KABAR MADURA | Asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers, Hairul Anam, menekankan pentingnya integritas, kompetensi, dan keahlian menghasilkan buletin nan berakibat bagi wartawan di tengah dinamika industri media.
Hal itu disampaikan dalam aktivitas Media Engagement se-Madura nan digelar di Hotel Azana, Pamekasan, Jumat (14/6/2026). Kegiatan nan mengusung tema “Membangun Sinergi, Menguatkan Informasi, Mengawal Pembangunan Madura” tersebut menjadi ruang bagi Anam untuk memberikan pemahaman mengenai bumi kewartawanan, mulai dari menghasilkan buletin berakibat hingga mengembangkan pekerjaan sebagai jurnalis.
Menurutnya, pekerjaan wartawan mempunyai posisi nan sangat strategis lantaran produk jurnalistik dapat memberikan faedah besar bagi masyarakat. Namun, posisi itu dapat berbanding terbalik andaikan kewenangan dan produk jurnalistik digunakan untuk kepentingan nan bertentangan dengan etika.
“Derajat wartawan bisa di atas malaikat, tetapi bisa juga di bawah iblis. Sisi positif (di atas malaikat), ketika pena dan kamera wartawan memihak kaum tertindas, membongkar kejahatan alias korupsi, serta membawa kemaslahatan publik.” terangnya.
Sebaliknya, lanjut Anam, wartawan dapat berada pada posisi nan jelek andaikan info dipelintir untuk melakukan manipulasi, pemerasan, alias menyebarkan hoaks demi kepentingan pribadi maupun kelompok.
Alumnus Pesantren Annuqayah itu juga membujuk wartawan menerapkan empat sifat Rasul dalam praktik jurnalistik sehari-hari. Pertama, Siddiq nan dimaknai sebagai kejujuran dan kebenaran dalam menyajikan fakta. Kedua, Amanah, ialah sikap dapat dipercaya, menjaga independensi, melindungi narasumber, serta menghindari bentrok kepentingan.
“Kemudian Tabligh (menyampaikan). Artinya, transparansi serta tanggungjawab menyampaikan kebenaran kepada publik demi kepentingan umum. Terakhir Fathonah (cerdas/bijaksana). Dalam perihal ini kritis dalam melakukan verifikasi (cover both sides), riset mendalam, serta bijak memandang akibat pemberitaan,” tegasnya.
Dalam sesi strategi pengembangan profesi, Anam memperkenalkan konsep “Double Kick” alias dua kaki nan perlu dimiliki wartawan agar bisa memperkuat sekaligus berkembang di industri media.
Kata dia, wartawan tidak cukup hanya menghasilkan karya jurnalistik nan berkualitas, mendalam, dan terverifikasi. Wartawan juga perlu membangun jaringan ahli nan luas, baik dengan narasumber, sesama jurnalis, maupun pemangku kepentingan.
Di sisi lain, Anam menekankan pentingnya legalitas dan perlindungan profesi. Wartawan didorong berasosiasi dengan organisasi konstituen Dewan Pers, seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), maupun Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).
Keberadaan organisasi pekerjaan tersebut, tambah dia, dapat memberikan faedah berupa perlindungan hukum, memperluas jaringan, sekaligus menjaga standar etik dan profesionalisme wartawan.
Tidak hanya itu, pengajar Ilmu Komunikasi di UNIBA Madura itu mendorong wartawan agar tidak berakhir pada pola pemberitaan nan sekadar melaporkan sebuah peristiwa. Menurutnya, kualitas produk jurnalistik perlu terus ditingkatkan menuju buletin berdampak, setidaknya melalui buletin mendalam alias indepth news, dan idealnya melalui laporan investigasi.
“Kontrol sosial media bakal disegani jika didukung info nan solid,” tegas Ketua PWI Pamekasan itu.
Dia juga menambahkan, wartawan perlu terus meningkatkan kompetensi melalui UKW secara bertahap, mulai dari jenjang Muda, Madya, hingga Utama.
“Konsistensi dalam menjaga integritas, verifikasi, dan kualitas karya inilah nan membentuk karakter wartawan profesional,” tukasnya. (nur/zul)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·