TKM Pamekasan Merosot, Masuk Empat Daerah Terendah di Jatim

1 jam yang lalu 1

Pengunjung sedang membaca kitab di Perpustakaan Daerah Pamekasan. (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA)

PAMEKASAN || KLIKMADURA – Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Kabupaten Pamekasan mengalami penurunan cukup signifikan. Skor TKM nan pada 2024 mencapai 62,2 poin, turun menjadi 55,96 poin pada 2025 alias berkurang 6,24 poin.

Penurunan tersebut turut membikin posisi Pamekasan dalam pemeringkatan TKM Jawa Timur merosot. Jika pada 2024 berada di ranking ke-30, Pamekasan turun ke posisi ke-35 dari 38 kabupaten/kota pada 2025, sekaligus menempatkannya sebagai wilayah dengan TKM terendah keempat di Jawa Timur.

Di tingkat Madura, posisi Pamekasan juga mengalami kemunduran. Dari sebelumnya berada di ranking ketiga pada 2024, Pamekasan pada 2025 justru menjadi wilayah dengan TKM terendah di Pulau Garam.

Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Pamekasan Kusairi mengatakan, hasil tersebut perlu dibaca dengan mempertimbangkan perubahan metodologi pengukuran TKM pada 2025. Menurutnya, perubahan tersebut cukup signifikan, termasuk dalam proses penentuan dan pengambilan sampel responden.

“Perubahan metodologi menjadi salah satu perihal nan perlu diperhatikan dalam membaca hasil TKM 2025. Bahkan, terdapat persoalan dalam proses pengambilan sampel responden di daerah. Tahun 2025 dan tahun-tahun sebelumnya itu terdapat banyak perubahan. Bisa dikatakan diubah total oleh Perpustakaan Nasional,” ungkap Kusairi.

Ia menjelaskan, pada tahap awal Pamekasan mendapat info mengenai kebutuhan sekitar 400 responden. Namun setelah dilakukan seleksi oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, sebagian responden dinilai bias sehingga diperlukan tambahan sampel.

Persoalan muncul ketika pihaknya hendak melakukan pengambilan sampel tambahan. Saat itu, tautan kuesioner nan disediakan sudah ditutup sehingga pengambilan sampel tambahan tidak dapat dilakukan.

Kondisi tersebut, kata Kusairi, diduga berpengaruh terhadap jumlah sampel Pamekasan nan tidak memenuhi target, sementara jumlah pembagi dalam penghitungan tetap sama.

“Sehingga itu bakal berakibat terhadap hasil. Kami sifatnya hanya menyampaikan, ini link-nya silakan diisi. Kami tidak tahu masyarakat nan mengisi itu ada kendala, selesai terkirim alias tidak,” kata Kusairi.

Perubahan juga terjadi pada penentuan titik sampel. Kusairi menyebut, pengukuran TKM sebelumnya dilakukan secara lebih terpusat dengan melibatkan perpustakaan provinsi dan konsultan dari Universitas Airlangga (UNAIR), sehingga proses pengumpulan info dan penghitungan relatif lebih mudah dipantau.

”Sementara pada 2025, sejumlah perubahan membikin pemerintah wilayah tidak mempunyai akses penuh terhadap proses pengumpulan data,” tegasnya.

Meski demikian, Kusairi mengakui capaian TKM Pamekasan secara nomor tetap tergolong rendah. Namun, menurut dia, nomor tersebut tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai gambaran rendahnya minat masyarakat terhadap aktivitas membaca.

Ia menyebut DPK Pamekasan sebelumnya pernah melakukan kajian nan menunjukkan nomor minat baca masyarakat berada di kisaran 90 persen. Karena itu, dia menilai perlu dibedakan antara parameter minat baca dengan TKM nan digunakan dalam pemeringkatan.

“Cuma nan dipakai oleh pusat adalah TKM-nya. Jadi, minat baca itu bagian dari TKM. Jadi orang memandang buku, senang membaca, dan itu memang relate dengan kondisi di lapangan,” ungkapnya.

Sementara itu, Relawan Penggerak Compok Literasi Pamekasan M. Arinal Haqil Ghifari menilai, organisasi literasi perlu mendapat info nan lebih terbuka mengenai sistem pengumpulan info TKM. Sebab, pegiat literasi di wilayah mengaku tidak mengetahui secara perincian proses pengambilan info dan penentuan responden tersebut.

Menurut Ari, pelibatan organisasi krusial agar pemerintah dan pegiat literasi mempunyai pemahaman nan sama terhadap parameter serta proses pengukuran TKM. Dengan demikian, info nan dihasilkan dapat menjadi injakan berbareng untuk menyusun program peningkatan literasi di Pamekasan.

“Minimalnya disosialisasikan kepada kami gimana langkah kerja pengambilan info untuk TKM tersebut, sehingga apa nan dikolaborasikan antara pemerintah dengan organisasi bisa selaras,” katanya.

Kemudian, ketika ada perangkat ukur seperti ini menjadi suatu nan urgent bagi kami, jika tidak ada kerjasama sebelumnya iya kami tidak tahu menahu perihal tersebut. (enk/nda)

Selengkapnya