Tempa Diri di Sela KKN, Moh. Agung Dwi Putra Pesilat UIN Madura Sukses Revans atas Lawan Terkuatnya

1 jam yang lalu 2

KABAR MADURA | Memori kekalahan di arena PORSI JAWARA I di Jember tak pernah betul-betul lenyap dari ingatan Moh. Agung Dwi Putra. Kala itu, langkah pesilat dari Perguruan Silat Walet Hitam ini terhenti di podium kedua usai melepaskan lencana emas ke tangan rivalnya asal UIN Bandung.

Namun, panggung PORSI JAWARA II nan digelar di UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Rabu (10/9/2026), menyajikan skenario berbeda. Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Madura ini kembali berdiri di matras final pencak silat kategori Tunggal Putra.

Menariknya, takdir kembali mempertemukannya dengan musuh nan sama: sang penakluk dari Bandung.

Pertemuan kedua ini menjadi panggung pembalasan nan manis sekaligus paling berkesan bagi Agung. Lewat jurus-jurus presisi dan ketenangan mental, dia sukses membalikkan keadaan dan menyabet lencana emas, memaksa sang rival puas berada di posisi runner-up.

“Dulu saya kalah di final dan juara dua. Sekarang ketemu lagi di final dengan orang nan sama. Alhamdulillah dengan izin Allah saya juara satu, dia juara dua,” tutur Agung.

Di kembali kilau emas tersebut, ada riwayat perjuangan nan tak biasa. Masa persiapan selama dua bulan tak melangkah mulus di dalam padepokan resmi. Sebagian besar proses latihan justru dieksekusi di sela-sela kesibukan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di tengah pengabdian masyarakat, Agung memanfaatkan setiap celah waktu senggang untuk mengasah bentuk dan ketajaman jurusnya.

Bagi Agung, teknik dan bentuk hanyalah separuh dari formula kemenangan. Separuhnya lagi adalah kesiapan mental untuk menerima segala kemungkinan di atas matras.

“Usaha sebaik-baiknya, ikhtiar sebaik-baiknya, untuk hasil itu pasti nan terbaik dari Allah. Tinggal tawakal,” ungkapnya.

Kemenangan ini terasa kian emosional. Berada di periode pemisah masa studinya, Agung memandang lencana emas ini sebagai persembahan terakhir sebuah bingkisan perpisahan manis untuk almamaternya nan relatif baru beralih bentuk menjadi UIN Madura. Dia mau membuktikan bahwa kampus tempatnya berlindung bisa berkibar di podium tertinggi di antara kampus-kampus PTKIN.

Meski sukses membawa pulang kebanggaan bagi kampus, keluarga, dan rekan-rekannya, tak ada nada jumawa dalam tutur kata Agung. Kemenangan ini, ditegaskannya, bukanlah corak kehebatannya semata.

“Pandangan terhadap keahlian diri saya tetap dari awal. Saya ini tidak bisa apa-apa. Saya nol tanpa Allah,” pukasnya rendah hati.

Kini, bingkisan manis untuk almamater telah tuntas diserahkan. Agung menatap gelanggang berikutnya berambisi terus melangkah menuju arena Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur demi membawa nama wilayah ke level nan lebih tinggi. (iim/rul)

Selengkapnya