Tingkatkan Mutu Pendidikan, Anggota DPR RI Hj. Ansari Soroti Peran Guru hingga Masyarakat

1 jam yang lalu 2

Pamekasan, (Media Madura) – Peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan keahlian tenaga pendidik. Dukungan keluarga, pembentukan karakter peserta didik, serta keterlibatan masyarakat dalam mengawasi program pemerintah juga menjadi bagian krusial nan perlu diperkuat.

Hal itu ditekankan Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Ansari, dalam rangkaian aktivitas penguatan kapabilitas insan pendidikan pada Rabu (28/10/2026). Ia membujuk para pendidik dan pengelola lembaga pendidikan untuk terus mengembangkan kompetensi, memperbaiki tata kelola, serta membangun kerjasama demi mewujudkan pendidikan nan lebih berkualitas.d

Dalam penyampaiannya, Politikus PDI Perjuangan itu mengingatkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan kudu dimulai dari kemauan setiap perseorangan untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan. Menurutnya, pembimbing dan tenaga kependidikan perlu memperbarui pengetahuan agar dapat menjalankan tanggung jawab secara lebih baik.

“Kita kudu meng-upgrade diri. Harus terus belajar,” ujar Hj. Ansari.

Ia juga mengingatkan agar seseorang tidak memandang pendidikan hanya dari faedah ekonomi nan dapat diperoleh dalam waktu singkat. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang nan dapat membuka kesempatan dan membantu seseorang menghadapi perubahan keadaan.

“Kita tidak tahu suatu saat roda berputar,” katanya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi insan pendidikan bahwa peningkatan kompetensi tidak cukup dilakukan ketika mengikuti pelatihan. Pengetahuan nan diperoleh perlu diterapkan dalam pekerjaan, baik dalam proses pembelajaran, pengelolaan madrasah, pendampingan tenaga pendidik, maupun penyelenggaraan manajemen jabatan.

Hj. Ansari juga berbagi pengalaman perjalanan hidupnya. Sebelum menjadi personil DPR RI, dia pernah menjadi pembimbing taman kanak-kanak selama 14 tahun. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa pendidikan memerlukan kesabaran, konsistensi, dan keterlibatan banyak pihak.

Ia turut menyinggung pentingnya melanjutkan pendidikan dan tidak berakhir belajar hanya lantaran seseorang telah bekerja alias memperoleh penghasilan. Menurutnya, kesempatan untuk meningkatkan kapabilitas diri kudu terus dimanfaatkan.

Pendidikan Membutuhkan Kolaborasi dan Pengawasan Bersama

Selain peningkatan kompetensi tenaga pendidik, Hj. Ansari menyoroti peran family dalam membentuk karakter anak. Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berjalan di sekolah lantaran orang tua merupakan pendidik pertama bagi anak.

Karena itu, pembiasaan nan dilakukan pembimbing di sekolah perlu mendapatkan support dari orang tua di rumah.

“Harus berkesinambungan antara sekolah dan di rumah,” ujarnya.

Ia mencontohkan pembiasaan sederhana, seperti mengajarkan anak meletakkan sepatu dan tas pada tempatnya. Kebiasaan tersebut perlu diterapkan secara konsisten di sekolah maupun di rumah agar anak terbiasa disiplin dan bertanggung jawab.

Menurut Hj. Ansari, pendidikan karakter juga memerlukan keteladanan orang dewasa. Sikap orang tua di rumah dan perilaku pembimbing di sekolah sama-sama berpengaruh terhadap proses pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, komunikasi dan kerja sama antara family dan sekolah perlu terus dibangun.

Dalam kesempatan nan sama, dia menjelaskan peran DPR RI dalam menjalankan kegunaan legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Sebagai personil Komisi VIII DPR RI nan berkolaborasi dengan Kementerian Agama, dia meletakkan perhatian pada program-program nan berangkaian dengan madrasah, pesantren, dan peserta didik.

Ia mendorong masyarakat serta pengelola lembaga pendidikan untuk aktif menyampaikan aspirasi mengenai kebutuhan dan hambatan nan mereka hadapi. Menurutnya, pengawasan terhadap program pemerintah tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga negara, tetapi juga memerlukan partisipasi masyarakat.

Hj. Ansari mengingatkan bahwa persoalan nan muncul di lapangan sebaiknya disampaikan melalui jalur komunikasi nan tepat. Apabila masukan tidak mendapatkan tanggapan setelah disampaikan berulang kali, masyarakat dapat mempertimbangkan langkah lain agar persoalan tersebut mendapat perhatian.

Ia juga menekankan pentingnya kelengkapan manajemen lembaga pendidikan. Dalam penyelenggaraan program bantuan, persoalan arsip nan belum komplit dapat menjadi salah satu kendala. Karena itu, pengelola lembaga perlu memastikan persyaratan manajemen dipenuhi sesuai ketentuan nan berlaku.

Menurutnya, penguatan kompetensi, tata kelola nan baik, dan pengawasan masyarakat kudu melangkah beriringan. Pelatihan bakal lebih berarti andaikan diikuti perubahan dalam penyelenggaraan tugas, sementara program pemerintah dapat melangkah lebih tepat sasaran andaikan kebutuhan penerima faedah dan persoalan di lapangan turut diperhatikan.

Melalui rangkaian aktivitas tersebut, Hj. Ansari berambisi insan pendidikan terus meningkatkan kapabilitas diri, memperkuat kerja sama dengan keluarga, serta membangun tata kelola lembaga nan lebih baik. Upaya itu diharapkan dapat mendukung peningkatan mutu pembelajaran dan memberikan faedah nyata bagi masyarakat.

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0