Tak Ingin Sampang Cuma Jadi Pemasok Pekerja Surabaya Raya, Disnaker Siapkan SDM Unggul

1 jam yang lalu 2

Kepala Disnaker Sampang, Asroni, S.Sos., M.Si. (KLIKMADURA)

SAMPANG || KLIKMADURA – Perbedaan tingkat bayaran membikin sebagian penduduk Sampang memilih mencari pekerjaan di luar daerah, terutama area Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.

Pemerintah Kabupaten Sampang sekarang berupaya mengubah pola tersebut dengan menyiapkan tenaga kerja terampil sekaligus mendorong investasi agar lebih banyak lapangan kerja tersedia di wilayah sendiri.

Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sampang menyiapkan sejumlah program hingga 2027 untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM). Program tersebut mencakup pelatihan, sertifikasi tenaga kerja, hingga penyiapan calon pekerja migran untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja dalam dan luar negeri.

Langkah tersebut diarahkan untuk mendukung agenda investasi Bupati Sampang H. Slamet Junaidi. Pemerintah wilayah berambisi pertumbuhan investasi melangkah beriringan dengan peningkatan kualitas tenaga kerja dan penyerapan pekerja lokal.

Kepala Disnaker Sampang, Asroni, S.Sos., M.Si., mengatakan perpindahan tenaga kerja ke wilayah dengan tingkat bayaran lebih tinggi merupakan dinamika nan tidak dapat dilepaskan dari kondisi ketenagakerjaan.

Namun, pemerintah wilayah terus berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar kesempatan kerja dan tingkat pendapatan masyarakat ikut berkembang.

“UMK itu penetapannya ada izin nasional sesuai Permenaker, dengan variabel inflasi, kondisi ketenagakerjaan, dan jumlah industrialisasi alias koefisien Alfa. Nilainya diusulkan Bupati setiap akhir tahun. Kami di Disnaker terus berupaya agar pertumbuhan ekonomi Sampang naik, sehingga UMK juga bakal naik secara otomatis,” ujar Asroni, Selasa (29/9/2026).

Berdasarkan SK Gubernur Jawa Timur tentang UMK 2026, terdapat perbedaan cukup besar antara bayaran minimum di Sampang dengan sejumlah wilayah industri di area Surabaya Raya. UMK Kota Surabaya tercatat Rp5.288.796, Sidoarjo Rp5.191.541, sedangkan Kabupaten Sampang Rp2.484.443.

Meski terdapat kesenjangan upah, Asroni memandang kondisi tersebut juga dapat menjadi salah satu pertimbangan penanammodal dalam menghitung efisiensi biaya produksi.

Menurutnya, kesempatan tersebut kudu diikuti kebijakan nan bisa memastikan investasi memberikan akibat terhadap perekonomian dan masyarakat lokal.

“UMK kita nan kompetitif ini sebetulnya menjadi daya tarik investasi. Biaya produksi lebih efisien. Ini menjadi kesempatan besar bagi Sampang. Jika penanammodal masuk atas program Bapak Bupati, pengaruh dominonya luar biasa, penyerapan tenaga kerja lokal meningkat, penghasilan penduduk bertambah, UMKM bergerak, dan pertumbuhan ekonomi bakal terdongkrak,” tegasnya.

Namun, investasi tidak cukup hanya ditopang kesiapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Disnaker Sampang menilai kualitas dan keahlian pekerja menjadi aspek krusial agar masyarakat lokal bisa mengambil posisi ketika industri mulai tumbuh.

Karena itu, pembuatan suasana kerja nan kondusif dinilai bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dunia usaha, lembaga pendidikan, masyarakat, dan beragam pemangku kepentingan juga perlu terlibat agar pengembangan ekonomi wilayah melangkah berkelanjutan.

“Ini bukan tugas Disnaker saja, tetapi seluruh komponen masyarakat kudu mendukung program Bupati ini. Potensi kita ada, seperti garam dan bahan baku lainnya. Nantinya Pemda bisa mensyaratkan penyerapan tenaga lokal, dan nan belum punya skill bisa kita latih melalui Poltera dan BLK,” ungkapnya.

Disnaker Sampang juga mulai mengarahkan program ketenagakerjaan pada kebutuhan pasar kerja jangka menengah hingga 2027. Dua program pemerintah pusat sekarang dijalankan di Sampang untuk menyiapkan tenaga kerja bagi pasar kerja dalam negeri maupun luar negeri.

Program pertama berasal dari Kementerian Ketenagakerjaan melalui Pemagangan dan Pelatihan Vokasi. Program tersebut diarahkan untuk mencetak tenaga kerja terampil dan bersertifikat nan dapat masuk ke perusahaan umum maupun mengembangkan upaya secara mandiri.

Program kedua berasal dari Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) melalui SMK Go Global. Program ini diarahkan untuk menyiapkan calon pekerja migran agar dapat bekerja secara legal, aman, dan ahli dengan keahlian bahasa serta keahlian nan disesuaikan dengan negara tujuan.

“Program ini sudah kami sosialisasikan ke seluruh SMK di Sampang dan ke Poltera. Tujuannya jelas, menyiapkan SDM unggul agar penduduk kita tidak lagi berangkat secara terlarangan dan mempunyai daya saing tinggi,” jelas Asroni.

Untuk kebutuhan tenaga kerja luar negeri, keahlian bahasa menjadi salah satu kompetensi nan dipersiapkan. Asroni mencontohkan kebutuhan bahasa Inggris untuk sektor perhotelan di Turki serta bahasa Jepang bagi calon pekerja nan hendak bekerja di Jepang.

Bagi Disnaker, investasi dan kualitas tenaga kerja merupakan dua perihal nan tidak dapat dipisahkan. Investasi diharapkan membuka lapangan kerja, sementara tenaga kerja lokal kudu dipersiapkan agar bisa memenuhi kebutuhan industri nan berkembang di Sampang.

Kombinasi antara investasi, suasana kerja nan kondusif, serta tenaga kerja terlatih dan bersertifikat diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap lapangan kerja di luar daerah.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya mendorong nomor investasi, tetapi juga membuka ruang lebih besar bagi masyarakat untuk bekerja dan meningkatkan pendapatan di wilayah sendiri.

“Cukup bekerja di wilayah sendiri, dekat dengan keluarga, penghasilan layak, dan Sampang bisa maju mengejar ketertinggalan dari Surabaya,” pungkasnya. (ali/nda)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0