PPPK Sopir Ambulans Bergaji Rp500 Ribu, Bertani Jadi Penopang Hidup

1 jam yang lalu 3

KABAR MADURA | Karimullah, penduduk Dusun Barat, Desa Sopaah, Kecamatan Pademawu, tetap memilih menjalani pekerjaannya sebagai PPPK paruh waktu meski pendapatan nan diterimanya hanya Rp500 ribu per bulan.

Pria 43 tahun itu bekerja sebagai driver ambulans di salah satu puskesmas setempat. Penghasilan tersebut diakuinya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Terlebih, dia kudu menghidupi istri dan dua anaknya nan tetap duduk di bangku kelas VI dan kelas I SD.

Meski kondisi tersebut tidak mudah, Karimullah memilih tetap memperkuat dan menikmati prosesnya. Menurut dia, mencari pekerjaan lain juga bukan perkara mudah.

“Tidak ada pilihan lain. Mau kerja apa? Cari kerja juga susah,” terangnya, Rabu (30/9/2026).

Karimullah mengaku sudah bekerja sebagai tenaga honorer sejak 2017. Saat itu, pendapatan nan diterimanya hanya berkisar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per bulan.

“Jadi dulu sembari lampau ngojek di terminal dari sore hungga malam, untuk tambah-tambah,” tambahnya.

Sebelum menjadi driver ambulans, laki-laki kelahiran 1983 itu juga pernah bekerja sebagai sales kue kering. Namun, dia kemudian memilih berakhir dan mencoba peruntungan di pekerjaan lain.

“Kebetulan letak (puskesmas) dekat juga dari rumah, jadi kenapa enggak mencoba peruntungan baru. Kebetulan istri tidak mengizikan saya untuk pergi jauh-jauh,” tambahnya.

Karimullah dan keluarganya sempat merasa senang ketika namanya masuk dalam pengangkatan PPPK paruh waktu pada 2025. Pengangkatan tersebut menjadi angan baru setelah bertahun-tahun berstatus sebagai tenaga honorer.

Namun, kegusaran mulai muncul setelah mengetahui besaran penghasilan nan diterima tidak sesuai dengan ekspektasi. Kendati demikian, dia memilih tidak mengundurkan diri.

Keputusan itu juga didasari rasa kemanusiaan dan pengabdian nan sudah melekat dalam dirinya. Sebab, jauh sebelum menjadi driver ambulans di puskesmas, Karimullah pernah menjalani pekerjaan serupa di salah satu klinik.

“Selain lantaran tidak ada pilihan lain, mungkin ini sudah bagian dari panggilan hati atas dasar pengabdian, lantaran dulu sekitar tahun 2015 saya juga jadi driver ambulans di salah satu klinik,” tuturnya.

Untuk menambah pemasukan keluarga, Karimullah berbareng istrinya sekarang memilih bertani. Setiap pagi setelah salat Subuh, dia berangkat ke sawah milik mertuanya sebelum kembali untuk melakukan ketidakhadiran di puskesmas sekitar pukul 06.30 WIB.

Rutinitas tersebut tetap dijalani meski pekerjaannya sebagai driver ambulans mengharuskannya selalu siap ketika ada panggilan darurat. Bahkan saat sedang berada di sawah, dia kudu sewaktu-waktu meninggalkan pekerjaannya jika mendapat panggilan.

“Jam kerja kantornya sama seperti penuh waktu ataupun PNS. Pukul 07.00 absen, jam 2 (14.00 WIB) tidakhadir pulang. Tapi meskipun sudah pulang, HP kudu tetap on lantaran takut ada kondisi darurat tiba-tiba. Dalam kondisi itu kudu berangkat, meskipun ada di sawah,” tuturnya.

Karimullah berambisi ada kejelasan mengenai keberlanjutan pekerjaan PPPK paruh waktu ke depan. Dia juga berambisi mendapat kesempatan untuk menjadi PPPK penuh waktu alias setidaknya memperoleh peningkatan penghasilan.

“Paling tidak ada peningkatan gaji. Karena itu sumber pendapatan kami, istri sebagai ibu rumah tangga,” tegas bapak dua anak itu kepada Kabar Madura. (nur/zul)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0