Bukan Sekadar Turunkan Angka, Kader Posyandu Sapeken Dibekali Hadapi Stunting

50 menit yang lalu 1

Bukan Sekadar Turunkan Angka, Kader Posyandu Sapeken Dibekali Hadapi Stunting

LIMADETIK.COM, SUMENEP — Penanganan stunting di wilayah kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep, memerlukan keterlibatan beragam pihak. Selain tenaga kesehatan, peran keluarga, pemerintah desa, kader Posyandu hingga masyarakat menjadi bagian krusial dalam memastikan pencegahan dan penanganan stunting melangkah secara berkelanjutan.

Upaya memperkuat peran tersebut dilakukan melalui training kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) nan digelar pada 22–23 September 2026 di Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken.

Kegiatan nan berjalan di wilayah operasi produksi SKK Migas–Kangean Energy Indonesia (KEI) itu diikuti kader Posyandu dan dihadiri Camat Sapeken, Kapolsek Sapeken, Koramil Sapeken, Pemerintah Desa Pagerungan Besar dan Pagerungan Kecil, Kepala Puskesmas Pagerungan Besar, serta perwakilan Community Development (Comdev) KEI.

Pelatihan tersebut menjadi ruang untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian kader dalam mengenali aspek akibat stunting, memantau tumbuh kembang anak, serta memberikan edukasi kepada keluarga, terutama nan mempunyai ibu mengandung dan balita.

Sejumlah materi diberikan dalam aktivitas tersebut. Di antaranya materi “100 Hari Pertama Kehidupan: Penatalaksanaan pada Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronis” nan disampaikan dr. Harry Dwi Pratama, Sp.OG.

Selanjutnya, materi “Penanganan dan Pencegahan Balita Stunting” disampaikan dr. Raissa Virgy Rianda, Sp.A. Sementara materi “Bimbingan Teknis Pemberian Makanan Tambahan Berbasis Lokal” disampaikan Yuliani, S.Keb.

Materi nan diberikan menekankan pentingnya periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berumur dua tahun. Pada periode tersebut, pemenuhan gizi ibu dan anak, pemeriksaan kehamilan, pemberian ASI dan makanan pendamping nan sesuai, pemantauan pertumbuhan, serta penemuan awal menjadi bagian krusial dalam mencegah gangguan pertumbuhan.

Data nan disampaikan dalam aktivitas tersebut menunjukkan adanya penurunan jumlah anak nan teridentifikasi mengalami stunting di dua desa sasaran.

Di Desa Pagerungan Besar, sebelumnya tercatat 11 anak mengalami stunting. Pada periode Januari hingga Agustus 2026, jumlah tersebut turun menjadi enam anak. Namun, tetap terdapat dua anak nan tercatat mengalami gizi buruk.

Sementara di Pagerungan Kecil, sebelumnya terdapat 15 anak stunting. Hingga Agustus 2026, jumlah tersebut tercatat menjadi lima anak. Adapun info mengenai gizi jelek tetap perlu dilengkapi dan dikonfirmasi kembali.

Meski menunjukkan tren penurunan, kondisi tersebut tetap memerlukan perhatian dan pendampingan secara berkelanjutan. Sebab, keberhasilan penanganan stunting tidak hanya ditentukan oleh berkurangnya jumlah kasus, tetapi juga keahlian family dan masyarakat mempertahankan pola pengasuhan, pemenuhan gizi, serta pemantauan kesehatan anak secara konsisten.

Kolaborasi Jadi Kunci

Camat Sapeken, Hamka, mengatakan keberadaan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) SKK Migas–KEI memberikan akibat positif bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung sektor kesehatan di wilayah kepulauan.

“Program PPM ini sangat membantu di tengah kondisi efisiensi anggaran Dana Desa di Kepulauan Sapeken. Kita perlu berterima kasih lantaran KEI berkomitmen menyediakan ruang edukasi berupa training untuk kader Posyandu,” kata Hamka, Selasa (22/9/2026).

Ia juga mengapresiasi kerjasama KEI berbareng Puskesmas Pagerungan Besar dalam memaksimalkan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting.

“Semoga para kader tetap semangat memberikan pelayanan terbaik di tengah masyarakat,” ujarnya.

Menurut Hamka, kader Posyandu mempunyai posisi strategis lantaran berada paling dekat dengan masyarakat. Kader dapat menjadi penghubung antara family dengan tenaga kesehatan, terutama dalam memastikan ibu mengandung dan balita memperoleh pemantauan kesehatan secara rutin.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep, drg. Ellya Fardasah, mengapresiasi penyelenggaraan training kader Posyandu tersebut.

Menurutnya, penguatan kapabilitas kader menjadi bagian krusial dalam membangun aktivitas berbareng untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, terutama dalam upaya pencegahan stunting di wilayah kepulauan Sapeken.

“Pelatihan seperti ini sangat krusial lantaran kader merupakan bagian nan dekat dengan masyarakat. Ketika pengetahuan dan kapabilitas kader semakin kuat, edukasi kepada family juga bakal semakin baik,” ujarnya.

Ia menegaskan, penanganan stunting memerlukan kerjasama nan konsisten antara tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah desa, keluarga, masyarakat, serta mitra pembangunan seperti SKK Migas–KEI.

“Semangat kerjasama ini kudu terus kita jaga. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dengan adanya support dari beragam pihak, termasuk SKK Migas–KEI melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM), kami optimistis upaya pencegahan dan penanganan stunting di wilayah Kepulauan Sapeken dapat terus diperkuat,” katanya.

Drg. Ellya menambahkan, kader juga mempunyai peran krusial dalam memberikan edukasi sederhana namun berkepanjangan kepada keluarga. Mulai dari pentingnya pemeriksaan kehamilan, pemenuhan gizi ibu dan anak, pemantauan pertumbuhan balita, hingga mendorong family memanfaatkan jasa kesehatan secara rutin.

“Kami berambisi para kader tetap semangat, terus belajar dan tidak capek memberikan edukasi kepada masyarakat. Dengan kerja berbareng dan kepedulian nan terus tumbuh, kita optimistis anak-anak di Kepulauan Sapeken dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal,” ungkapnya.

Sementara itu, Manager Public & Government Affair (PGA) sekaligus penanggung jawab Program PPM KEI, Kampoi Naibaho, mengatakan training tersebut menjadi modal kompetensi bagi kader Posyandu untuk memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.

“Keluarga perlu memahami bahwa pencegahan stunting tidak hanya dilakukan ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan,” katanya.

Menurut Kampoi, upaya pencegahan kudu dimulai sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan rutin dan pemenuhan gizi ibu. Setelah anak lahir, pemantauan berat dan tinggi badan juga perlu dilakukan secara berkala.

“Oleh karena itu, kami memandang keberadaan training ini sangat krusial dilakukan secara kolaboratif. Semoga berfaedah untuk kita semua,” pungkasnya.

Penulis : Wahyu

Editor : Wandi

Follow WA Channel limadetik.com untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari Follow

Selengkapnya