Bukan Sekadar Foto, Tren Berburu Stempel Bikin Jalan-Jalan Jadi Makin Berkesan

1 hari yang lalu 8

KABAR MADURA | Jalan-jalan biasanya identik dengan mengabadikan momen lewat foto, mencicipi kuliner khas, alias membeli oleh-oleh. Namun, belakangan muncul langkah lain nan membikin perjalanan terasa lebih personal, ialah mengumpulkan stempel dari tempat-tempat nan dikunjungi.

Tren berburu stempel mulai mendapat perhatian melalui beragam program wisata dan ruang publik. Kementerian Kebudayaan, misalnya, meluncurkan Museum Passport pada Juni 2026. Buku memorabilia tersebut memungkinkan visitor mengumpulkan stempel dari museum dan cagar budaya nan masuk dalam jaringan program. Setiap tempat mempunyai kreasi stempel berbeda nan menjadi penanda kunjungan sekaligus kenang-kenangan dari perjalanan.

Konsep serupa juga datang di bumi transportasi. Melalui program Stamp Railly, KAI membujuk pengguna berburu stempel di sejumlah stasiun di wilayah Jabodetabek sejak 24 Agustus 2026. Aktivitas ini memberikan pengalaman tambahan bagi pengguna kereta, lantaran perjalanan tidak hanya soal mencapai tujuan, tetapi juga meninggalkan jejak nan bisa dikoleksi.

Bagi sebagian orang, mengumpulkan stempel mungkin terlihat sebagai aktivitas sederhana. Namun, justru kesederhanaan itulah nan membuatnya menarik. Sebuah stempel bisa menjadi pengingat mini tentang tempat nan pernah dikunjungi, perjalanan nan dilakukan, hingga pengalaman nan mungkin tidak terlupakan.

Stempel dari setiap tempat juga biasanya mempunyai kreasi nan berangkaian dengan identitas lokasi. Karena itu, satu cap bisa membawa cerita nan berbeda dari cap lainnya. Ketika kitab koleksi mulai terisi, kumpulan stempel tersebut perlahan berubah menjadi semacam catatan perjalanan dalam corak nan lebih personal.

Berburu stempel juga membikin seseorang lebih memperhatikan tempat nan dikunjungi. Pengunjung tidak hanya datang untuk berfoto, menikmati suasana, lampau pulang, tetapi juga mempunyai argumen untuk mencari tahu apakah tempat tersebut menyediakan stempel dan apa cerita di baliknya. Museum, stasiun, hingga ruang budaya pun bisa dilihat dari sisi nan berbeda.

Dibandingkan oleh-oleh berupa barang, koleksi stempel juga tidak memerlukan banyak ruang. Satu kitab dapat menampung kenangan dari beragam perjalanan tanpa kudu memenuhi bilik dengan barang-barang baru. Bagi mereka nan senang mengoleksi sesuatu tetapi tetap mau praktis, langkah ini bisa menjadi pengganti nan menarik.

Ada pula pengalaman berbeda ketika membuka kembali kitab nan penuh stempel. Foto-foto perjalanan mungkin tersimpan di galeri ponsel dan baru sesekali dilihat, sementara kitab koleksi bisa disentuh, dibuka laman demi halaman, lampau membawa kembali ingatan tentang perjalanan nan pernah dilakukan.

Pada akhirnya, tren berburu stempel bukan sekadar tentang mengumpulkan cap dari satu tempat ke tempat lainnya. Aktivitas sederhana tersebut memberikan tanda mini pada setiap perjalanan, sekaligus menyimpan cerita dari tempat-tempat nan pernah didatangi. Dengan begitu, jalan-jalan tidak hanya meninggalkan foto di galeri, tetapi juga kenangan nan bisa dikumpulkan dan dikenang kembali. (ina)

Selengkapnya