Saat Kesuksesan Datang, Poligami Ikut Terpikirkan: Fenomena yang Masih Jadi Perdebatan

28 menit yang lalu 1

KABAR MADURA | Kesuksesan sering kali membawa perubahan dalam kehidupan seseorang. Karier nan semakin mapan, upaya nan berkembang, penghasilan nan meningkat, hingga lingkungan pergaulan nan semakin luas dapat membikin seseorang memandang kehidupan dari perspektif pandang nan berbeda.

Di tengah perubahan tersebut, ada satu kejadian nan tetap kerap menjadi bahan perbincangan, ialah ketika seorang laki-laki nan telah mencapai kesuksesan mulai mempertimbangkan poligami.

Fenomena ini tentu tidak bisa disederhanakan dengan dugaan bahwa laki-laki nan sukses pasti mau mempunyai lebih dari satu istri. Faktanya, banyak laki-laki nan sukses secara ekonomi justru tetap memilih menjalani kehidupan monogami dan membangun keluarganya berbareng satu pasangan. Artinya, kesuksesan bukan tiket otomatis menuju poligami.

Meski demikian, perubahan kondisi kehidupan seseorang memang dapat memengaruhi langkah pandangnya terhadap beragam pilihan. Ketika keahlian ekonomi meningkat, misalnya, sebagian orang merasa mempunyai lebih banyak pilihan dalam menentukan kehidupan keluarga. Namun, keputusan tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi finansial.

Lingkungan sosial, pemahaman agama, budaya, pengalaman pribadi, hingga pandangan terhadap relasi suami-istri juga dapat ikut membentuk langkah seseorang mengambil keputusan. Karena itu, ketika poligami mulai muncul dalam pikiran seorang laki-laki nan telah sukses, persoalannya sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan uang.

Dalam perspektif norma dan kajian family Islam, poligami juga tidak hanya berbincang tentang keahlian seorang laki-laki mempunyai lebih dari satu istri. Prinsip keadilan dan tanggung jawab menjadi bagian krusial dalam pembahasannya.

Di sinilah perdebatan mengenai poligami menjadi semakin menarik. Ada dugaan bahwa selama seorang laki-laki bisa secara ekonomi, maka persoalan selesai. Padahal, kehidupan rumah tangga tidak hanya dibangun dengan keahlian menyediakan kebutuhan materi.

Ada komunikasi nan kudu dijaga, emosi nan perlu dipertimbangkan, tanggung jawab terhadap anak, serta hubungan antar pihak nan kudu dikelola dengan matang. Semua itu menjadi bagian nan tidak bisa dilepaskan ketika seseorang memutuskan untuk membangun kehidupan rumah tangga dengan lebih dari satu pasangan.

Karena itu, membicarakan poligami hanya dari perspektif pandang laki-laki nan sudah sukses menjadi kurang lengkap. Di kembali keputusan tersebut, ada wanita nan menjadi istri, ada anak nan tumbuh dalam keluarga, dan ada kehidupan berbareng nan ikut terdampak.

Pada akhirnya, kesuksesan mungkin memberikan seseorang lebih banyak pilihan dalam hidup. Namun, ketika pilihan tersebut menyangkut rumah tangga, persoalannya tidak berakhir pada keahlian finansial. Ada tanggung jawab, kesiapan emosional, keadilan, serta akibat terhadap seluruh personil family nan juga perlu dipertimbangkan. (ina)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0