap ke kaos. Bisa dipakai hangout, formal, buat kuliah juga bisa, apalagi anak pesantren,” jelasnya.
Namun, di kembali kesempatan tersebut, ada tantangan nan kudu dihadapi. Fahrul menyebut, mental menjadi salah satu modal krusial bagi pelaku upaya thrift.
Tidak seperti busana baru nan umumnya mempunyai kondisi seragam, peralatan thrift datang dengan kualitas nan beragam. Dalam satu bal, kondisi busana nan didapat belum tentu semuanya bagus.
Di situlah, menurut Fahrul, letak tantangan sekaligus karakter upaya nan dijalaninya.
“Menurut saya, itu bukan bisa dibilang tantangan saja, tapi bisa dibilang seni. Seni untuk nge-thrift,” ungkapnya.
Kualitas peralatan bakal menentukan gimana modal dapat kembali berputar. Ketika mendapatkan peralatan bagus, proses penjualan relatif lebih mudah. Sebaliknya, peralatan dengan kondisi kurang baik memerlukan langkah tersendiri agar tetap mempunyai nilai jual.
Dalam sehari, toko Fahrul bisa menjual sekitar 20 pangkas busana alias apalagi lebih. Jumlah tersebut tentu berjuntai pada kondisi peralatan dan minat pembeli.
Harga nan ditawarkan pun beragam. Ada busana nan dijual dengan skema Rp100 ribu untuk dua hingga empat potong. Sementara itu, busana dengan merek dan kualitas tertentu dipatok dengan nilai berbeda.
Untuk jaket bermerek, misalnya, harganya berkisar Rp100 ribu hingga Rp170 ribu, berjuntai pada merek dan kondisi barang.
Bagi pembeli, menemukan busana bagus dengan nilai terjangkau menjadi daya tarik tersendiri. Tetapi bagi Fahrul, mendapatkan peralatan berbobot memerlukan ketelitian.
Dia tidak mau menyamakan seluruh busana thrift. Setiap peralatan kudu dilihat satu per satu, mulai dari kondisi hingga mereknya.
“Thrift itu sebenarnya seperti seni untuk memilih. Jadi perlu dipilih. Kalau pandai memilih, istilah anak sekarang jackpot,” tuturnya.
Prinsip tersebut juga diterapkan Fahrul ketika menentukan harga. Barang nan kondisinya bagus dan mempunyai merek tertentu bakal dipisahkan dari peralatan lainnya.
Dia berupaya menyesuaikan nilai dengan kondisi busana sehingga pembeli mendapatkan peralatan sesuai dengan duit nan dikeluarkan.
“Kalau barangnya bagus ya bagus, jika jelek nggak mungkin saya kasih nilai mahal,” katanya.
Enam tahun menjalani upaya thrift membikin Fahrul memandang bahwa busana jejak bukan sekadar soal nilai murah. Ada pasar, selera dan organisasi nan membikin upaya tersebut tetap bertahan.
Dia juga tidak memandang busana thrift dan busana baru sebagai dua pasar nan kudu saling berhadapan. Keduanya mempunyai karakter konsumen masing-masing.
“Beda banget, punya sirkel masing-masing. Berada di sirkelnya masing-masing,” pungkasnya. (fik/zul)

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·