Produksi Garam Pamekasan Tembus 57 Ribu Ton, Harga Anjlok dari Rp6 Juta Jadi Rp1,1 Juta per Ton

58 menit yang lalu 1

KABAR MADURA | Produksi garam di Pamekasan hingga akhir September 2026 mencapai 57.390 ton. Namun, di tengah tingginya produksi tersebut, petambak tetap menghadapi tantangan penurunan nilai nan sekarang berada di kisaran Rp1,1 juta per ton.

Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan mencatat produksi tersebut berasal dari lahan garam seluas 959,7 hektare nan tersebar di Kecamatan Pademawu, Galis, dan Tlanakan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pamekasan, Abdul Fatah, mengatakan Kecamatan Pademawu menjadi salah satu penyumbang produksi terbesar dengan capaian sekitar 28.933 ton dari lahan seluas 488,7 hektare.

“Kecamatan Pademawu itu menjadi wilayah dengan produksi tertinggi, nan mencapai sekitar 28.933 ton dari luas lahan 488,7 hektar nan melibatkan 76 kelompok,” ungkapnya, Senin (26/10/2026).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 18.975 ton garam di Pademawu telah terjual, sementara stok nan tetap tersimpan disebut mencapai 10.818 ton.

Sementara di Kecamatan Galis, produksi garam tercatat mencapai 27.934 ton dari lahan seluas 458,7 hektare. Sebanyak 13.177 ton di antaranya telah terjual, sedangkan sisanya tetap tersimpan di tingkat petambak.

Adapun Kecamatan Tlanakan menghasilkan sekitar 673 ton dari lahan seluas 12,3 hektare. Seluruh produksi di wilayah tersebut dilaporkan telah terjual.

Secara keseluruhan, Fatah menyebut tetap terdapat sekitar 25.225 ton garam nan tersimpan di tingkat petambak hingga akhir September 2026.

“Kami bakal terus mengoptimalkan agar tidak ada kendala, meskipun ada bisa kami selesaikan sendiri, semoga ditahun ini, semuanya melangkah lancar dan produksi garam bisa lebih baik lagi,” tutupnya.

Di tengah capaian produksi tersebut, nilai garam menjadi tantangan tersendiri bagi petambak. Salah seorang petambak di Desa Pandan, Kecamatan Galis, Rohim, mengatakan nilai garam mengalami penurunan cukup jauh dibandingkan 2023.

“Dulu pada 2023 nilai garam bisa mencapai Rp6 juta per ton, sekarang harganya itu sekitar Rp1,1 juta per ton,” ungkap Rohim saat diwawancarai, Jumat (16/10/2026).

Rohim telah menggeluti upaya tambak garam sekitar 10 tahun. Dia mengelola tiga petak tambak seluas sekitar separuh hektare sebagai salah satu sumber penghidupan keluarganya.

Dalam sekali panen, dia bisa menghasilkan sekitar tujuh ton garam. Jika cuaca mendukung, panen bisa dilakukan hingga tiga kali dalam sebulan.

Namun, upaya tersebut juga memerlukan biaya cukup besar. Rohim menyebut kebutuhan geomembran untuk satu petak kristalisasi mencapai Rp16 juta, sewa lahan sekitar Rp6 juta per musim, serta kincir angin sekitar Rp1,5 juta per unit.

Dari tiga kali panen dalam sebulan, hasil penjualan garam diperkirakan mencapai sekitar Rp23 juta. Setelah dikurangi biaya produksi dan kebutuhan lainnya, pendapatan bersih nan diterimanya sekitar Rp16 juta.

Selain menjadi sumber pendapatan bagi petambak, upaya garam juga menyerap tenaga kerja. Saat panen, Rohim mempekerjakan penduduk untuk mengangkut, mengemas, hingga memindahkan garam ke kendaraan pengangkut.

Namun, ketika musim hujan tiba dan produksi garam berhenti, Rohim beranjak menjadi kuli gedung untuk tetap memperoleh penghasilan.

Dia berambisi pemerintah terus memberikan perhatian terhadap kesejahteraan petambak, khususnya dalam menghadapi perubahan nilai dan tingginya biaya produksi. (ina/fit/waw)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0