Bukan Sekadar Simbolik, Prof Achmad Muhlis Tegaskan Kebahagiaan Hakiki Terletak pada Rahmat dan Kebermanfaatan

2 jam yang lalu 4

HUT RI ke-81

KABAR MADURA | Di tengah budaya masyarakat modern nan condong mengukur kebahagiaan dari aspek materialistik—seperti harta, jabatan, dan pengakuan sosial—konsep kegembiraan dalam Islam sering kali disalahartikan.

Menanggapi kejadian tersebut, Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan sekaligus Ketua Senat UIN Madura, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, membujuk umat Islam untuk melakukan reorientasi makna kebahagiaan melalui refleksi Al-Qur’an Surat Yunus ayat 58.

Prof. Achmad Muhlis menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak pernah melarang manusia untuk merasa gembira. Namun, Al-Qur’an memberikan fondasi filosofis dan epistemologis agar kegembiraan manusia tidak kehilangan arah.

“Al-Qur’an mengarahkan agar kegembiraan mempunyai orientasi transendental. Kebahagiaan sejati tidak diukur dari apa nan kita miliki, melainkan dari sejauh mana kita menyadari hadirnya karunia (fadhlullah) dan rahmat Allah (rahmatullah) dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Prof. Muhlis.

Dia meyakinkan bahwa pesan utama dari QS. Yunus ayat 58 (“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa nan mereka kumpulkan”) adalah menggeser pusat kebahagiaan dari kepemilikan material menuju kebermaknaan spiritual.

Sebagai contoh konkret, dia menyebut pencapaian seorang anak nan sukses menghafal Al-Qur’an. Menurutnya, kegembiraan atas capaian tersebut hendaknya tidak berakhir pada kebanggaan akademik alias kepuasan ego semata, melainkan dirayakan sebagai bentuk syukur atas karunia Allah nan kudu dijaga melalui kebaikan nyata.

Lebih lanjut, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam ini juga mengaitkan refleksi ayat tersebut dengan momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Para ustadz sepakat menjadikan ayat ini sebagai landasan dasar kebolehan mengekspresikan kegembiraan atas hadirnya Rasulullah SAW nan diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Namun, Prof. Muhlis memberikan catatan krusial agar ekspresi kegembiraan keagamaan tersebut tidak berakhir menjadi ritual simbolis semata. Kegembiraan spiritual, tegasnya, kudu bisa ditransformasikan menjadi daya sosial dan kepedulian antar sesama.

“Ketika masyarakat berkumpul memperingati Maulid, membaca Al-Qur’an, bershalawat, menyantuni anak yatim, hingga berbagi makanan kepada nan membutuhkan, di situlah kegembiraan perseorangan beralih bentuk menjadi modal sosial. Kebahagiaan pribadi dikonversikan menjadi kebahagiaan bersama,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak boleh hanya dipersatukan oleh kepentingan ekonomi, tetapi juga oleh nilai dan pengalaman spiritual bersama. Dalam lingkungan pesantren dan masyarakat umum, seremoni keagamaan kudu menjadi ruang reproduksi nilai—tempat generasi tua menanamkan rasa cinta kepada Nabi, dan generasi muda belajar bahwa kegembiraan berakidah wajib membuahkan kepedulian sosial.

“Kegembiraan nan berasal dari rahmat Allah bakal melahirkan rasa syukur. Syukur melahirkan kepedulian, dan kepedulian melahirkan kemanfaatan nyata bagi sosial. Sebaliknya, kebahagiaan nan berpusat pada ego dan materi hanya bakal memicu kesombongan serta kejuaraan nan tidak sehat,” tegas Ketua Senat UIN Madura tersebut.

Menutup refleksinya, Prof. Achmad Muhlis menekankan bahwa pesan terbesar QS. Yunus ayat 58 adalah menjadikan kegembiraan sebagai pemantik perubahan perilaku.

“Semakin seseorang mengenal dan mencintai Rasulullah, semestinya makin lembut akhlaknya, makin luas kepeduliannya, dan makin besar faedah nan dia bagikan kepada sesama. Kegembiraan paling berbobot bukanlah lantaran banyaknya perihal nan sukses kita kumpulkan, melainkan lantaran menyadari rahmat Allah nan kemudian kita bagikan kembali kepada kehidupan,” pungkasnya. (rul)

Selengkapnya