UNIBA Madura Dorong GWC Sumenep Naik Kelas Lewat Penguatan Produksi dan Pemasaran Digital

23 jam yang lalu 13

HUT RI ke-81

UNIBA Madura Dorong GWC Sumenep Naik Kelas Lewat Penguatan Produksi dan Pemasaran Digital

KABAR MADURA | Great Widow Community (GWC) di Sumenep didorong untuk memperkuat kemandirian ekonomi anggotanya melalui penguatan produksi, branding, hingga pemasaran digital.

Program tersebut dilaksanakan tim Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura melalui aktivitas Pengabdian kepada Masyarakat (KPM) berjudul Pendampingan Kemandirian Ekonomi Janda melalui Penguatan Literasi Keuangan dan Kapasitas Usaha Produktif Berbasis Potensi Lokal di Kabupaten Sumenep.

Program ini merupakan bagian dari Hibah BIMA Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.

Ketua tim pelaksana, Dr. Ach. Zuhri, M.E., mengatakan, GWC mempunyai potensi besar untuk berkembang sebagai kekuatan ekonomi berbasis komunitas.

Komunitas tersebut menghimpun sekitar 200 wanita dari beragam kecamatan di Kabupaten Sumenep. Sekitar 70 persen anggotanya telah menjalankan upaya kuliner olahan lokal dan minuman sederhana.

Namun, upaya nan dijalankan tetap menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan sarana produksi, kualitas produk nan belum seragam, hingga pemasaran dan identitas produk nan tetap terbatas.

“Penguatan upaya tidak hanya bertumpu pada tersedianya peralatan. nan lebih krusial adalah gimana personil bisa menggunakan dan mengelola sarana tersebut dengan tepat, sehingga upaya mereka dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujarnya, Senin (31/8/2026).

Melalui program tersebut, personil GWC mendapatkan pendampingan mengenai pengelolaan produksi, kebersihan dan keamanan pangan, serta manajemen upaya sederhana.

Selain itu, tim pengabdian juga menghadirkan sarana upaya berbareng berupa rombong dan peralatan produksi kuliner.

Sekitar 85 persen personil sebelumnya tetap mengandalkan peralatan rumah tangga sederhana. Kondisi itu membikin peningkatan kapabilitas produksi dan konsistensi kualitas produk belum maksimal.

Penguatan juga dilakukan melalui pengembangan branding dan bungkusan produk.

Selama ini, sekitar 85 persen personil tetap memasarkan produknya di lingkungan sekitar, sedangkan sekitar 70 persen produk belum mempunyai identitas merek.

“Produk lokal sebenarnya mempunyai potensi besar. Namun, agar bisa bersaing, produk kudu mempunyai identitas, mulai dari merek, tampilan, hingga kualitasnya,” kata Zuhri.

Anggota GWC juga diperkenalkan dengan pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran digital untuk memperluas jangkauan konsumen.

Selain itu, mereka mendapatkan pendampingan dalam menentukan nilai jual berasas biaya produksi dan keuntungan.

Menurut Zuhri, program tersebut tidak hanya berorientasi pada pemberian support sarana usaha.

“Yang mau kami bangun bukan sekadar rombong, bungkusan baru, alias akun media sosial. Kami mau membangun keahlian personil untuk mengelola upaya mereka sendiri secara lebih baik,” tegasnya.

Dengan penguatan produksi, branding, dan pemasaran, Great Widow Community diharapkan tidak hanya berkembang sebagai organisasi sosial, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi produktif berbasis potensi lokal.

‘Naik kelas berbareng berfaedah membangun upaya bersama, memperkuat produk lokal, memperluas pasar, dan membuka jalan menuju kemandirian ekonomi nan lebih berkelanjutan,” pungkasnya.

Program tersebut dilaksanakan oleh tim UNIBA Madura nan terdiri atas Dr. Ach. Zuhri, M.E. sebagai ketua, serta Nurul Hidayat, M.M. dan Yuni Putri Utami, M.Pd. sebagai anggota, dengan GWC sebagai mitra. (ong)

Selengkapnya