PAMEKASAN || KLIKMADURA – Musik tradisional tidak selalu lahir dari panggung megah. Kadang, dia tumbuh dari bunyi kentungan, lorong-lorong kampung, dan kebiasaan sederhana masyarakat nan mau membangunkan tetangganya untuk sahur.
Dari tradisi sederhana itulah musik daul di Pamekasan menemukan jalan panjangnya. Kini, daul bukan sekadar bunyi-bunyian pengiring sahur. Ia menjelma menjadi identitas kesenian wilayah nan terus hidup, berkembang, apalagi menembus panggung nasional hingga Istana Negara.
LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan
Siang di Pamekasan terasa terik pada Selasa (22/9/2026). Musim tandus tetap membentang. Angin muson timur membawa debu nan sesekali beterbangan di sepanjang jalan.
Kuda besi sang wartawan terus melaju di atas aspal Kabupaten Pamekasan. Tujuannya, sebuah rumah sederhana di Kelurahan Parteker.
Rumah itu bercat kuning. Beberapa bagian temboknya dihiasi ukiran kayu. Di laman depan, sebuah kerangka dekor musik daul terparkir rapi.
Seorang laki-laki mengenakan topi hitam keluar dari rumah. Senyum tipis mengembang di wajahnya. Dialah Hannan Thahir, pembina Daul Semut Ireng Pamekasan.
“Silakan duduk, maaf menunggu lama,” katanya sembari tersenyum.
Dari tempat sederhana itu, cerita panjang tentang musik daul mengalir. Hannan, laki-laki kelahiran 1964, seperti membuka kembali lembar demi lembar perjalanan sebuah kesenian nan telah melewati zaman. Cerita itu bermulai pada era 1970-an.
Saat itu, masyarakat Pamekasan mempunyai tradisi membangunkan penduduk untuk sahur pada bulan Ramadan. Kentungan dan beragam perangkat musik tradisional menjadi sarana untuk menghidupkan suasana kampung menjelang waktu makan sahur.
Bunyinya sederhana. Namun dari bunyi nan berulang setiap malam itu, perlahan lahir sesuatu nan lebih besar. Tahun 1984 menjadi salah satu titik krusial dalam perjalanan tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas (SMA), Hannan dipercaya penduduk Kelurahan Parteker untuk menciptakan instrumen musik dari beragam perangkat tradisional nan tersedia. Latar belakang Hannan sebagai penyuka musik menjadi bekal tersendiri.
“Saya itu dulu suka main gitar, suka ngamen bahkan. Mungkin itu nan mendasari penduduk sekitar sini agar saya bisa menciptakan musik dari perangkat tradisional,” jelasnya.
Dari tangan para pemuda Parteker, alat-alat sederhana itu kemudian dirangkai menjadi instrumen musik.
Musik tersebut semakin dikenal. Sejumlah organisasi mulai menggelar perlombaan, di antaranya Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), beberapa media massa, dan organisasi lainnya.
Sekumpulan anak muda nan mencintai musik tradisional itu kemudian diberi nama Generasi Muda Parteker (Gempar) oleh Hannan.
Pada 1986, nama tersebut berubah menjadi Karang Taruna. Namun, aktivitas golongan itu kemudian berhujung dan sempat vakum hingga beberapa tahun.
Waktu berlalu. Musik nan pernah hidup di tengah masyarakat itu kembali menemukan napasnya pada 1999.
Saat itu, Pulau Madura mengalami pemadaman listrik selama sekitar tiga bulan. Di tengah gelapnya malam, masyarakat mencari langkah untuk tetap berkegiatan sekaligus menjaga lingkungan dan hewan piaraan mereka.
Dari Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, penggunaan alat-alat musik tradisional kembali berkembang.
Suara nan dulu digunakan untuk membangunkan penduduk sahur kembali terdengar. Kali ini, bunyinya mulai dirangkai menjadi pertunjukan.
Hannan kemudian memanggil kembali teman-temannya nan pernah berkegiatan berbareng pada 1984.
“Lalu saya panggil teman-teman saya di tahun 1984 itu dan saya tukar namanya menjadi reuni. Nah, baru di tanggal 7 bulan 7 tahun 1999 saya tukar lagi namanya,” ungkap Hannan.
