KABAR MADURA | Suara anak-anak belajar terdengar bersahutan setiap siang hingga sore di sebuah rumah di area Jalan Gatotkaca, Kelurahan Kolpajung, Pamekasan. Tidak ada papan nama, tidak ada plang pengarahan belajar. Tetapi rumah sederhana itu sudah menjadi tempat belajar bagi puluhan anak, dari nan baru mengenal huruf sampai nan sudah lancar membaca.
Perempuan nan berkawan disapa Mahda ini bukan sarjana pendidikan. Ijazah tertingginya hanya dari sekolah menengah keahlian family (SMKK), bidang menjahit. Namun di kembali keterbatasan itu, dia menjadi tulang punggung keluarga, menopang kebutuhan rumah tangga dikarenakan suaminya sudah tidak lagi bisa bekerja akibat sakit.
Hampir 13 tahun dia membuka les rumahan, anak-anak nan belajar dengannya, terbiasa memanggilnya “Mama”, panggilan nan menunjukkan kedekatan antara dia dan murid-muridnya.
“Kalau di tempat les, kalian itu anak Mama. Jadi tidak boleh sungkan,” begitu ketika menceritakan aktivitasnya saat berbareng anak muridnya, Rabu (23/9/2026).
Sejak tetap dibangku sekolah, Mahda sebenarnya bercita-cita menjadi guru. Setelah lulus sekolah menengah pertama (SMP) mau melanjutkan ke sekolah pendidikan pembimbing (SPG), sekolah menengah bidang keguruan di era tahun 1980-an. Namun, kemauan itu tidak mendapat izin dari keluarganya lantaran saat itu menjadi pembimbing berfaedah kudu siap ditempatkan di pelosok dan jauh dari kampung halaman.
Akhirnya dia diarahkan untuk masuk SMKK dan belajar menjahit. Cita-cita menjadi pembimbing pun akhirnya belum bisa diwujudkan.
“Pengin jadi guru, terus ya tidak kesampaian,” kenang wanita berumur 56 tahun ini.
Meski begitu, kemauan untuk mengajar tidak betul-betul hilang. Kesempatan itu datang ketika anak sulungnya bakal masuk SMP. Dia mulai mengajari anaknya belajar di rumah. Dari situlah salah satu tetangga memandang keberhasilan anaknya dan kemudian meminta ibu Mahda membantu mengajari anaknya.
Awalnya hanya satu anak. Bayarannya pun tidak seberapa, sekitar Rp1.000 setiap pertemuan. Namun, dari satu anak, jumlah muridnya terus bertambah hingga sekarang sekitar 30 anak mulai dari jenjang TK hingga kelas 6 SD. Dan itu bukan hanya dari anak tetangganya tapi juga dari beragam desa di Pamekasan.
Cara mengajarnya pun tidak sekadar memberikan soal lampau meminta muridnya untuk mengerjakannya. Mahda menyesuaikan pembelajaran dengan keahlian masing-masing anak.
Anak nan belum bisa membaca bakal diajari dari dasar. Begitu pula dengan menulis dan berhitung, apalagi mempunyai beragam metode sederhana untuk membantu anak mengingat huruf dan angka.
Selama mengajar, ibu nan mempunyai dua putra ini juga tidak mematok biaya tinggi. Mahda menyesuaikan pembayaran dengan keahlian orang tua murid. Sampai sekarang tetap ada siswa nan bayar Rp35 ribu, sementara sebagian lainnya bayar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu.
Baginya, penghasilan memang penting. Namun, bukan itu satu-satunya argumen dia tetap mengajar. Ibu kelahiran tahun 1970 ini merasa punya kepuasan tersendiri ketika memandang muridnya nan awalnya belum bisa membaca, kemudian bisa membaca. Begitu pula ketika murid-muridnya tumbuh dewasa Bahkan, ada mantan muridnya sekarang telah menjadi guru.
“Saya gak memandang bayaran, saya konsentrasi siswa saya itu berhasil, saya puas ketika memandang mereka sukses” tutur ibu dengan dua cucu itu.
Meski sekarang mulai capek dan sempat diminta pensiun oleh anak pertamanya, Mahda memilih tetap melanjutkan, bukan sebagai pembimbing bergelar sarjana, tapi sebagai sosok nan dipanggil “Mama” oleh puluhan anak nan dia bimbing dari tidak bisa, menjadi bisa. (Fadilah Kamila/waw)

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·