KABAR MADURA | Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) masyarakat Pamekasan tercatat sebesar 55,96 poin pada 2025, turun dibandingkan capaian 2024 nan mencapai 62,2 poin. Penurunan tersebut disebut tidak dapat dibandingkan secara langsung lantaran terdapat perubahan metode pengukuran nan diterapkan Perpustakaan Nasional.
Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Pamekasan, Kusairi, menjelaskan bahwa TKM Pamekasan pada 2023 berada di nomor 58,5 alias kategori sedang. Setahun berikutnya, nilainya meningkat menjadi 62,2 dan masuk kategori tinggi, sebelum tercatat turun menjadi 55,96 poin pada 2025.
Menurut Kusairi, perubahan nomor pada 2025 perlu dilihat berbarengan dengan perubahan parameter pengukuran. Perpustakaan Nasional tidak lagi menggunakan parameter nan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi mengukur aktivitas literasi melalui tiga dimensi utama, ialah pramembaca, saat membaca, dan pascamembaca.
Hal tersebut disampaikan Kusairi dalam Dialog Kepustakaan bertema “Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa” nan digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) berbareng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Pamekasan, Senin (15/9/2026).
Selain persoalan TKM, Kusairi menilai perkembangan teknologi telah mengubah corak dan langkah masyarakat mengakses bahan pustaka. Pustaka sekarang tidak hanya berbentuk kitab cetak, tetapi juga datang dalam format digital maupun kultural.
Perubahan tersebut sekaligus membawa tantangan baru bagi budaya literasi. Derasnya arus info dan distraksi digital membikin keahlian membaca saja dinilai tidak cukup. Masyarakat juga perlu mempunyai keahlian memilah, memahami, dan memverifikasi info nan diterima.
Karena itu, penguatan literasi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah aktivitas membaca, tetapi juga kualitas masyarakat dalam mengolah info agar tidak mudah terpengaruh info keliru maupun hoaks.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pamekasan, Munapik, M.Pd.I., mendorong pemanfaatan perpustakaan oleh beragam golongan masyarakat semakin diperluas. Lembaga pendidikan, misalnya, dapat memanfaatkan perpustakaan melalui kunjungan maupun aktivitas outing class.
Penguatan literasi juga membuka kesempatan kerjasama antara perpustakaan dan insan pers. Kerja sama tersebut dapat diarahkan pada kampanye literasi, edukasi antihoaks, penyediaan ruang publik nan inklusif, hingga pendidikan jurnalistik di lingkungan perpustakaan.
Dialog nan juga menghadirkan wartawan senior Antara, Abd. Azis, M.I.Kom., tersebut sekaligus menekankan pentingnya perpustakaan dan media mengambil peran dalam meningkatkan kualitas literasi masyarakat di tengah derasnya arus info digital. (Arjul Wafiqoh/waw)

1 hari yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·