Tak Pernah Bercita-cita Jadi Kades, Agus Istiklal Tinggalkan Dunia Pendidikan demi Mengabdi di Branta Pesisir

2 jam yang lalu 3

KABAR MADURA | Menjadi kepala desa bukanlah cita-cita nan sejak awal mau diwujudkan Agus Istiklal. Sebelum dipercaya memimpin Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, dia telah mempunyai kehidupan nan cukup mapan sebagai pengajar sekaligus pelaku usaha.

Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerjanya menjadi bagian krusial dari perjalanan hidup Agus. Lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 1998 itu menyelesaikan studinya pada 2004. Setelah lulus, dia mengajar di SMAN 4 Pamekasan dan SMA Hidayatun Najah, Samiran, Kecamatan Proppo. Dia juga pernah menjadi pengajar di Unsuri Sidoarjo.

Selain mengajar, Agus mengembangkan upaya kreasi interior dan eksterior. Bahkan, pekerjaannya tersebut telah menjangkau sejumlah wilayah di luar Pulau Madura. Baginya, kemandirian dan tanggung jawab menjadi nilai nan terbentuk sejak muda dan terus dia pegang hingga sekarang.

“Sejak muda saya termasuk anak nan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Saya suka bekerja sesuai dengan talenta saya. Bahkan, saat menjadi pembimbing pun saya membuka upaya interior dan eksterior desain,” ungkapnya saat diwawancarai pada Senin (2/11/2026).

Keterlibatan Agus dalam kehidupan sosial masyarakat juga sudah dimulai sejak tetap menjadi mahasiswa. Saat duduk di semester empat, dia mengumpulkan anak-anak muda di Desa Branta Pesisir untuk membentuk organisasi seni musik modern berjulukan Tanduk Majhang. Komunitas tersebut secara rutin menggelar aktivitas setiap tahun.

Meski aktif dalam aktivitas masyarakat, Agus mengaku tidak pernah mempunyai kemauan untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa. Keadaan berubah ketika ayahnya, almarhum H. Jamal Arifin, hendak maju dalam pemilihan kepala desa. Saat itu, jumlah bakal calon mencapai tujuh orang sehingga proses seleksi manajemen dan penilaian menjadi tahapan nan kudu dilalui.

Melihat kondisi tersebut, family dan orang-orang terdekat meminta Agus ikut mencalonkan diri. Permintaan itu dimaksudkan untuk menjaga support masyarakat nan sebelumnya telah diberikan kepada ayahnya.

Agus akhirnya mengikuti seleksi berbareng tujuh bakal calon lainnya di tingkat Provinsi Jawa Timur. Hasilnya, dia menempati posisi tertinggi, sedangkan ayahnya berada di urutan keenam. Dengan hasil tersebut, Agus dinyatakan memenuhi syarat untuk melanjutkan pencaonan.

Perjalanan menuju bangku kepala desa itu pun mendapat support dari keluarga, kerabat, dan masyarakat. Menurut Agus, support tersebut tidak hanya berupa materi, tetapi juga semangat dan kepercayaan untuk membangun desa.

Dia mengaku tidak mengeluarkan duit untuk memberikan infak politik agar dipilih masyarakat. Karena itu, kepercayaan nan diberikan penduduk menjadi tanggung jawab nan kudu dijaga melalui pelayanan nan tulus.

“Yang jelas, saya merasakan masyarakat Desa Branta Pesisir tulus memilih saya. Karena saya tidak mengeluarkan sepeser pun duit untuk infak politik agar dipilih masyarakat. Maka, saya juga kudu lebih tulus dalam melayani masyarakat sebagai corak tanggung jawab atas amanah tersebut,” tuturnya.

Bagi Agus, seorang pemimpin kudu bisa menjadi representasi masyarakat nan dipimpinnya. Menjaga amanah, menampung dan memperjuangkan pendapat warga, serta mempertahankan kondisi desa agar tetap kondusif merupakan tanggung jawab utama seorang kepala desa.

Pengalaman paling berkesan selama menjalankan tugas, lanjutnya, adalah ketika upaya dan support nan diberikan dapat membikin masyarakat tersenyum dan merasa bahagia. Hal sederhana tersebut menjadi salah satu pengingat baginya bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan tentang faedah nan bisa dirasakan warga.

Agus juga menekankan pentingnya tanggung jawab, keadilan, dan kedisiplinan dalam menjalankan kehidupan. Dia berpesan kepada generasi muda agar terus meningkatkan keahlian dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan nan semakin tinggi.

“Generasi muda kudu bisa memantaskan diri. Kompetensi kudu selalu ditingkatkan agar tidak tertinggal. Fokus pada keahlian dan terakhir menjadi orang nan takut kepada Allah SWT. Jagalah waktu dengan Allah SWT, maka kita bakal dijaga oleh Allah SWT,” pesannya. (ina/waw)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0