BAJINGAN
bajingan itu barangkali bukan seorang laki-laki nan melangkah di pasar alias singgah di surau. dia hanya bayang nan diam-diam tumbuh di dada manusia ketika malu meninggalkan doa.
aku pernah melihatnya memetik senja di pematang sawah, lampau menukar malam dengan segenggam dusta. burung-burung pulang membawa lengang, sedang angin enggan menyebut namanya.
ibu pernah berkata, “jagalah hatimu, karena nan paling mudah tersesat bukan kaki, melainkan nurani.” maka saya berkaca dan memandang wajahku sendiri, lampau bertanya kepada Tuhan, berapa banyak bajingan nan berlindung di kembali diriku.
2026
MENU HARI INI
susu lama di bawah matahari.
angka-angka menguap jadi asap di papan tulis.
orang-orang berdasi bicara tentang kalori,
sementara di perspektif kelas nan bocor,
seorang anak menatap lalat mati
di atas nasi dingin.
ini bukan tentang gizi,
ini tentang langkah memperpanjang umur statistik.
bumbu kimia dan janji palsu
diaduk dalam kuali besar oleh tangan misteri.
truk-truk melaju membelah malam,
membawa daging kaku dari pelabuhan gelap,
seperti pasokan senjata untuk perang
yang sudah kalah.
kita mengantre,
memegang kupon merah nan luntur kena hujan.
di gedung-gedung tinggi nan dingin,
mereka menimbang berat sebutir telur.
di luar, anjing jalanan berebut sisa makanan.
generasi baru lahir dengan mata cekung,
menelan paket nasi plastik bulat-bulat,
tanpa tahu siapa bersihkan darah
di lantai dapur.
2026
NISAN PUSTAKA
di rak-rak sunyi nan berdebu waktu,
kupanjat rindumu perlahan,
seperti anak desa memanjat pohon asam
mencari bunyi ibunya nan tersesat di angin.
halaman-halaman menguning itu
masih menyimpan gemericik senyummu.
di nisan pustaka nan sunyi,
kutemukan namamu berlumut cahaya.
huruf-huruf berzikir dalam diam,
sementara senja menaburkan daun-daun kenangan
ke pangkuan bumi.
aku membaca kehilangan,
seolah membaca angan nan tak selesai.
kubiarkan mataku menjadi peziarah,
mengeja jejakmu dari kitab ke buku.
jika suatu hari rinduku gugur seperti kembang edelweis,
biarlah dia jatuh di antara lembaran nan kau cintai,
agar setiap orang nan membukanya
mendengar langkahmu pulang dari keabadian.
2026
TEPUK TANGAN ITU
Tepuk tangan menggema
di gedung itu.
Di luar, seorang pekerja tidur
dengan lapar nan belum selesai.
Pidato dibacakan perlahan
seperti angan tanpa Tuhan.
Orang-orang bertepuk tangan
agar tak mendengar tangis sendiri.
Malam turun di kota.
lampu menyala
untuk para pemenang,
rakyat mini pulang
mengusik gelap nan sama.
Tepuk tangan itu
selalu lupa rakyat kecil.
2026
KERTAS ASING
Di gang-gang nan berbau minyak tanah,
waktu dihitung dari tipisnya irisan tempe di atas wajan.
Seseorang di seberang samudra menandatangani berkas,
dan di sini, seorang ibu memandang masa depan nan cemas
dari kembali layar televisi nan buram.
Ia naik lagi, terbang seperti balon gas nan lepas,
sementara kita tertinggal di bumi nan semakin berat,
membayar nilai untuk lampu lima watt nan temaram.
Para penyair meninggal muda di warung kopi sepi,
tapi rakyat mini meninggal acapkali di depan kasir toko kelontong.
Mata duit kita melunglai, kehilangan darah,
di hadapan angka-angka nan bertindak seperti pengeksekusi kejam.
Ia adalah hantu tanpa wajah,
tapi tangannya nan dingin meraba sampai ke dalam dompet kita
memadamkan kompor,
dan meninggalkan rasa lapar nan murni di atas meja makan.
Pamekasan, 22-5-2026
KEPASTIAN
Rakyat mini tak butuh
grafik ekonomi.
hanya mau beras
tidak berubah semalaman
dan anak-anak tidur
tanpa nyanyian di perut.
Di televisi
angka-angka bergerak seperti ramalan.
Tetapi seorang ibu di dapur sempit
lebih percaya pada sisa nasi
daripada kata-kata mereka.
Malam turun seperti berita buruk.
Orang-orang mini tetap bekerja
di bawah masa depan nan kabur.
Mereka tak meminta kemewahan,
hanya kepastian
bahwa kita tetap berjumpa pagi.
2026
DI ANTARA HALAMAN BUKU TUA
Di antara laman kitab tua
kutemukan wajahmu
terlipat sunyi
seperti surat nan gagal
dikirim.
Kuelus laman usang
yang tak bersuara bernapas.
Debu beterbangan
seperti ingatan masa kecil
terlambat dilupakan.
Di luar, kota terus bergerak.
Di antara rak-rak tua itu
waktu berhenti
di gelap matamu
aku memendar.
2026
LUKAMU ABADI
untuk adikku Royyan Julian
Lukamu seperti garam di laut
tak tampak
namun terasa di setiap gelombang
ia tinggal di dadamu
seperti perahu tua
yang tak pernah betul-betul berlabuh
cinta pernah datang
seperti angin timur
mengembangkan harap
lalu pergi
menyisakan riak nan panjang
jangan kau buang perih itu
biarlah dia menjadi asin
yang menjaga hidupmu dari busuk
sebab luka nan abadi
bukan untuk diratapi
melainkan untuk dihayati
seperti laut
yang tak pernah berakhir memeluk pantai.
Pamekasan, April 2026
ANDAI TAK MENJAWAB
Andai saya tak menjawab
poinku tak bakal dikurangi
Kalimat itu mengendap
lama di kepalaku,
seperti lampu redup
di lorong sekolah,
sepi setelah lomba usai.
Aku mulai mengerti
kadang di bumi ini
diam lebih dihargai
dari keberanian
menjawab benar.
2026
TOPENGMU
Kau bicara tentang kesucian
dengan lidah nan terlatih,
namun tanganmu
mengenal hening
sebagai langkah mendekat.
Nilai kau jadikan jubah,
bukan untuk merendah,
melainkan untuk menutupi
lapar
yang takut pada terang.
Makna runtuh
saat dia dipakai
untuk memangsa nan lemah.
Ketahuilah,
yang murni tak tinggal
di mulut nan fasih,
ia menjauh dari jiwa
yang menyamarkan nafsu
sebagai kebajikan,
dan kekerasan
sebagai hak.
2026

59 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·