KABAR MADURA | Kecintaan terhadap budaya dan seni menjadi modal utama Nyonya Supi Amin dalam merintis upaya batik nan sekarang dikenal melalui Galery Trenas Art di Bangkalan.
Galeri nan berlokasi di Jalan KH. Moh. Kholil XII/29, Bangkalan, tersebut dirintis Supi sejak era 1990-an. Berawal dari kemauan untuk mengenal sekaligus melestarikan budaya, dia belajar membatik dan mengembangkan usahanya secara mandiri. Galery Trenas Art kemudian mempunyai legalitas upaya secara resmi sejak 2005.
“Mulai merintis sendiri lantaran rasa cinta. Pengen punya budaya,” ujarnya, Selasa (22/9/2026).
Dalam membangun branding usahanya, Supi tidak sekadar menjadikan batik sebagai produk nan diperjualbelikan. Dia berupaya menghadirkan nilai seni dan budaya di kembali setiap lembar kain nan ditawarkan.
Menurutnya, salah satu kelebihan Batik Madura, khususnya Batik Bangkalan, terletak pada warna, corak, serta beragam motif nan mempunyai karakter tersendiri.
Salah satu produk nan menjadi daya tarik utama adalah batik gentongan.
“Keunggulan batik Madura, terutama batik Bangkalan, adalah dari segi warna, corak, motif dan lain sebagainya. nan paling unik dan menarik nan tidak dipunyai wilayah lain adalah batik gentongan,” jelasnya.
Batik gentongan mempunyai proses produksi nan berbeda dibandingkan batik pada umumnya. Proses pewarnaannya dilakukan dengan merendam kain di dalam gentong dan memerlukan waktu cukup panjang.
“Prosesnya direndam dalam gentong. Sampai berbulan-bulan. Prosesnya paling sigap enam bulan,” ungkapnya.
Tidak hanya memerlukan waktu lama, proses pewarnaan batik gentongan juga menggunakan bahan pewarna alami. Di antaranya berasal dari akar dan pohon mundo, pohon pace, kulit batang, hingga daun seperti daun jati.
Karena proses produksinya panjang dan jumlah pengrajinnya terbatas, batik gentongan tidak diproduksi secara massal.
“Harganya kisaran Rp4 juta ke atas. Nilai seni nan tidak bisa dinilai dengan rupiah itu adalah nilai seninya,” tambahnya.
Supi memilih mempertahankan konsep penjualan secara langsung melalui galeri. Dia mengaku tidak terlalu tertarik menjadikan penjualan online sebagai konsentrasi utama usahanya.
Baginya, batik mempunyai karakter nan berbeda dengan produk lainnya. Perbedaan kualitas dan proses pembuatan membikin konsumen perlu memandang sekaligus memahami langsung produk nan bakal dibeli.
“Batik itu beda dengan barang-barang nan lain. Kualitas juga beda-beda. Motifnya sama, tapi kualitasnya berbeda. Misalnya batik biasa dengan nan gentongan,” tuturnya.
Dengan datang langsung ke galeri, konsumen dinilai dapat memahami bahwa nilai sebuah batik tidak hanya ditentukan oleh kain dan motif, tetapi juga proses pembuatan, kualitas, serta nilai artistik nan terkandung di dalamnya.
Selain itu, Supi menilai foto nan ditampilkan dalam penjualan online terkadang tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi original produk, terutama dari segi warna.
“Kadang-kadang foto dengan aslinya beda. Di foto merah muda, rupanya barangnya merah tua,” terangnya.
Konsep itu sekaligus menjadi bagian dari branding Trenas Art dalam memberikan pengalaman langsung kepada konsumen ketika mengenal Batik Bangkalan.
Upaya mengenalkan batik dan budaya Bangkalan melalui galeri tersebut juga mulai menarik perhatian visitor dari beragam wilayah hingga mancanegara.
Supi menyebut visitor nan datang ke galerinya tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari sejumlah negara seperti Jerman, Afrika, dan Australia.
Bahkan, menurutnya, sejumlah pejabat dan tokoh dari luar negeri pernah berjamu ke Galery Trenas Art, termasuk dari Brunei dan Malaysia.
“Dari luar daerah, rata-rata. Jakarta kemudian dari luar juga. Dari Jerman, Afrika, Australia juga pernah. Raja Brunei juga pernah sampai ke sini, Raja Malaysia juga pernah ke sini,” ungkapnya.
Bagi Supi, kehadiran para visitor itu bukan sekadar transaksi jual beli. Lebih dari itu, galeri menjadi sarana untuk memperkenalkan Bangkalan dan Madura melalui seni serta budaya.
“Tujuan kami memang buka galeri ini mau mengenalkan Bangkalan ke orang luar,” tegasnya.
Dia mau visitor nan datang membawa pulang pengalaman berbeda tentang Bangkalan dan Madura, termasuk mengenai keramahan masyarakat serta kekayaan budayanya.
Dalam proses produksinya, Trenas Art juga melibatkan pengrajin lokal dari sentra batik Tanjung Bumi.
Para pengrajin umumnya mengerjakan proses membatik dari rumah masing-masing lantaran mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga. Sementara pada akhir pekan, sebagian proses seperti pencantingan dilakukan di galeri.
“Pekerjanya dari sentra batik Tanjung Bumi. Kalau Sabtu-Minggu ada proses di sini, proses pencantingan. Hari-hari biasa mereka kerjakan di rumah masing-masing,” jelas Supi.
Menurutnya, keterlibatan pengrajin lokal menjadi bagian krusial dalam mempertahankan keberlangsungan batik tradisional sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk tetap berkarya. (fik/zul)

48 menit yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·