Namun, perjalanan menuju nama Semut Ireng belum selesai. Hannan mau nama golongan musik itu bukan sekadar nama. Harus ada makna nan melekat di dalamnya.
Semula muncul nama Bilis Celleng. Namun, nama tersebut dinilai susah mendapatkan kepanjangan nan sesuai. Kemudian muncul nama Semut Celleng, tetapi kembali dirasa kurang pas. Hingga akhirnya pilihan jatuh pada nama Semut Ireng.
Nama itu mempunyai kepanjangan Seni Musik Tradisional, Idaman Rakyat Seantero Negeri. Nama tersebut memperkuat hingga sekarang.
Pada masa nan nyaris bersamaan, istilah daul juga mulai dikenal. Musik nan sebelumnya identik dengan julukan musik sahur itu kemudian disebut daul. Dari situlah istilah musik daul semakin melekat dalam kesenian tradisional Pamekasan.
Perlahan, kelompok-kelompok daul tumbuh di beragam wilayah Pamekasan. Semut Ireng pun ikut tumbuh berbareng zaman.
Dari awalnya hanya dimainkan sekitar 25 personel, golongan tersebut terus berkembang. Saat tampil dengan posisi duduk, jumlah pemain sekitar 14 orang. Kini, ketika tampil dalam parade di jalan, personelnya bisa mencapai sekitar 50 orang.
“Dan dulu itu pertama kali main ada 25 personel, jika main duduk ada 14 orang dan sekarang pas tampil di jalan itu ada 50 orang,” ujar Hannan.
Namun, bertambahnya era tidak membikin Semut Ireng meninggalkan akar tradisinya.
Alat musik tradisional tetap dipertahankan. Bagi Hannan, itulah identitas nan tidak boleh hilang.
Sebab, ketika musik tradisional mulai meninggalkan karakter dasarnya, nan tersisa mungkin hanya pertunjukan. Tetapi ketika akar budaya tetap dijaga, sebuah kesenian dapat membawa cerita tentang masyarakat nan melahirkannya.
Dari Kelurahan Parteker, bunyi musik itu kemudian melangkah semakin jauh. Bahkan hingga ke Istana Negara.
Daul Semut Ireng tercatat telah tiga kali tampil di Istana Negara dalam rentang 2007 hingga 2009. Salah satunya dalam agenda penyambutan Perdana Menteri Brunei Darussalam dan aktivitas peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Bukan hanya Istana Negara. Daul Semut Ireng juga beberapa kali tampil di Jakarta Convention Center (JCC) dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
“JCC itu kami juga sering, terus di TMII sering sekali. Alhamdulillah bisa dikenal sampai ke istana,” ujar Hannan dengan bangga.
Perjalanan itu menunjukkan satu hal: kesenian nan lahir dari kampung tidak kudu berakhir di kampung. Ia bisa melangkah jauh ketika dirawat, dimainkan, dan diwariskan.
Kini, setelah musik daul ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB), kebanggaan Hannan terasa semakin lengkap.
Bagi dia, pengakuan tersebut bukan sekadar penghargaan administratif. Ada perjalanan panjang masyarakat Pamekasan nan ikut mendapatkan tempat di kembali penetapan itu.
“Dan dengan ditetapkannya musik daul sebagai WBTB kemarin ini saya pribadi sangat bersyukur, terharu saya,” tandasnya.
Hannan berambisi perjalanan daul tidak berakhir setelah mendapatkan pengakuan sebagai WBTB. Ia mau musik daul terus berkembang, semakin maju, dikenal lebih luas, apalagi menembus panggung mancanegara.
Sebab, baginya, musik daul bukan hanya tentang bunyi. Di dalamnya ada ingatan tentang kampung, gotong royong, produktivitas anak muda, dan identitas Pamekasan nan terus dijaga dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari kentungan untuk membangunkan penduduk sahur, musik itu tumbuh menjadi kesenian. Dari Kelurahan Parteker, dia menempuh perjalanan hingga Istana Negara.
Dan kini, ketika era terus bergerak, Semut Ireng tetap memilih untuk menjaga bunyi nan lahir dari akar sendiri. (*)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·