Di Hadapan Presiden Prabowo, Sang Kiai Menyampaikan Pesan untuk Negeri
Oleh: Muhammad Fauzi
Mahasiswa IAI Al-Khairat
__________________________________
OPINI — Pidato KH Hasan Abdullah Sahal, ketua Pondok Modern Darussalam Gontor, di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo, 19 September, menarik perhatian publik.
Bukan semata lantaran lawakdan satire nan disampaikannya, melainkan lantaran pidato tersebut memperlihatkan bahwa kritik dapat disampaikan dengan bahasa nan ringan, santun, sekaligus tetap mempunyai substansi.
Candaan seperti “Sorry yee” dan ungkapan bahwa dirinya kudu “cari muka” lantaran menunggu kehadiran Presiden memang mengundang tawa. Namun, di kembali lawaktersebut terdapat pesan nan jauh lebih serius. KH Hasan menegaskan komitmen Gontor untuk terus mengabdi melalui jalur pendidikan dan tidak menjadikan politik kekuasaan sebagai orientasi utama.
Di sinilah pidato tersebut menjadi menarik jika dibaca dari perspektif pendidikan. Pendidikan bukan semata-mata persoalan transfer pengetahuan, tetapi juga proses pembentukan karakter, sikap, dan budaya komunikasi. Cara seseorang berbincang merupakan bagian dari pendidikan itu sendiri. Bahasa mengajarkan gimana seseorang menghormati orang lain, menyampaikan kritik, berbeda pendapat, sekaligus menempatkan diri di ruang publik.
Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika ruang publik kita dipenuhi komunikasi nan keras dan tidak jarang vulgar. Diksi seperti “goblok”, “ndasmu”, alias beragam corak umpatan lainnya semakin mudah ditemukan dan kemudian diperbanyak melalui media sosial.
Persoalannya bukan sekadar soal pilihan kata. Lebih jauh, perihal itu berangkaian dengan keteladanan komunikasi nan diterima masyarakat, terlebih ketika bahasa tersebut keluar dari pejabat publik alias tokoh nan mempunyai pengaruh besar.
Dalam kajian komunikasi, style penyampaian nan garang dapat dipahami sebagai pola komunikasi dominan nan berpotensi mengabaikan kewenangan maupun posisi orang lain. Wheeless dan Grotz mengaitkan pola komunikasi semacam ini dengan munculnya bentrok dan resistensi. Karena itu, komunikasi publik sesungguhnya bukan hanya persoalan gimana pesan disampaikan, tetapi juga gimana pesan tersebut ikut membentuk budaya sosial.
Lalu, pendidikan seperti apa nan sedang kita bangun jika ruang publik justru memberikan contoh bahwa bahasa keras, penghinaan, dan umpatan dapat dianggap sebagai sesuatu nan lumrah?
Pertanyaan ini krusial lantaran pendidikan karakter tidak hanya berjalan di sekolah, pesantren, alias perguruan tinggi. Masyarakat juga belajar dari apa nan mereka lihat dan dengar setiap hari. Pejabat publik, tokoh agama, guru, orang tua, dan figur publik lainnya pada dasarnya menjadi bagian dari ruang pendidikan sosial.
Dalam konteks inilah pidato KH Hasan Abdullah Sahal mempunyai relevansi nan lebih luas. Ia menunjukkan bahwa kritik tidak kudu kehilangan etika dan lawaktidak kudu kehilangan substansi.
Seorang pemimpin alias tokoh publik dapat menyampaikan pesan nan tajam tanpa kudu merendahkan pihak lain. Bahkan, satire nan disampaikan secara tepat dapat membuka ruang refleksi tanpa kudu menciptakan permusuhan.
Tradisi pendidikan Gontor sendiri menempatkan pengetahuan dan etika sebagai dua perihal nan tidak semestinya dipisahkan. Pengetahuan membentuk keahlian berpikir, sementara etika memberikan arah dalam menggunakan pengetahuan tersebut. Prinsip ini relevan bukan hanya bagi para santri, tetapi juga bagi kehidupan publik secara lebih luas.
Indonesia memerlukan pendidikan nan bisa melahirkan manusia pandai sekaligus mempunyai keahlian mengendalikan kata-kata, menghormati perbedaan, dan memahami akibat dari setiap komunikasi.
Sebab, kemajuan teknologi komunikasi tanpa diiringi kedewasaan dalam berkomunikasi hanya bakal mempercepat penyebaran konflik.
Pidato sang ustad di hadapan Presiden akhirnya memberi kita satu pelajaran sederhana: pendidikan karakter tidak berakhir di ruang kelas. Ia hidup dalam bahasa, sikap, dan keteladanan nan datang setiap hari di ruang publik.
Maka, pesan terpenting dari pidato tersebut bukan semata-mata gimana seorang ustad berbincang kepada Presiden, melainkan gimana kita belajar berbincang sebagai sebuah bangsa.
Jika Indonesia mau membangun manusia nan berilmu sekaligus berkarakter, mungkin salah satu langkah awalnya adalah belajar kembali menggunakan bahasa nan cerdas, kritis, santun, dan beradab.
Penulis : Muhammad Fauzi
Editor : Wahyu
Follow WA Channel limadetik.com untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari Follow

14 jam yang lalu
5








English (US) ·
Indonesian (ID) ·