Tergerus Modernisasi, Tradisi Taneyan Lanjhang di Pamekasan Mulai Ditinggalkan

1 jam yang lalu 2

KABAR MADURA | Di kembali deretan rumah tradisional nan berbanjar rapi dari barat ke timur di pedesaan Madura tepatnya di Desa Larangan Tokol, Tlanakan, Pamekasan, tersimpan sebuah tatanan hidup nan sarat makna magis, religius, dan mitos pengikat keselamatan family besar. 

Dikenal dengan nama Taneyan Lanjhang nan mempunyai makna laman nan memanjang, kompleks arsitektur unik tersebut bukan sekadar kompleks rumah budaya biasa, namun terselip makna, nan mana pada kenyataannya sekarang telah berubah dengan mengikuti zaman.

Kata Suwardi (87), seorang tokoh masyarakat sekaligus sesepuh di Desa Tlanakan, Pamekasan, mengatakan bahwa di kembali arsitektur tersebut terdapat tatanan mendalam nan mengikat keselamatan seluruh personil family besar.

“Taneyan Lanjhang bukan sekadar kompleks rumah budaya biasa bagi masyarakat Madura, termasuk di Pamekasan. Di kembali arsitekturnya nan berbanjar rapi dari barat ke timur menghadap satu laman luas, terdapat tatanan magis, religius, dan mitos-mitos kuat nan mengikat keselamatan seluruh personil family besar,” ujarnya nan menggambarkan prinsip dari kompleks kediaman tradisional tersebut, namun sekarang sudah mulai pudar alias berubah, Rabu (28/10/2026).

Namun, pusaka budaya leluhur tersebut sekarang berada di periode senja. Arus modernisasi dan perubahan pola pikir membikin tatanannya mulai menyusut dan ditinggalkan oleh generasi muda.

Suwardi menuturkan bahwa seiring bergulirnya waktu, modernisasi dan perubahan pola pikir membikin mitos-mitos sakral tersebut mulai runtuh, berujung pada menyusutnya keberadaan Tanean Lanjhang di pedesaan.

“Salah satu mitos nan dulunya sangat dikeramatkan berangkaian dengan pelanggaran jenjang alias urutan pembangunan rumah. Dahulu, struktur rumah diatur secara ketat berasas usia di mana rumah di ujung paling barat alias tongguh wajib ditempati oleh orang tua alias sesepuh tertua,” tambahnya.

Sementara anak-anak, lanjut Suwardi, nan mana membangun rumah memanjang ke arah timur. Jika urutan tersebut dilanggar seperti anak bungsu nan membangun rumah mendahului alias posisinya lebih ke barat daripada kakaknya family tersebut diyakini bakal terkena apes ganal alias kesialan besar.

Kata Suwardi, kesialan tersebut berupa rezeki mampet, penyakit asing menahun, hingga keretakan rumah tangga. Kini, mitos tersebut runtuh lantaran aspek ekonomi dan keadilan. 

“Generasi muda menganggap siapa pun anak nan sukses secara finansial terlebih dulu berkuasa membangun rumah tanpa kudu menunggu giliran berasas urutan kelahiran, sehingga rasa takut bakal kutukan apes telah berganti menjadi pemikiran nan lebih realistis dan praktis,” terangnya.

Pergeseran serupa juga terjadi pada mitos kesucian langghar alias musala di ujung barat nan dulunya diyakini sebagai tembok gaib pelindung moral dan keselamatan bentuk penunggu rumah dari marabahaya maupun guna-guna luar. 

Kata Suwardi, walaupun nilai religiusnya tetap dijaga oleh masyarakat, corak bentuk arsitekturnya sekarang banyak nan berubah. 

“Banyak kompleks Taneyan Lanjhang saat ini nan memilih membongkar langghar kayu tradisional mereka dan menggantinya dengan ruang tamu beton bergaya modern demi menyesuaikan dengan tuntutan kegunaan menerima tamu era sekarang nan lebih dinamis,” lanjutnya.

Suwardi mengatakan bahwa selain lantaran memudarnya kepercayaan pada mitos-mitos tersebut, menyusutnya Taneyan Lanjhang juga dipicu oleh aspek struktural nan tidak dapat dihindari, ialah norma waris dan penyempitan lahan. 

Ketika tanah family besar kudu dibagi-bagi kepada para mahir waris, tanah pekarangan nan panjang tersebut tidak lagi cukup untuk menampung gedung baru dengan format memanjang. 

“Selain lantaran memudarnya kepercayaan pada mitos itu menyusutnya Taneyan Lanjhang juga disebabkan oleh norma waris dan penyempitan lahan,” tutupnya. (fit/waw)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0