KABAR MADURA | Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura mendorong Madura beralih bentuk dari sekadar pemasok bahan baku menjadi pedoman industri nan bisa menciptakan nilai tambah.
Dorongan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Stadium General bertema “Industrialisasi Kawasan Madura di Era Transformasi Ekonomi: Peluang Investasi, Penguatan SDM, dan Inovasi Teknologi” di Aula Pesantren UNIBA Madura, Senin (14/9/2026).
Acara tersebut menghadirkan tiga pemateri, ialah Direktur Utama PT Pelabuhan Tanjung Priok KRT. H Indra Hidayat Sani, M.B.A.; Komisaris Utama PT Pelabuhan Tanjung Priok Dr. Prakosaadi Takariyanto, M.M.; serta Komisaris PT Pelabuhan Teluk Lamong Dr. K.H. R.P. Zainal Abidin Amir, M.A.
Dalam paparannya, Indra menyoroti pentingnya integrasi pelabuhan dan area industri. Integrasi ini dinilai bisa meningkatkan keahlian pelabuhan, memperkuat efisiensi operasional, menurunkan biaya logistik, serta memperbesar kontribusi sektor industri terhadap perekonomian. Ia juga menekankan pengaturan arus peralatan agar material tidak menumpuk di pelabuhan.
“Barang hanya boleh masuk paling sigap seminggu sebelum kapal datang alias lima hari sebelum kapal datang agar barangnya tidak lama-lama numpuk di pelabuhan,” ujar Indra.
Ia memaparkan penemuan teknologi Drop Tank dengan Submersible Pump untuk mempercepat penanganan muatan curah, khususnya CPO. Inovasi tersebut disebut meningkatkan produktivitas hingga dua kali lipat dan efisiensi port stay hingga 50 persen.
Kinerja operasional PTP Nonpetikemas pada semester I 2026 mencatat total throughput 26.799.777 ton/m³ alias 108 persen dari target, naik 20 persen dibanding tahun sebelumnya.
Sementara itu, Prakosa dan Zainal Abidin menyoroti aspek strategis pengembangan area industri dan pelabuhan, mulai dari letak nan dekat dengan sumber daya, ukuran pelabuhan, spesifikasi infrastruktur, hingga tahapan pembangunan.
Keduanya menekankan pentingnya sinkronisasi antara pertumbuhan area industri dan peningkatan arus peralatan agar pergerakan material melangkah efisien.
Dalam sesi materi, garam menjadi komoditas nan paling disorot. Madura mempunyai pedoman produksi garam besar, tetapi potensinya belum tergarap optimal lantaran tetap dijual sebagai bahan baku.
Hilirisasi melalui ekosistem terintegrasi mulai dari produksi, pemurnian, pengolahan, hingga pengedaran dinilai dapat mendorong garam menjadi bagian industri berbobot ekonomi lebih tinggi. Potensi maritim lain seperti perikanan, energi, logistik, dan konektivitas antarpulau disebut memerlukan support serupa.
Sejumlah tantangan nan tetap dihadapi antara lain keterlambatan angkutan, keterbatasan moda transportasi, waktu tempuh panjang, dan keterbatasan prasarana jalan. Pengembangan Pelabuhan Kalianget juga disebut menjadi bagian krusial untuk memperkuat konektivitas Sumenep dengan wilayah kepulauan serta mendukung aktivitas ekonomi Madura Timur, mencakup komoditas, logistik antarpulau, garam, perikanan, energi, hingga wisata.
Rektor UNIBA Madura, Rachmad Hidayat, menyampaikan perguruan tinggi berkedudukan krusial dalam proses industrialisasi, tidak hanya menghasilkan lulusan tetapi juga menyediakan talenta sesuai kebutuhan industri.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara gading. Kami kudu masuk ke dalam ekosistem industrialisasi, menyiapkan talenta nan betul-betul dibutuhkan industri, dan menjadi mitra strategis dalam riset serta penemuan teknologi,” paparnya.
Ia menambahkan, penanammodal tidak hanya memandang sumber daya nan tersedia, melainkan kesiapan ekosistem, infrastruktur, SDM, dan teknologi.
“Selama ini Madura dikenal sebagai pemasok bahan baku. Sudah saatnya kita berubah menjadi pedoman industri. Jangan sampai kekayaan alam kita hanya dinikmati wilayah lain lantaran tidak bisa mengolahnya sendiri,” pungkasnya. (km97/ong)

53 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·