Tren Pernikahan Gen Z Berubah, Pesta Mewah Mulai Bukan Prioritas

48 menit yang lalu 1

KABAR MADURA | Pernikahan selama ini kerap dibayangkan sebagai satu hari besar nan kudu dirayakan semeriah mungkin. Gedung dihias, tamu diundang dalam jumlah banyak, busana dipersiapkan dengan matang, dan beragam kebutuhan aktivitas disusun agar momen tersebut terasa istimewa.

Namun, sebagian pasangan muda mulai memandang pernikahan dari perspektif pandang berbeda. Bagi mereka, persoalannya bukan hanya gimana pesta berlangsung, tetapi juga gimana kehidupan setelah aktivitas seremoni selesai.

Fenomena pasangan Gen Z nan memilih menikah secara sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA) dan mengalihkan anggaran untuk kebutuhan setelah menikah belakangan ramai menjadi pembahasan di media sosial.

Perubahan tersebut bukan berfaedah seluruh Gen Z menolak pesta pernikahan. Fenomena ini lebih menunjukkan bahwa sebagian pasangan muda mulai mempertimbangkan kembali prioritas sebelum mengeluarkan biaya besar untuk sebuah seremoni nan hanya berjalan sehari.

Lalu, apa nan membikin langkah pandang tersebut mulai berubah? Ada beberapa perihal nan menarik untuk diperhatikan.

1. Pesta Hanya Sehari, Kehidupan Rumah Tangga Bertahun-tahun

Pernikahan memang menjadi salah satu momen krusial dalam kehidupan. Namun, pesta nan digelar untuk merayakannya biasanya hanya berjalan beberapa jam alias satu hari.

Setelah tamu pulang dan hiasan dibongkar, pasangan bakal menjalani kehidupan baru nan jauh lebih panjang. Di fase inilah beragam kebutuhan rumah tangga mulai datang dan kudu dipenuhi.

Pertimbangan tersebut membikin sebagian pasangan berpikir bahwa anggaran pernikahan tidak kudu seluruhnya dihabiskan untuk acara. Sebagian biaya dapat dialihkan untuk mempersiapkan kebutuhan hidup setelah menikah.

2. Rumah Menjadi Prioritas

Tempat tinggal menjadi salah satu kebutuhan nan perlu dipikirkan setelah menikah. Bagi sebagian pasangan, mempunyai rumah alias menyiapkan biaya untuk tempat tinggal menjadi bagian krusial dari persiapan membangun rumah tangga.

Selain rumah, pasangan juga perlu memikirkan beragam kebutuhan lain, seperti perabot, biaya listrik dan air, kebutuhan sehari-hari, biaya darurat, hingga pengeluaran lain nan mungkin muncul dalam kehidupan rumah tangga.

Oleh karena itu, mempunyai tempat tinggal alias setidaknya menyiapkan biaya untuk kebutuhan tersebut dapat dianggap lebih krusial bagi pasangan nan mau membangun kehidupan secara bertahap.

3. Pesta Pernikahan Sederhana Bukan Berarti Tidak Punya Impian

Pesta pernikahan nan sederhana terkadang tetap dianggap sebagai sesuatu nan kurang meriah. Padahal, keputusan tersebut belum tentu menunjukkan bahwa pasangan tidak bisa alias tidak mau mengadakan pesta.

Bisa saja mereka memang memilih mengutamakan kebutuhan lain. Bagi sebagian pasangan, janji sederhana berbareng family terdekat sudah cukup untuk menandai dimulainya kehidupan baru.

Perayaan pun tetap bisa dilakukan dalam corak nan lebih mini dan disesuaikan dengan keahlian serta anggaran nan dimiliki.

Yang mulai berubah adalah langkah sebagian anak muda menentukan prioritas. Pernikahan tidak lagi hanya dipandang sebagai satu hari nan kudu terlihat sempurna di hadapan banyak orang, tetapi juga sebagai awal dari kehidupan nan bakal dijalani bersama.

Sebab, ketika pesta selesai dan para tamu pulang, kehidupan sebagai pasangan suami istri justru baru dimulai. (ina)

Selengkapnya