Sanggar Genta Pamekasan Manfaatkan Tren TikTok Lestarikan Tari Tradisional

1 jam yang lalu 1

KABAR MADURA | Di tengah cepatnya perkembangan tren di media sosial, Sanggar Genta Pamekasan memilih memanfaatkan TikTok untuk menjaga kesenian tari tradisional agar tetap diminati oleh generasi muda. Tren nan berkembang di media sosial tidak hanya diikuti, tetapi juga dikolaborasikan dengan tari tradisional dan dikenalkan melalui konten sanggar.

Ketua Sanggar Genta, Riski Asmyranda, mengatakan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk menarik minat anak-anak dan remaja agar tetap mau mempelajari tari tradisional.

“Cara kami untuk menarik minat anak era sekarang agar tetap belajar tari tradisional ialah dengan mengolaborasikan dengan nan viral di TikTok dan nan lainnya. Kami juga sering membikin konten alias mengunggah aktivitas seru dari sanggar,” ujar Riski saat diwawancarai pada Jumat, (18/9/2026).

Menurut Riski, perkembangan tren di media sosial menjadi salah satu tantangan dalam mempertahankan kesenian tari tradisional. Dia menyebut anak-anak mulai mengikuti beragam tren nan berkembang di TikTok, sehingga kesenian tradisional perlu dikemas dengan langkah nan lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Karena itu, Sanggar Genta mengikuti tren terbaru dan menggabungkannya dengan tari tradisional. Konten tersebut kemudian diunggah melalui media sosial sanggar agar kesenian nan mereka ajarkan tetap dapat dikenal tanpa meninggalkan perkembangan zaman.

“Kami juga sudah melakukan itu dengan mengikuti tren-tren terbaru dan di-upload ke sosial media kami sehingga kami tidak ketinggalan zaman,” katanya.

Meski mengikuti perkembangan tren, Sanggar Genta tetap mempertahankan Tari Topeng Getak sebagai konsentrasi utama. Tarian tersebut merupakan kesenian unik Pamekasan nan terus dipelajari dengan mendorong regenerasi penari.

Sanggar Genta didirikan pada 9 Desember 2015 di Pamekasan. Awalnya, sanggar tersebut terbentuk dari golongan mini siswa-siswi ekstrakurikuler tari di SMAN 1 Galis Pamekasan. Seiring waktu, Genta berkembang dari aktivitas di lingkungan sekolah menjadi organisasi seni di luar sekolah.

Nama Genta merupakan kependekan dari Generasi Tari (GenTa). Saat ini, jumlah personil aktifnya berkisar 70 orang nan terbagi dalam tiga kategori usia, ialah usia dini, remaja, hingga dewasa.

Selain tari tradisional, Sanggar Genta juga memberikan materi tari kreasi, tari modern, dan tari kontemporer. Menurut Riski, keberagaman materi tersebut membikin peserta didik mempunyai kesempatan mengenal lebih luas beragam corak tari.

Dengan memanfaatkan media sosial tanpa meninggalkan akar kesenian tradisional, Sanggar Genta berupaya membikin tari tetap dekat dengan generasi muda. Bagi mereka, mengikuti perkembangan tren menjadi salah satu langkah untuk menjaga kesenian tradisional tetap dipelajari dan diwariskan. (ina/waw)

Selengkapnya