Sajak-Sajak Terbaru Muhammad Tauhed Supratman

59 menit yang lalu 1

BAJINGAN

bajingan itu barangkali bukan seorang laki-laki nan melangkah di pasar alias singgah di surau. dia hanya bayang nan diam-diam tumbuh di dada manusia ketika malu meninggalkan doa.

aku pernah melihatnya memetik senja di pematang sawah, lampau menukar malam dengan segenggam dusta. burung-burung pulang membawa lengang, sedang angin enggan menyebut namanya.

ibu pernah berkata, “jagalah hatimu, karena nan paling mudah tersesat bukan kaki, melainkan nurani.” maka saya berkaca dan memandang wajahku sendiri, lampau bertanya kepada Tuhan, berapa banyak bajingan nan berlindung di kembali diriku.

2026

MENU HARI INI

susu lama di bawah matahari.

angka-angka menguap jadi asap di papan tulis.

orang-orang berdasi bicara tentang kalori,

sementara di perspektif kelas nan bocor,

seorang anak menatap lalat mati

di atas nasi dingin.

ini bukan tentang gizi,

ini tentang langkah memperpanjang umur statistik.

bumbu kimia dan janji palsu

diaduk dalam kuali besar oleh tangan misteri.

truk-truk melaju membelah malam,

membawa daging kaku dari pelabuhan gelap,

seperti pasokan senjata untuk perang

yang sudah kalah.

kita mengantre,

memegang kupon merah nan luntur kena hujan.

di gedung-gedung tinggi nan dingin,

mereka menimbang berat sebutir telur.

di luar, anjing jalanan berebut sisa makanan.

generasi baru lahir dengan mata cekung,

menelan paket nasi plastik bulat-bulat,

tanpa tahu siapa bersihkan darah

di lantai dapur.

2026

NISAN PUSTAKA

di rak-rak sunyi nan berdebu waktu,

kupanjat rindumu perlahan,

seperti anak desa memanjat pohon asam

mencari bunyi ibunya nan tersesat di angin.

halaman-halaman menguning itu

masih menyimpan gemericik senyummu.

di nisan pustaka nan sunyi,

kutemukan namamu berlumut cahaya.

huruf-huruf berzikir dalam diam,

sementara senja menaburkan daun-daun kenangan

ke pangkuan bumi.

aku membaca kehilangan,

seolah membaca angan nan tak selesai.

kubiarkan mataku menjadi peziarah,

mengeja jejakmu dari kitab ke buku.

jika suatu hari rinduku gugur seperti kembang edelweis,

biarlah dia jatuh di antara lembaran nan kau cintai,

agar setiap orang nan membukanya

mendengar langkahmu pulang dari keabadian.

2026

TEPUK TANGAN ITU

Tepuk tangan menggema

di gedung itu.

Di luar, seorang pekerja tidur

dengan lapar nan belum selesai.

Pidato dibacakan perlahan

seperti angan tanpa Tuhan.

Orang-orang bertepuk tangan

agar tak mendengar tangis sendiri.

Malam turun di kota.

lampu menyala

untuk para pemenang,

rakyat mini pulang

mengusik gelap nan sama.

Tepuk tangan itu

selalu lupa rakyat kecil.

2026

KERTAS ASING

Di gang-gang nan berbau minyak tanah,

waktu dihitung dari tipisnya irisan tempe di atas wajan.

Seseorang di seberang samudra menandatangani berkas,

dan di sini, seorang ibu memandang masa depan nan cemas

dari kembali layar televisi nan buram.

Ia naik lagi, terbang seperti balon gas nan lepas,

sementara kita tertinggal di bumi nan semakin berat,

membayar nilai untuk lampu lima watt nan temaram.

Para penyair meninggal muda di warung kopi sepi,

tapi rakyat mini meninggal acapkali di depan kasir toko kelontong.

Mata duit kita melunglai, kehilangan darah,

di hadapan angka-angka nan bertindak seperti pengeksekusi kejam.

Ia adalah hantu tanpa wajah,

tapi tangannya nan dingin meraba sampai ke dalam dompet kita

memadamkan kompor,

dan meninggalkan rasa lapar nan murni di atas meja makan.

Pamekasan, 22-5-2026

KEPASTIAN

Rakyat mini tak butuh

grafik ekonomi.

hanya mau beras

tidak berubah semalaman

dan anak-anak tidur

tanpa nyanyian di perut.

Di televisi

angka-angka bergerak seperti ramalan.

Tetapi seorang ibu di dapur sempit

lebih percaya pada sisa nasi

daripada kata-kata mereka.

Malam turun seperti berita buruk.

Orang-orang mini tetap bekerja

di bawah masa depan nan kabur.

Mereka tak meminta kemewahan,

hanya kepastian

bahwa kita tetap berjumpa pagi.

2026

DI ANTARA HALAMAN BUKU TUA

Di antara laman kitab tua

kutemukan wajahmu

terlipat sunyi

seperti surat nan gagal

dikirim.

Kuelus laman usang

yang tak bersuara bernapas.

Debu beterbangan

seperti ingatan masa kecil

terlambat dilupakan.

Di luar, kota terus bergerak.

Di antara rak-rak tua itu

waktu berhenti

di gelap matamu

aku memendar.

2026

LUKAMU ABADI

untuk adikku Royyan Julian

Lukamu seperti garam di laut

tak tampak

namun terasa di setiap gelombang

ia tinggal di dadamu

seperti perahu tua

yang tak pernah betul-betul berlabuh

cinta pernah datang

seperti angin timur

mengembangkan harap

lalu pergi

menyisakan riak nan panjang

jangan kau buang perih itu

biarlah dia menjadi asin

yang menjaga hidupmu dari busuk

sebab luka nan abadi

bukan untuk diratapi

melainkan untuk dihayati

seperti laut

yang tak pernah berakhir memeluk pantai.

Pamekasan, April 2026

ANDAI TAK MENJAWAB

Andai saya tak menjawab

poinku tak bakal dikurangi

Kalimat itu mengendap

lama di kepalaku,

seperti lampu redup

di lorong sekolah,

sepi setelah lomba usai.

Aku mulai mengerti

kadang di bumi ini

diam lebih dihargai

dari keberanian

menjawab benar.

2026

TOPENGMU

Kau bicara tentang kesucian

dengan lidah nan terlatih,

namun tanganmu

mengenal hening

sebagai langkah mendekat.

Nilai kau jadikan jubah,

bukan untuk merendah,

melainkan untuk menutupi

lapar

yang takut pada terang.

Makna runtuh

saat dia dipakai

untuk memangsa nan lemah.

Ketahuilah,

yang murni tak tinggal

di mulut nan fasih,

ia menjauh dari jiwa

yang menyamarkan nafsu

sebagai kebajikan,

dan kekerasan

sebagai hak.

2026

Selengkapnya