KABAR MADURA | Sebanyak 50 sekolah dasar (SD) di Pamekasan disiapkan menjadi rintisan Sekolah Model. Ke depan, sekolah-sekolah itu diharapkan bisa menjadi pusat percontohan pembelajaran mendalam, coding, serta kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI).
Program rintisan Sekolah Model tersebut dibentuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan sebagai bagian dari upaya mendukung penerapan program pemerintah di bagian pendidikan.
Program ini tidak hanya menyasar peningkatan keahlian siswa. Penguatan kapabilitas pembimbing serta kepemimpinan kepala sekolah juga menjadi bagian krusial nan turut diperhatikan.
Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Disdikbud Pamekasan, Ridwan, menjelaskan, program Sekolah Model berpijak pada izin pemerintah nan berangkaian dengan pembelajaran mendalam, coding, serta kepintaran buatan.
Menurutnya, Pamekasan memperoleh program Sekolah Model pada dua jenjang pendidikan di bawah naungan Disdikbud, ialah untuk jenjang SD dan SMP.
“Ketika program ini sudah diluncurkan oleh kementerian, pemerintah wilayah kudu memfasilitasi gimana Sekolah Model ini bisa terimplementasi dengan baik,” kata Ridwan saat diwawancarai, Senin (14/9/2026).
Berangkat dari kebijakan itu, Disdikbud Pamekasan kemudian membentuk sekolah rintisan agar konsep Sekolah Model tidak hanya diterapkan di satu sekolah. Sebanyak 50 sekolah ditetapkan sebagai rintisan dan tersebar di 13 kecamatan.
Di Kecamatan Batumarmar, sekolah nan masuk dalam program tersebut adalah SDN Ponjanan Timur 1, SDN Blaban 3, SDN Bangsereh 3, dan SDN Bujur Timur 3. Kemudian di Kecamatan Palengaan terdapat SDN Palengaan Laok 2, SDN Palengaan Laok 1, SDN Larangan Badung 6, serta SDN Potoan Daya 1.
Untuk Kecamatan Pegantenan, sekolah rintisan meliputi SDN Tebul Timur 2, SDN Pegantenan 1, SDN Plakpak 1, SDN Plakpak 5, dan SDI Al Mujtama’. Sementara di Kecamatan Proppo terdapat SDN Panaguan 1, SDN Tatangoh 2, SDN Panaguan 3, SDN Mapper 2, dan SDN Pangbatok 2.
Selanjutnya, di Kecamatan Pasean terdapat SDN Tlontoraja 1, SDN Batukerbuy 1, dan SDN Batukerbuy 2. Kecamatan Kadur meliputi SDN Kertagena Daja 1, SDN Kertagena Laok 2, dan SDN Sokalela. Sedangkan di Kecamatan Larangan terdapat SDN Negeri Peltong, SDN Larangan Loar 3, dan SDN Trasak 2.
Di Kecamatan Galis, tiga sekolah nan ditetapkan sebagai rintisan adalah SDN Ponteh 1, SDN Konang 2, dan SDN Polagan 2. Sementara di Kecamatan Tlanakan meliputi SDN Larangan Tokol 1, SDN Kramat 1, dan SDN Branta Paseser 1.
Adapun di Kecamatan Pamekasan terdapat SDN Kangenan 1, SDN Gladak Anyar 3, SDN Negeri Bugih 1, SDN Kowel 3, dan SDI Al-Munawwarah. Kecamatan Pademawu menjadi wilayah dengan jumlah sekolah rintisan terbanyak, ialah enam sekolah, meliputi SDN Murtajih 1, SDN Lawangan Daya 2, SD Katolik Santo Rademptus, SDIT Abfa, SDN Sumedangan 2, dan SDN Pademawu Barat 1.
Sementara itu, Kecamatan Pakong mencakup SDN Cenlecen 1, SDN Pakong 2, dan SDN Somalang. Sedangkan tiga sekolah di Kecamatan Waru terdiri atas SDN Waru Barat 7, SDN Tampojung Tengah, dan SDN Waru Barat 1.
Pemilihan sekolah rintisan ini juga tidak dilakukan secara sembarangan. Ridwan menyebut, terdapat sejumlah parameter nan menjadi dasar pemilihan, di antaranya hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Rapor Pendidikan.
“Sekolah nan menjadi rintisan itu ada dua parameter nan kemudian bisa dijadikan sekolah rintisan. Hasil TKA-nya, dan Rapor Pendidikan,” jelasnya.
Selain kedua parameter tersebut, pemetaan alias profiling sekolah turut menjadi bahan pertimbangan. Sekolah dengan hasil pemetaan dan ranking nan lebih tinggi kemudian dipilih hingga memenuhi kuota 50 sekolah.
Ke depan, sekolah-sekolah rintisan tersebut tidak hanya dituntut meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan masing-masing. Sekolah tersebut juga diarahkan menjadi pusat pembelajaran sekaligus percontohan bagi sekolah lainnya.
Ridwan menambahkan, terdapat sejumlah tujuan nan mau dicapai melalui program tersebut. Di antaranya menjadikan sekolah rintisan sebagai pusat pembelajaran mendalam dan coding, pusat digitalisasi, serta pusat percontohan bagi sekolah lain.
Program ini menyasar tiga unsur utama dalam ekosistem sekolah, ialah siswa, guru, dan kepala sekolah.
Pada siswa, pengembangan diarahkan pada keahlian mengikuti pembelajaran mendalam, coding, hingga pemahaman terhadap kepintaran artifisial. Sementara pada guru, penilaian lebih diarahkan pada proses pembelajaran nan dilakukan serta output dan outcome nan dihasilkan.
Adapun kepala sekolah menjadi bagian nan dinilai dari aspek kepemimpinan. Dengan demikian, program Sekolah Model tidak hanya berorientasi pada keahlian akademik siswa, tetapi juga mendorong penguatan kualitas pendidik dan tata kelola sekolah secara keseluruhan. (ina/zul)

54 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·